ORION

ORION
Hari ini Musuh, Esoknya Berkawan



Seseorang mengetuk pintu ruangan, segera ia masuk setelah Gista mempersilahkan. Seorang pria dengan bando di kepalanya datang untuk memberitahukan sesuatu.


“Saya mendapatkan pesan dari Pahlawan Kota, Endaru untuk Orion Sadawira. Katanya, dia ingin bertemu.”


***


Pahlawan Kota, Endaru baru saja mengirim sebuah pesan untuk Orion agar bertemu. Gista tidak berkomentar apa pun, ia hanya diam seolah-olah tak memperdulikan hal itu. Lain halnya dengan Orion sendiri dan Mahanta, mereka tak tahu apa yang sebenarnya Gista pikirkan.


Kecuali satu hal pasti, Gista menyembunyikan sesuatu.


“Aku yakin kamar yang digunakan Pahlawan Kota rusak. Apa itu tidak masalah?” tanya Orion seraya mengenakan pakaiannya.


Gista sedang berbalik badan ke arah lain lantas menjawab, “Itu sudah diurus. Lain kali berhati-hatilah, tanggapan orang mengenai kekuatan itu tidak selalu baik.” Gista memperingatkan diri Orion.


“Baiklah, maafkan aku dan ...terima kasih,” ucap Orion.


Sepatu yang ia kenakan selalu berbeda setiap harinya, Orion merasa bersalah karena selalu saja membakarnya. Apalagi setelan kemeja yang kemarin pula ikut terbakar. Sembari memasang sepatunya, ia melirik ke arah Gista.


“Maaf atas pakaian dan sepatunya. Lain kali aku takkan menggunakannya begitu lagi,” ucap Orion.


Gista tidak menjawab. Orion pun bergegas pergi dengan sedikit menyisakan tanya pada Gista yang sedang duduk memandangi arah luar dari jendela.


“Orion, aku melupakan satu hal. Bersikaplah seperti biasanya, karena hanya aku dan Mahanta saja yang tahu tentang dirimu,” pinta Gista tanpa menoleh ke hadapannya.


Klak! Orion menutup pintu setelah mendengar Gista berbicara. Setelah keluar dari ruangannya, ia mendapati Mahanta tengah berdiri di depan pintu.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Orion padanya.


“Hanya khawatir saja, karena kau kemarin terluka cukup parah. Dan kudengar Pahlawan Kota memanggilmu karena ingin bertemu, apakah tak apa? Takutnya nanti terjadi sesuatu yang buruk lagi,” pikir Mahanta.


Terlihat jelas bahwa Mahanta sangat cemas pada Orion. Mau bagaimanapun Orion aslinya, Mahanta adalah orang yang tak pernah berubah sejak awal. Melihat itu, Orion merasa lega.


“Aku baik-baik saja. Daripada itu, semua lukaku membutuhkan angin segar,” jawab Orion sambil tersenyum lalu memijat bahunya sebentar.


“Syukurlah kalau begitu. Kalaupun memang kau memutuskan untuk kembali bertemu dengannya, maka aku tak melarangnya. Silahkan, dia menunggu di alun-alun,” ujar Mahanta mempersilahkan Orion pergi.


Tentunya, ia tetap cemas meski senyumnya tersungging begitu jelas. Orion hanya menganggukkan kepala lalu pergi meninggalkan.


Sudah dua hari ia tertidur lelap dan kini tak menyangka akan langsung pergi begitu Pahlawan Kota memanggilnya. Sebenarnya, Orion tidak sudi ke sana bahkan hanya untuk sebentar namun jawaban dari pertanyaannya saat itu belumlah terjawab, sehingga membuat Orion penasaran.


Alasan mengapa Orion tidak menanyakan, apakah Pahlawan Kota memiliki darah yang langka atau tidak kepada Gista, ialah karena wanita itu tidak bisa dipercaya sepenuhnya.


Karena itulah, Orion merasa harus menanyakan sendiri pada orangnya. Kalau benar, maka Orion dapat memastikan apa penyebab tubuhnya menyusut seperti ini.


“Aku yakin ini bukan karena efek NED. Dan hanya darah yang seringkali dibicarakan itulah yang membuatku curiga,” gumam Orion.


