ORION

ORION
3 Sahabat



“Apa yang kau lakukan pada dokter-dokter di sini?” Gista bertanya pada sosok pria yang berdiri sembari menemani seorang anak perempuan di sampingnya.


***


Pria itu dikenal dengan nama Notosuma, biasa dipanggil Oto oleh Gista dan kenalan dekatnya yang lain.


Pria ini sebagai jalan penghubung bagi Orion dan Gista. Sekitar 29 tahun yang lalu.


Pria berambut tipis berwarna hitam, mata yang sipit terkadang terlihat seolah ia memejamkan mata. Notosuma, terduduk di salah satu kursi favoritnya dalam ruangan khusus, menjahit.


“Orion, aku menemukan penjahat yang selama ini berulah. Para polisi memburunya tapi hasilnya mereka yang terbunuh. Lucu bukan?” ujar Notosuma seraya menunjukkan selembar foto seorang pria asing.


“Lalu kenapa?” Orion tak peduli, ia memilih abai dan tetap setengah berbaring di lantai.


“Gista ingin membentuk organisasi di bawah Presdir bukan? Kalau bukan organisasi berkekuatan super, lalu siapa yang akan menanganinya? Kita juga harus membantu.”


“Persetan dengan itu.”


“Ayolah, Orion. Kau 'kan kuat?”


“Kuat apanya kalau ujung-ujungnya aku pernah mati saat baru saja menikah. Istriku terkejut ketika aku pulang tahu!” pekik Orion.


“Ha, itu urusan lama. Sekarang kita berada di area yang berbeda. Maksudku dunia NED. Di mana semua orang mati akan bangkit lagi dengan satu kekuatan yang mereka miliki.”


“Kau juga mati dan tak keberatan mati lagi hanya untuk menangkap penjahat ini? Dia pasti berkekuatan juga,” ujar Orion.


“Masih saja banyak alasan. Hei, Orion. Kita hidup kembali pasti punya alasan, setidaknya ini adalah hal yang perlu kita lakukan.”


“Ah, lelah. Aku ingin mati saja. Sudah ah, aku pergi, Oto.” Inilah sosok asli Orion, pria pemalas di dunia namun otaknya sungguh encer karena bisa duduk di kursi direktur di usia mudanya.


“Jangan berkata begitu. Katamu kau ingin mati?”


“Karena itu aku berulang kali bilang—”


Notosuma menarik lengan Orion ke belakang, lantas Orion tercekat diam dengan menatap heran kepadanya.


“Apa?”


“Makanya, matilah dengan berguna.”


Seperti kesepakatan yang menarik.


“Oh iya. Kau 'kan sudah berkeluarga. Tapi yakin? Kau ingin mati tapi malah menikah. Lucu juga.”


“Ini pernikahan bisnis. Keluarga istriku yang memintanya,” ucap Orion.


“Oh, begitu. Kalau begitu kau tidak keberatan jika kekayaanmu diambil alih?”


“Aku malas dengan benda-benda mati. Sudahlah, aku malas memperdebatkannya denganmu. Aku pergi,” keluh Orion seraya menepis tangannya dan berlalu pergi.


Namun sebelum Orion benar-benar pergi dan baru saja ia memegang gagang pintu ruangan tuk keluar, lagi-lagi Notosuma menahannya. Ia menatap Orion dengan senyum tersungging.


“Apa, Oto?”


“Kematianmu akan berguna karena kau memiliki darah langka. Sayang sekali kau tidak menggunakannya untuk Nona besar itu.”


BRAK!!


Pintu terbuka dan arahnya ke dalam, sehingga Orion dan Notosuma yang berada dekat dengan pintu pun terkejut sampai terdorong mundur akibat pintu yang dibuka dengan kencang itu.


“Kalian berdua lagi-lagi membicarakan hal yang gila ya?” sahut Gista.


Ternyata Gista. Wanita garang yang sebentar lagi akan bertunangan.


“Uwaw, Nona besar mau pergi ke mana? Pakaianmu cantik sekali hari ini. Oh ya, bertunangan ya? Haha!” kata Notosuma, nampaknya ia berniat menyindir bukan bertanya. Lantas Notosuma tertawa bahak-bahak.


“Ck, ruangan ini sama sekali tidak berubah. Aku bosan melihat ruang jahit yang terkesan menyeramkan ini,” gerutu Gista.


