ORION

ORION
Pada Akhirnya Penampilan Akan Menentukan Segalanya



Suara dari jari jemarinya yang menyentuh setiap tombol di papan keyboard terdengar semakin keras. Suara yang berisik ini tak hanya di tempat mereka, di mana Endaru sibuk bermain tapi juga di tempat-tempat yang lain. Mereka melakukan hal yang sama seperti Endaru.


Disela-sela seperti itu, tiba-tiba saja Endaru membicarakan hal yang membuat Orion tak nyaman. Yah, anggap saja perbuatan Orion yang telah menyinggung Endaru tentang 30 tahun lalu telah terbalaskan.


“Angkat tangan kalian semua!!” teriak salah seorang pria dengan mengenakan helm seraya menodongkan senjata.


Semuanya histeris. Tatkala ada perampok di tempat seperti ini. Kenapa bisa? Jelas, ini adalah Warnet Cafe. Pendapatan mereka cukup banyak karena orang-orang lebih suka nuansa seperti ini, sehingga membuat Warnet Cafe menjadi semakin sukses.


“Hei! Ada apa ini?!” teriak salah seorang pelanggan yang mengamuk.


“Pencuri?! Untuk apa mereka kemari?! Ini bukan bank!” amuk lainnya.


“Tenanglah sebentar, kita tidak tahu apakah itu senjata imitasi atau bukan. Jangan bertindak gegabah!” Kemudian disusul oleh pelanggan lain yang berusaha menenangkan mereka.


Selain Warnet Cafe sendiri, orang-orang yang suka bermain di tempat seperti itu kebanyakan memiliki dompet tebal. Itulah mengapa tempat ini menjadi incaran.


”Hei, Endaru. Kenapa tempat ini menjadi incaran para pencuri? Apa mereka sudah bosan dengan bank?” celetuk Orion dengan santai.


“Di sini banyak bank berjalan. Apalagi aku yang punya segunung harta,” sahut Endaru.


Warna kemerahan tua muncul dan menyelimuti tubuh Endaru yang tengah duduk santai sambil bermain game itu. Pencuri atau perampok yang jumlahnya bisa dihitung jari itu pun lantas bertekuk lutut di lantai.


Pengaruh kekuatan Endaru yang disengaja olehnya, ia menggunakan kekuatan itu agar para pencuri tak dapat bergerak bebas.


Ctak! Ketika ia menyentuh satu tombol pada papan keyboard sekali lagi, gerakannya berhenti dan permainan pun berakhir dengan kemenangan. Bersamaan dengan para pencuri yang ambruk tak sadarkan diri akibat tekanan Endaru.


“Aku puas sekali,” ucap Endaru dengan perasaan senang. Ia kemudian bangkit dan menghampiri para pencuri tersebut.


Melihat datangnya seorang pria menghampiri kumpulan pencuri yang tengah terbaring, sontak Endaru menjadi pusat perhatian bagi mereka. Sebagian ada yang mengenalinya, sebagian juga ada yang hanya tahu namanya saja.


Mereka bergerombol dengan berpikir betapa hebatnya Pahlawan Kota saat ini. Pujian-pujian itu dapat didengar oleh Endaru, tentu Endaru sangat senang mendengarnya. Meski ia kini sedang jaga image yang berkesan.


Melihat Endaru sedang pamer begitu, membuat Orion tak habis pikir. Ia menghela napas panjang lalu menggelengkan kepala, kemudian pergi keluar dari Warnet Cafe.


Ketika ia melangkah keluar, seseorang dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya datang menyapa.


“Orion! Aku mencarimu ke mana-mana, dan ternyata kau ada di sini. Tak aku sangka anak kecil sepertimu sudah asik dengan dunia hiburan orang dewasa, ya?” ejeknya.


Pria ini adalah Raka. Ini lagi yang membuat Orion semakin stress berkepanjangan.


“Ada apa mencariku?” tanya Orion dengan wajah kusut.


“Aku ke sini untuk meminta bantuanmu untuk menyelesaikan tugas. Sebenarnya ini tugasku tapi aku tak bisa, makanya aku memintamu untuk menggantikan aku. Tidak masalah bukan?” ujar Raka sambil memiringkan kepalanya.


“Aku sedang sakit. Tidak bisa banyak bergerak,” kata Orion mencari-cari alasan.


