
Terdapat beberapa kendaraan beroda empat diparkirkan di pinggir alun-alun kota. Yang tidak lain kebanyakan adalah kendaraan para anggota Arutala.
Mahanta mengantarkan mereka ke alun-alun karena memang kendaraannya juga diparkirkan di tempat ini.
“Apa orang itu adalah anggota Caraka?” tanya Mahanta dengan curiga.
“Iya, begitulah.”
Brak! Setelah Dr. Eka dimasukkan dalam bagasi, seseorang membanting tutup pintunya dengan keras.
“Ngomong-ngomong, aku sangat bersyukur bahwa Orion baik-baik saja. Bahkan setelah dilempar jauh waktu itu,” ujar Mahanta dengan senyum tersungging.
“Oh ini. Karena orang yang sebelumnya dimasukkan dalam bagasi. Dia tipe monster penyembuh gila,” jelas Orion membuat Mahanta tercengang memanggilnya.
“Mahanta, bawa orang yang tadi ke ruangan bawah tanah tempat kita. Dia adalah satu-satunya orang yang mungkin mengetahui keberadaan musuh,” ujar Gista. Kemudian Mahanta menganggukkan kepala.
“Ah, iya satu lagi. Aku melupakan satu orang yang tertinggal di halaman rumah sakit, apa kau bisa membawanya ke rumah?” tanya Gista.
“Tentu saja bisa, Nona Gista. Saya akan membawa orang yang ada di halaman rumah sakit, eh? Tapi Nona Gista, siapa dan apa yang telah terjadi padanya?” Tiba-tiba ia merasa ada yang janggal dengan permintaan Gista.
“Tenang saja dia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Sebab seluruh tubuhnya membeku, pastikan bawa dia sampai ke rumah sebelum meleleh nanti,” ujar Gista kembali memperingatkan.
“Baik, saya akan sampaikan ini pada yang lain.”
Mahanta kemudian berbalik badan dan pergi. Sisa orang yang di sana hanyalah asisten Ketua Meera saja. Wanita dengan kedua mata yang bisa melihat dalam kegelapan, ia tetap di luar menikmati embusan angin di alun-alun kota yang nampak sepi.
Di mana keberadaan Endaru? Ia sudah lebih dulu pamit undur diri begitu Mahanta datang.
“Mahanta itu, pria yang sangat tangguh, ya. Apa mungkin dia bertarung tanpa luka seperti itu?” ujar Orion yang sejujurnya ragu karena Mahanta datang tanpa luka sedikitpun.
“Kau terlalu mengkhawatirkan dirinya. Serangan orang yang kau bicarakan itu bukan apa-apa.”
Orion hanya bisa tertawa hambar setelah mendengar nada sombong begitu. Memang benar, Gista dan Mahanta itu tergolong kuat bahkan untuk Gista, melawan rekan Chameleon saja ia tidak pernah tergores sedikit pun. Meski Caraka menggunakan kekuatan penuh.
Namun, entah dengan Gista sendiri. Apakah sebelumnya ia menggunakan kekuatan penuh? Tapi, Orion berpikir bahwa Gista mungkin lebih kuat dari yang ia bayangkan.
“Ah! Kau! Anak itu, ya!” teriak seorang pria dari kejauhan.
Hery kembali berulah lagi. Ia datang-datang sudah marah pada Orion tanpa jeda sekalipun.
“Kau pasti anak yang dibicarakan Gista! Anggota terlemah! Terpayah!” cerca Hery habis-habisan.
“Lalu, kau! Kenapa merekrut anak-anak untuk dijadikan pertarung? Bukankah kau biasanya hanya membuat mereka sekolah kembali tanpa berurusan dengan hal-hal seperti ini?” pikir Hery seraya menatap jengkel pada Gista.
“Anak ini ...”
“Apa? Kau mau membelanya?!” pekik Hery memotong kalimat Gista.
“Karena anak ini adalah anak gelapku,” ucap Gista.
Setelah beberapa saat, mereka yang ada di sekitar yang turut mendengarnya pun terkejut. Terutama Hery dan Orion, seketika mulut mereka menganga lebar tak percaya.
“Hah? Apa?”
Gista memalingkan wajah lalu berbalik badan dan pergi masuk ke dalam mobil.
***
Gista, Hery, Orion serta asisten Ketua Meera berada dalam satu mobil dengan kecanggungan. Tak satu pun dari mereka berbicara, hanya saja Hery selalu menghentak-hentakkan kaki kanannya seraya menatap Orion dengan tajam.