“Daripada itu, Gista. Katamu kau ingin mendirikan organisasi berkekuatan super 'kan? Kalau begitu misi utama kita adalah mengalahkan orang ini.” Notosuma memperlihatkan foto seorang pria yang sama lagi.


“Oto, dia sama sekali bukan orangnya. Kau tahu dia bisa menjelma jadi apa saja.”


“Aku tahu. Tapi, aku ingin segera menangkapnya juga. Sebelum era yang kacau dibuka olehnya,” ucap Notosuma.


“Maksudmu?”


“Buku legenda mengatakan; "Kekuatan absoult akan digunakan sembarangan. Akan lahir di dunia ini dan harus segera dimusnahkan." Begitu katanya,” ujar Notosuma.


“Lagi-lagi kau membaca buku yang aneh. Tetapi, Presdir juga langsung memintaku untuk mengurus hal itu.”


“Aha! Sungguh hebat, Nona Besar!” ucap Notosuma memuji seraya memutar tubuhnya seolah tengah berdansa.


“Oto! Kau jangan mempermainkan banyak nyawa Pejuang NED!” teriak Orion.


“Lah, kau sendiri bukannya berniat bunuh diri? Hei, si maniak bunuh diri?” sindir Notosuma seraya berkedip sebelah mata.


“Hei, Gista! Jangan dengarkan dia! Orang yang kau incar itu tidak ada tandingannya bahkan kau yang memiliki kekuatan tertinggi saat ini,” celoteh Orion.


“Kau juga jangan sembarangan bicara soal nyawa. Kau tak berhak mengatakannya karena keinginanmu bertentangan dengan itu,” balas Gista dengan sorot mata mengintimidasi.


“Ugh! Terserah!”


“Tetapi Orion, lalu Gista, aku memiliki sesuatu. Maksudku Api Abadi,” ungkap Notosuma seraya membuka sedikit kedua matanya yang sipit.


Orion dan Gista spontan terdiam dengan mata terbelalak menatap Notosuma. Nampaknya berbicara serius tetapi ekspresi Notosuma setelah beberapa saat terlihat tidak meyakinkan. Ia terkikik sembari membuka lembaran buku yang barusan diambilnya dari bawah kursi.


“Bagaimana aku bisa percaya kalau kau tak serius begitu?”


“Ini nyata! Api Abadi ada di suatu tempat dan butuh waktu lama untuk ditemukan. Api Abadi akan mengalahkan kekuatan absoult yang dimiliki oleh target kita bertiga.”


Barulah kedua orang itu mengerti maksud Notosuma. Tetapi, memang seperti inilah Notosuma. Sehabis menjelaskan pasti ekspresinya terlihat girang seolah kalimat yang barusan ia utarakan hanyalah candaan belaka.


“Apa spesialnya dengan itu?


“Api yang tidak bisa padam. Ini akan terus menggerus tubuh si pemilik kekuatan absoult di luar nalar. Kau mau?”


Keduanya terdiam. Situasi mendadak hening.


“Gista yang membentuk perkumpulan anggota NED untuk menyudutkannya, dan aku yang akan menemukan Pejuang NED yang berpotensi agar mereka mau bergabung. Lalu kau akan berperan sebagai agen ganda, bagaimana?” Notosuma menawari.


“Aku bisa saja. Tapi bagaimana dengan Orion?” tanya Gista.


“Selama aku bisa mati?” sahut Orion bersemangat.


“Ya. Dengarkan. Aku akan menghilangkan sebagai ingatanmu lalu menanamkan ingatan yang baru; bertemu dengan pria yang ada di foto dan memperkuat keinginanmu untuk bunuh diri.” Notosuma menjelaskan.


“Kau bisa melakukan itu?” tanya Orion tak percaya.


“Tentu saja. Kau pikir aku ini lemah?”


“Lemah berdasarkan kekuatan fisik,” ucap Orion dan Gista secara bersamaan.


Mendengar faktanya langsung telah membuat Notosuma seakan tertusuk oleh tombak harga diri.


“Baiklah. Aku akui itu.“


“Lalu bagaimana jika itu tidak berhasil?”


“Baiklah! Segera lakukan itu padaku!”


“Sabarlah dulu. Dengarkan kelanjutannya. Ini tak hanya membuatmu digiring tanpa sadar menuju pria ini melainkan juga merasakan dari auranya, bahwa pria inilah yang menjadi tujuanmu.”


Notosuma sejenak menghela napas pendek. Kembali melanjutkan, “Demi mencegah sesuatu yang buruk terjadi, aku akan memeras darah langkamu sampai kau menjadi anak kecil.”


