ORION

ORION
Lagi-lagi Jhon Datang!



Di malam yang sunyi, ketenangan yang membuatnya larut dalam mimpi. Sungguh membuat Orion sangat nyaman hingga tertidur cukup pulas.


Prang!!


Dan tiba-tiba kaca jendela kamar yang digunakan Orion pecah. Kemudian lampu yang menggantung pun ikut pecah setelahnya. Seketika mimpinya buyar dan membuat Orion terbangun dengan paksaan.


Malam yang tenang berubah menjadi kekacauan. Orang yang juga tertidur pulas juga sedang bekerja pun terkejut dan segera mencari ke asal suara.


“Ini mengerikan! Kaca jendela tiba-tiba pecah. Untung saja pecahannya tidak sampai ke tempatku tidur,” gerutu Orion.


Orion beranjak dari ranjang tidurnya, dan memeriksa di sekitar jendela dan melihat ke keluar. Nihil. Tak seorang pun ada di luar kamarnya saat ini.


“Aku tak menyangka kalau gedung ini sedikit mistis. Aku pikir hanya perasaanku saja yang merasa tidak enak dan melihat gedung ini menyeramkan,” pikir Orion.


Kemudian ia membuka jendelanya perlahan, lantas melangkah keluar seraya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan kembali apakah ada orang lain di dekat sana.


“Orion! Kau tak apa?” panggil Meera sambil menggedor pintu kamar.


Tidak ada respon, Meera membuka pintu kamar di mana Orion berada saat ini. Semula berwajah cemas karena khawatir terjadi sesuatu pada Orion, dan ternyata Orion hanya berada di luar kamarnya saja.


“Orion, kamu tak apa?” tanya Meera dan ia melangkahi jendela untuk keluar.


“Iya, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong ada apa gedung ini? Ini bukan gedung bekas kuburan atau semacamnya, 'kan?”


“Sembarangan sekali kalau bicara. Mana ada gedung bekas itu. Ini benar-benar kubangun sendiri,” jawab Meera yang kesal karena Orion berpikir bahwa gedung ini bekas kuburan.


“Lalu, apakah ini sering terjadi?” tanya Orion.


“Tidak. Ini baru pertama kalinya.”


Semua orang bergerombol datang ke kamar Orion. Mereka semua tampak cemas dengan apa yang terjadi, karena kaca jendela dan lampu di kamar Orion pecah.


“Kalau ini pertama kalinya, maka apakah itu berarti dia yang datang?”


Mendadak Orion berfirasat buruk, hatinya gelisah seiring berjalannya waktu ketika berpikir bahwa ada kemungkinan bahwa ini adalah ulah Jhon.


“Dia?”


“Jhon. Sebelum ini aku sudah bilang kalau aku pernah bertemu dengannya. Jhon sempat bertarung denganku juga. Tapi kenapa bisa sampai ke sini?” pikirnya heran.


“Biarkan aku mencari keberadaannya kalau memang dia ada di sini,” ucap Meera.


Air menggenang di bawah kaki mereka. Air yang cetek itu merata luas hingga ke seluruh sekitar bangunan tersebut. Sangat dingin, terutama karena mereka bertelanjang kaki saat ini.


“Huh, dingin sekali,” gumam Orion sambil memeluk tubuhnya.


“Tidak ada di dalam rumah. Ini aneh, orang-orangku tidak mungkin sangat ceroboh saat memeriksa ke setiap celah bangunan. Kira-kira siapa sebenarnya?”


Tatapan Meera menukik tajam, ia menengadah ke langit sebentar lalu kemudian memejamkan mata. Air yang menggenang sebelumnya sangat tenang, namun selama beberapa waktu, airnya mulai bergelojak pelan mengarah ke belakang.


“Jhon, kalaupun benar kalau dia yang datang ke sini. Untuk apa?”


“Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin ini karena diriku, yang sudah mengusik bonekanya.”


“Jangan anggap orang yang dikendalikan adalah boneka milik Jhon, Orion. Karena kita tidak tahu apakah itu karena ulah Jhon sendiri atau bukan,” sahut Meera.


“Aku mengerti. Maaf karena selalu berpikiran buruk. Yang pasti, Nona Meera berpikir bahwa hal itu karena ulah Chameleon, 'kan?”


“Ya,” singkat Nona Meera tersenyum.