“Lalu kenapa kau pergi ke Warnet Cafe?” tanya Raka setengah menyindir.


“Cih, memangnya tidak ada orang lain selain aku?” Orion sekali lagi mencari alasan. Bahkan ia berdecih karena saking kesalnya ia hari ini.


“Jadi kau tak punya pilihan lain selain menggunakan aku, begitu?” ujar Orion dengan wajah yang semakin kusut.


“Ini hanya tugas biasa. Kalaupun ingin aku tolak sementara pun juga tak bisa karena klien-nya adalah seorang pejabat. Putrinya sedang kerasukan, tapi ketika dipanggilkan dukun atau lainnya, mereka semua tak ada yang bisa.”


Raka bilang tugas ini berkaitan dengan orang kesurupan. Tapi bisa-bisa para ahli yang dalam bidang itu tidak bisa melakukan apa-apa? Alasan yang cukup lucu untuk meminta Pejuang NED membereskan masalahnya.


Orion sampai tertawa hambar karena tidak percaya hal tersebut.


“Karena aku tahu kau tidak punya ponsel. Ini aku berikan alamatnya di kertas,” ucap Raka sambil menyodorkan secarik kertas berisikan sebuah alamat yang tertulis.


Setelahnya, Raka memberikan jempol tanda semangat. Lantas pergi begitu saja.


“Dasar tidak bertanggung jawab,” gerutu Orion, ia menggertakkan gigi lantas kekesalannya semakin menjadi saja.


Hari yang cerah tapi tidak membuat perasaan Orion semakin membaik. Apalagi setelah Endaru membicarakan kematiannya yang juga dirasakan.


“Darah adalah bagian tubuh kita. Tapi apa mungkin kalau setetes darah saja bisa membuat orang yang meminumnya tahu masa lalu kita?” gumam Orion seraya menengadah ke langit.


***


Masih berada dalam kota yang sama. Kota J-Karta, yang ramai akan para pekerja ataupun orang kuliahan. Di suatu jalan yang ramai akan orang yang berlalu-lalang, Orion menaiki bus di halte. Awalnya ia sempat diragukan oleh sopir bus karena dirinya masih anak-anak. Tapi tak lagi setelah ia meyakinkan bahwa ia cukup pintar dengan menunjukkan bukti secara tidak langsung.


Ia sampai ke alamat yang ditujukan. Di sebuah perumahan elite yang di mana penduduk yang tinggal di sana sangat kaya. Hal ini sudah menjadi lumrah bagi Kota J-Karta yang serba mewah setiap kali mata memandangi sekitar.


Dan lagi-lagi terjadi, karena perawakannya ia sempat dikira anak hilang. Kali ini ia ditegur oleh satpam yang bertugas menjaga depan perumahan.


“Kamu habis dari mana? Biar saya antarkan ya, dik.”


“Bukan, pak! Saya datang ke sini untuk ke rumah pejabat. Tenang, saya bukan orang yang mencurigakan ataupun sedang tersesat.”


Orion kemudian menyodorkan secarik kertas berisikan alamat tersebut. Dan benar itu mengarah ke rumah seorang pejabat.


“Kira-kira apa yang kamu ingin perbuat di rumah pejabat, nak? Dia bukan orang yang sembarangan dan bisa bertemu begitu saja. Ini akan sulit.”


“Kata-kata bapak terdengar seperti aku akan berbuat ulah. Nyatanya aku dipanggil oleh orang itu karena suatu masalah yang terjadi di rumahnya. Jadi kumohon biarkan aku masuk ke dalam,” pinta Orion dengan tatapan sendu.


Dalam benaknya, Orion berpikir, “Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan ini lalu pulang dan tidur.”


“Ya, sudah. Saya nggak bisa ngantar kamu masuk ke dalam karena harus stay di sini. Nggak masalah?” ujarnya sembari mengembalikan kertas itu.


“Iya, tidak masalah.”


Karena sudah diperbolehkan, Orion pun bergegas mempercepat langkahnya masuk ke dalam perumahan. Di sini, semua bangunan rumah terlihat sangat tinggi daripada yang biasa terlihat di umum.


Dan sekarang, menurut petunjuk, Orion sudah sampai setelah berbelok ke arah kiri di depan sana.