“Katakan, apa kau benar anak gelap Gista? Wanita yang ada di sampingmu saat ini,” tanya Hery.
“Lalu, kenapa kau menyembunyikan hal ini? Ah, tunggu ...tunggu, siapa ayahnya?” Hery mengganti pertanyaannya.
“Orion. Orion Sadawira,” jawab Gista seraya memalingkan wajah.
“Hei, coba tatap aku! Kalau kau benar-benar memiliki anak gelap, kenapa aku baru tahu?!” amuknya makin mengganas.
“Ukh ...ya, pokoknya begitu,” gerutu Gista tak mau menoleh ke arahnya.
“Kenapa aku dijadikan sebagai anak sekaligus suaminya? Wanita ini benar-benar,” batin Orion ikut kesal sendiri.
***
Kecanggungan di antara mereka pun semakin berlanjut. Namun Hery akhirnya berhasil terusir, dan sekarang Orion berhadapan dengan Gista di ruang kerja bersama Mahanta.
“Apa yang kau inginkan, Orion?” tanya Gista dengan santai.
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Kenapa kau berbohong mengenai diriku? Memangnya kau ada masalah apa dengannya?” tanya Orion blak-blakkan.
Mahanta tertegun saat mendengar cara Orion berbicara pada Gista berubah drastis dari yang sebelumnya.
“Dia itu tunanganku. Hery Arutala, putra Presdir yang membantu mengangkat Organisasi besar ini dengan perusahaan miliknya,” jawab Gista. Ia benar-benar mengatakannya semudah itu.
Tidak seperti saat, pembicaraan mengarah ke masa lalu. Yang lebih tepatnya 30 tahun yang lalu.
“Kalau dia tunanganmu. Tapi melihatmu bicara seperti itu, aku jadi berpikir bahwa kau tidak suka dengannya?” celetuk Orion.
“Ya, itu benar. Maafkan aku yang melibatkanmu. Tapi kalau tidak begini, aku akan semakin kesusahan.”
“Maksudmu?”
“Presdir adalah orang yang sudah kuanggap sebagai Ayah kandungku sendiri. Beliau merawatku dari kecil hingga dewasa, sempat dia menahan mayatku yang masih remaja itu hingga setelah beberapa jam aku kembali bangkit,” tutur Gista bercerita.
“Beliau juga membuat kami bertunangan meski tidak ada rasa saling suka. Ah ...hanya Hery saja yang suka padaku, aku tidak,” kata Gista seraya menekan dagunya dengan ibu jari.
“Jadi kau membuat rencana ini agar terlepas dari status itu? Tapi bukan berarti kau bisa memanfaatkanku sepuasmu, ingat, aku ini orang tua tulen yang suka berleha-leha.”
Orion mendesah lelah seraya mengangkat bahu. Tatapannya merajuk kesal kemudian memalingkan wajah.
“Gajimu 2x lipat,” ucap Gista seraya menyangga dagunya.
“Oke, lakukan sepuasmu,” jawab Orion enggan menolak penawarannya.
Tap! Tap!
Orion berbalik badan dan melangkah pergi menuju pintu, namun ia teringat sesuatu yang lain sehingga ia kembali menghampiri Gista.
“Apa aku boleh tahu tentang yang terjadi 30 tahun yang lalu?”
Orion nekat bertanya yang membuat perasaan Gista semakin kesal. Raut wajah kesalnya saat ini mungkin tidak terlalu ditunjukkan, tapi Orion tetap tahu bahwa Gista tengah menahan emosi.
“Bukankah Pahlawan Kota tahu? Dia mati dan hidup kembali itu tak jauh dari 30 tahun yang lalu,” balas Gista.
“Endaru hanya mengingatnya dengan samar-samar,” ujar Orion.
“Hm, lalu apa saja yang telah kau ketahui tentang 30 tahun yang lalu darinya?” tanya Gista dengan mata menyempit.
“Hanya, insiden yang seperti kiamat. Kedatangan Grup Chameleon yang membuatmu kesusahan, itu saja,” kata Orion sembari tersenyum.
Namun, Orion menyembunyikan suatu hal. Yang di mana Endaru pernah berkata bahwa Gista telah membunuh orang tua Endaru. Orion sengaja tidak mengatakan hal ini, agar Gista tidak merasa sungkan menceritakan kejadian yang terjadi 30 tahun yang lalu.