“Hei, kalian! Cepatlah menuju keluar dan periksa apakah ada orang di luar. Curigai siapa pun, karena kita masih belum tahu siapa yang melakukan hal ini!” Meera memberi perintah.


Orang-orangnya pun segera melakukan apa yang dipinta Meera. Termasuk asisten Meera, yang sama-sama perempuan. Ia ikut keluar untuk memeriksa.


Klak! Setelah pagar depan dibuka, segera mereka keluar dan berpencar ke segala arah, mereka mengutamakan di sekeliling bagian luar gedung yang kemungkinan besar seseorang dapat bersembunyi.


“Tidak ada orang di sini!”


“Periksa dengan benar! Jangan sampai ceroboh!”


“Periksa juga celah-celah yang ada! Kita tidak tahu siapa yang menjadi lawan kita!”


Mereka semua berteriak, halaman luas itu seketika membuat suara itu bergaung lebih keras sekali lagi. Banyak dari mereka yang telah berulang kali memeriksa di setiap bagian luar gedung untuk memastikan tidak ada jalan baru yang dibentuk.


“Tidak ada! Semuanya nihil! Kosong!”


Kata-kata, kalimat yang selalu berarti sama. Nihil! Tiada seorang pun yang nampak dari pandangan anggota grup Raiya. Mereka semua kembali ke dalam dan melihat ekspresi Meera yang berubah.


“Nona Meera tidak apa-apa?!” tanya asistennya dengan suara lantang.


“Kalian sudah menemukan seseorang di luar?” Meera bertanya dan asisten itu justru terdiam seraya menundukkan kepala.


“Jangan membebankan dirimu sendiri. Orang ini mungkin ada tapi sulit ku jangkau. Meskipun tahu ada di mana, tapi tak bisa ku perkirakan posisinya,” gerutu Meera teramat kesal seraya menggenggam tangan sekuat tenaga hingga gelombang air bergerak lebih ganas.


Seolah mengamuk, air yang merubah sekitar gedung menjadi danau tembus ke luar.


“Tidak bisa dibiarkan! Aku akan mencarinya sendiri!”


Danau semakin surut ketika Meera bergerak pergi dari posisinya. Semua orang pun turut mencarinya.


Namun ketika Meera kembali melangkah masuk ke dalam gedung, terdengar suara hantaman yang berasal dari arah dapur. Semua pun bergegas menuju ke sana begitu pula Orion.


“Firasatku menjadi semakin buruk saja. Apakah benar dia Jhon? Tapi untuk apa? Kenapa dia melakukan keributan yang tidak ada gunanya, sedangkan dia bisa saja melawanku atau orang lainnya di sini.”


Orion berlari menyusul mereka namun apa yang terlihat saat ini hanyalah kekacauan. Sama persis di kamar Orion sebelumnya, dapur menjadi gelap dan sangat berantakan dengan beberapa barang yang hancur termasuk lampu penerangan.


“Hei, Orion. Katakanlah bahwa Jhon memang melakukan hal ini?” Meera bertanya.


“Tidak. Jhon tidak melakukan hal yang membuang tenaganya seperti ini.” Orion menyangkal.


Ia berpikir bahwa ini karena Jhon tapi di sisi lain ini tidak sesuai perkiraan Orion. Kekuatan Jhon adalah api dan bayangan. Di dapur tidak ada jejak api sama sekali.


“Bagaimana dengan bayangannya? Apa dia juga mampu membuat barang menghilang?” pikir Orion masuk akal. Tapi masih sulit dipercaya.


Ia masuk ke area dapur dan melihat ke sekeliling. Apa yang ia lihat bukanlah hasil kekacauan yang dibuat oleh seseorang melainkan melihat bayangan yang dimiliki setiap barang-barang yang ada di sana.


“Apa yang kamu lakukan, Orion? Tidak ada orang di sini!”


“Bayangan itu mampu melenyapkan kekuatanku, lalu apakah barang-barang juga? Saat ini masih menjadi pertanyaan bagiku, tapi aku akan coba memeriksa setiap bayangan di sini, karena mungkin dia sedang bersembunyi.”


Yang barusan Orion katakan, seketika Meera tersadar apa maksudnya. Yakni, ada kemungkinan besar bahwa Jhon tengah bersembunyi dalam bayangan.


“Kamu tidak pernah mengatakan itu sebelumnya. Tapi apa mungkin?”


“Oh, pasti aku melupakannya. Dan yang telah kulihat tentang Jhon adalah fakta!”