“Tapi itu akan aku lakukan setelah ingatanmu diganti lalu bertemu dengannya dengan niat untuk dibunuh olehnya. Saat itu aku akan pastikan bahwa dia benar-benar membunuhmu dan membuatmu mengecil karena darah yang terkuras cukup banyak.”


“Dengan begitu aku akan mati sesuai kenyataan?” ujar Orion semakin bersemangat.


“Tergantung,” katanya seraya berpaling wajah.


“Br*ngs*k!” Kesal, Orion mencengkram kerah pakaiannya.


“Tenang. Mulai dari sana peranmu akan berakhir sebentar, dan untukku aku akan membuat pria itu terus teringat soal Orion.”


“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Gista.


“Pria ini lebih licik dari yang aku duga tahu. Maka dari itu, butuh perencanaan besar untuk menangkapnya,” ungkap Notosuma.


Pria itu kemudian sekali lagi berkata, “Kita buat dia ketakutan atau membuatnya memanfaatkan kekuatan Orion yang akan dimiliki di masa mendatang. Api Abadi.”


“Hah? Maksudmu peranku belum berakhir ketika aku sudah mati terbunuh?” Sontak saja Orion terkejut.


“Ya, begitulah. Karena kau sulit mati makanya aku sengaja membuat skenario seperti ini. Ingat saja hal ini, Orion akan mati terbunuh oleh pria ini entah itu kapan lalu kita menunggu kebangkitan Orion sekali lagi dalam wujud anak kecil guna memperoleh Api Abadi.”


“Bagaimana rencanamu yang memakan banyak waktu hanya untuk memancing musuh dengan Api Abadi? Lagipula Api Abadi hanya ada di buku.” Tampaknya Gista mulai meragu dengan rencana ini.


“Makanya diam dan dengarkan dulu. Aku yang paling tahu bagaimana sifat pria ini. Dia itu tidak peduli dengan banyak orang kecuali yang kuat dan menarik. Khususnya para Pejuang NED.”


Orion dan Gista kembali menyimak semua ucapan Notosuma yang akhirnya serius lagi. Wajah Notosuma terkadang sulit dipercaya jadi sulit pula menentukan kapan ia serius dan kapan ia sedang bercanda.


Namun kini tak diragukan lagi bahwa Notosuma sedang berbicara serius.


“Ini memang memakan banyak waktu. Misi tetaplah misi, karena kita semua tak ingin kehilangan sesuatu karena pria kurang ajar ini.”


Brakk!


Sama seperti kebanyakan orang, Notosuma pun sama kesalnya sampai menggebrak foto sekaligus meja di dekatnya.


“Jadi karena itulah aku mengusulkan, dengan adanya Api Abadi dalam tubuh Orion. Orion akan kubuat dia menjadi agen ganda, pertama saat kebangkitan kau akan bertemu dengannya lebih dulu,” pinta Notosuma seraya menunjuk Gista.


“Lalu, buat Orion yang tidak tahu apa-apa harus bekerja di bawah organisasi kita yang akan terbentuk. Kemudian, pria yang telah aku buat ingatannya terus berputar mengenai Orion, akan mengincar Orion cepat atau lambat,” imbuhnya, lalu kembali duduk dengan tenang.


“Oh, aku mulai mengerti,” kata Orion.


“Sama,” lanjut Gista seraya menganggukkan kepala.


“Rencana penghancuran kekuatan absoult, akan dimulai setelah Orion menjadi rekan dari pria ini,” tutup Notosuma.


Rencana yang bercabang, membuat perhitungan. Waktu yang dibutuhkan sangatlah lama, namun ini sepadan apabila misi yang telah lama mereka bertiga buat sendiri itu selesai.


“Apa kau berencana bermain trik?”


“Seperti itulah karena di hadapan kekuatan luar biasa ini, takkan mungkin bisa berbuat adil.”


“Kau akan mencari Api Abadinya?”


“Akan kuusahakan.”


“Hei, jangan bercanda! Anggap ini serius, nyawamu juga dipertaruhkan!” amuk Orion seraya mengguncang tubuh Notosuma.


“Lalu, Oto. Jika rencana ini gagal dan terbaca oleh musuh, bagaimana? Aku berpikir begini karena merasa musuh takkan sendirian,” ungkap Gista mengenai kecemasannya sejak awal.