Sesampainya ia berada di alun-alun kota. Seperti biasa, ia enggan menaiki kendaraan untuk sampai ke sana. Ia hanya menggunakan kedua kaki untuk berjalan ataupun berlari. Napasnya terengah-engah, kemudian ia duduk bersandar di sebatang pohon agar penatnya menghilang.


“Kira-kira ada di mana, dia?”


Ketika Orion sibuk mencari dengan kedua matanya, suara gemerisik disusul kerikil kecil yang jatuh ke bawah membuatnya terkejut.


Gubrak! Setelahnya bukan benda yang terjatuh melainkan seorang manusia. Tak menyangka ada seseorang yang tengah bersembunyi di balik dahan pohon di atas sana.


Seorang pria dengan pakaian serba hitam, ia mendarat sempurna dengan kedua kakinya. Ia kemudian merenggangkan lengannya yang sedikit kaku lantas menoleh ke arah Orion yang berada di sampingnya.


“Oh, kau sudah datang. Bocah tua,” ucap Endaru dengan wajah dan suara yang datar.


“Jangan panggil aku bocah tua. Mentang-mentang kau mengetahui siapa aku,” ketus Orion.


“Maaf saja. Aku memang tidak pandai memuji,” ucap Endaru sambil merenggangkan lengannya lagi.


Endaru selalu mengenakan pakaian hitam-hitam. Baik dari celana, baju atasan, jas ataupun sepatu dan sarung tangan yang biasa digunakan. Melihatnya membuat Orion merasa panas, padahal Orion tidak mengenakan pakaian seperti itu.


“Apa kau tidak merasa panas?” tanya Orion dengan mata sepat mengherankan.


“Sejujurnya iya. Tapi aku harus memakainya karena takut kekuatanku tidak dapat dikendalikan. Ini sangat sulit, kau mungkin tidak tahu rasanya tapi ini ...benar-benar sulit dikendalikan,” jelas Endaru lalu duduk bersebelahan dengan Orion sambil meluruskan kedua kakinya.


“Daripada merasakan kekuatanmu itu, memang akan lebih sulit saat merasakannya sendiri. Aku juga begitu. Lihat?” ujar Orion sambil menyodorkan lengannya yang diperban.


“Aku baru mengingatnya. Kemarin kau sempat telanjang bulat saat melawanku, pasti karena api yang membakarnya, ya?” pikirnya dengan niat mengejek lalu tertawa geli.


Melihat ekspresi yang dikeluarkan anak muda satu ini, seketika membuat Orion tersentak kaget. Tak menyangka bahwa Endaru bisa tertawa begitu bebas. Padahal saat kali pertama mereka bertemu, kesan Orion padanya sangatlah dingin.


“Endaru yang tidak bisa diajak bicara, ternyata bisa juga mengobrol begini dengan orang tua sepertiku? Dasar bocah labil,” sindir Orion.


“Aku juga tidak menyangka bisa bicara dengan orang tua yang bertubuh mungil,” ucap Endaru menyindirnya balik dengan sinis.


Semua sifat dan sikapnya berbanding terbalik dari sebelumnya. Mungkin inilah yang seringkali disebut, "Hari ini musuh dan esok hari adalah kawan."


“Beruntung kau masih hidup, Endaru ...” gumam Orion.


“Ya, itu berkat kau,” kata Endaru yang mendengar gumaman Orion saat ini.


Angin berembus lebih kencang hari ini. Suasana di alun-alun kota yang terasa sepi, dengan duduk di bawah pohon yang rindang membuat mereka sedikit berhalusinasi.


Tanpa sadar, mereka berdua memikirkan hal sama. Tentang yang terjadi sebelumnya di antara mereka.


“Aku baru ingat, kau sebelumnya bertanya apakah aku memiliki darah yang sama sepertimu? Tapi kenyataannya tidak, aku tidak memiliki darah seperti itu,” tutur Endaru.


Sontak, Orion terkejut. Pupus sudah harapannya ia datang kemari dan mendapatkan jawaban dari Endaru yang tak sesuai dengan harapannya. Kecewa namun tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Selain ...


“Melihatmu masih hidup, itu artinya aku benar-benar memiliki darah yang langka itu, ya?”


Endaru menggangguk lantas berkata, “Ya. Hanya kau yang memilikinya dan berkat itu aku masih hidup. Aku jadi takut, kalau betulan mati lagi. Ha ...” Endaru menghela napas.