“Ya, anggap dia memiliki banyak rekan tapi target kita hanyalah satu. Cukup penggal kepala utama maka ekornya akan terbuang di pinggir jalan,” ujar Notosuma.


“Ha, cara bicaramu makin sulit.”


“Sudah, jangan cemaskan tentang itu. Aku tahu ini akan berjalan meskipun akan memakan banyak waktu. Kalian tetap menyetujuinya bukan?”


“Karena darah langka, aku jadi kesulitan untuk bunuh diri. Dibunuh pun pasti akan membuatku bangkit kembali. Tapi ini hanya demi mencegah malapetaka yang akan datang bukan?” Orion angkat bicara dengan suara yang tenang.


“Aku setuju,” lanjutnya.


“Ya, aku sejak awal sudah menyetujuinya.”


Pemilik Darah Langka, itulah sebutan bagi Pejuang NED yang sulit mati dan dianggap abadi. Banyak orang mengincarnya karena darah mereka dapat membangkitkan mereka yang telah lama mati. Kekuatan yang sama luar biasanya dengan kekuatan absoult yang baru saja dibicarakan.


Namun, era pria itu akan berakhir di tangan mereka bertiga. Lalu bersama rekan-rekan lainnya.


Sesuai rencana, mereka mempergunakan Orion tanpa Orion sendiri sadari, meski Orion menyetujuinya namun ingatan saat bangkit kembali masih tetap sama setelah rencana telah dimulai. Orion akan memiliki pemikiran yang jauh berbeda meski tertanam pemikiran bunuh diri yang jauh lebih kuat.


Hal yang diluar dugaan telah terjadi, yakni mengenai pria yang membunuh Orion bukanlah si target melainkan sosok pria yang memiliki jiwa yang sama dari target itu sendiri. Meski agak melenceng, namun secara ajaib, rencana terus berjalan lancar.


Hingga ke tahap berikutnya yang di mana Orion telah berpihak di kelompok Chameleon dengan maksud membunuhnya. Dan Chameleon adalah target yang sebenarnya, serta saat itulah Orion dan lainnya mulai sadar bahwa Chameleon dan pembunuh Orion di masa lalu adalah satu orang yang sama.


***


Kembali pada masa sekarang. Sebelum kedatangan Gista ke rumah penginapan.


Notosuma bersama Madeira telah masuk ke rumah penginapan secara paksa guna bertemu dengan Ketua Meera yang saat ini tengah terbaring pulas dengan ditemani oleh bawahannya.


“Seharusnya Anda mengetuk pintu dan tidak seperti ini,” protesnya terkait Notosuma yang menyerang Dr. Eka dan satu lainnya lagi sampai jatuh pingsan.


“Lupakan itu, bangunkan dia. Panggil namanya,” pinta Notosuma.


“Apa kak Meera sudah sembuh?” tanya Ade.


“Iya, tentu saja. Ketua Meera akan secepatnya sembuh berkat pengobatanku.”


Setelah beberapa saat akhirnya Ketua Meera terbangun. Dalam kondisi sadar sepenuhnya, nampak ia sedikit bingung dengan situasi yang terjadi.


“Salam kenal, Raiya Meera. Ini kali pertama kita bertemu secara tatap langsung, bukan? Perkenalkan saya Notosuma.”


Ketua Meera terhenyak sejenak, ia masih kebingungan namun nampaknya sadar bahwa sosok pria ini dulu pernah diceritakan sedikit oleh Gista.


“Ah, ternyata Anda, Tuan Notosuma?”


“Ya. Saya di sini ingin meminta bantuan pada Anda. Bolehkah? Lagipula tubuh Anda sudah baik-baik saja berkat saya, haha,” kata Notosuma.


“Jika boleh tahu, apa itu?”


“Tolong kumpulkan potongan tubuh Orion di laut perbatasan,” pinta Notosuma sembari tersenyum lebar.


Lalu, Gista dan lainnya akhirnya datang kembali ke rumah penginapan di kota.


“Apa yang kau lakukan pada dokter-dokter berharga ini?” tanya Gista dengan nada rendah. Darahnya masih mengucur deras di bagian lengan dan kepalanya meski sudah dibalut sementara dengan sehelai kain.


“Maaf, kupikir mereka musuh, haha. Lalu apa yang terjadi pada kalian semua?” ujar Notosuma balik bertanya.


“Terluka, sudah jelas.”


“Misi?” bisik Notosuma langsung.


“Sukses,” singkat Gista.