
Hari sudah berganti. Musim panas datang. Panas yang luar biasa dapat dirasakan terutama saat matahari meninggi.
Pembicaraan antaran Orion dengan Janu Irawan, mengenai Api Abadi. Sekilas ia mengerti sesuatu yang lebih. Konon katanya Api Abadi ditakuti, terbilang sangat sulit dikalahkan bahkan untuk Chameleon.
Hal ini benar-benar di luar dugaan Orion. Maka Orion pun akan berlatih lebih keras untuk menguasinya sepenuhnya.
Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar anak itu, Fani yang datang.
“Bagaiamana keadaanmu?”
Anak itu sudah sadar namun ia masih merasa sakit di bagian leher dan kepala. Dikenal sebagai Ade.
Orion diam-diam mengintip ke celah pintu yang terbuka. Ia hanya mendengarkan perbincangan mereka dari luar.
“Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong ini di mana?” tanya Ade seraya melihat ke sekeliling.
“Ini rumah Nona Gista Arutala. Pertama, bisakah kamu memperkenalkan dirimu?”
“Madeira, Ade panggilanku.”
Fani kemudian mengambilkan segelas air putih di atas meja dan memberikannya pada Ade. Sesaat setelah Ade meminum segelas air, ia merasa lega namun masih kalut dalam perasaan campur aduk.
“Madeira. Apa kamu masih mengingat siapa dirimu selain nama? Dan keluargamu?” tanya Fani.
“Sebelum aku menjawab. Katakan dulu siapa dirimu dan ini sebenarnya di mana?” sahut Ade seraya menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepala.
“Ini rumah Nona Gista Arutala. Rumah yang dibangun untuk organisasi. Kami tak bisa menjawabnya karena ini tidak berhubungan dengan dunia yang normal.”
“Kata-katamu ambigu sekali. Tapi baiklah, selain nama mungkin aku ingat siapa Ibu dan Ayahku. Dan aku sebelumnya sudah mati, 'kan?”
Ade mengangkat kedua tangannya, yang kemudian ada sesuatu meliputi berupa energi yang cukup kuat. Sontak Fani terkejut melihatnya, karena ia merasa familiar dengan api itu. Kemudian Fani melirik ke celah pintu.
“Astaga?!”
Tanpa sengaja Orion berteriak, karena kaget Fani tiba-tiba melirik ke arahnya. Lantas pergi sebelum Fani berkata apa-apa.
“Fani belum tahu apa-apa 'kan?” batin Orion seraya pergi.
Kemudian kembali pada Ade. Fani penasaran kenapa api Ade dengan Orion itu sama. Namun mungkin hanya kebetulan saja, begitu juga dengan wajah Ade.
“Kalau begitu, katakan siapa nama orang tuamu? Apakah kamu juga punya seorang adik?” Fani kembali bertanya dengan antusias.
“Nama Ibuku Aria lalu nama Ayahku Faisal. Lalu aku sama sekali tidak punya adik.”
“Begitu,” singkat Fani.
“Hei, kalau aku sudah mati apakah ini surga?” tanya Ade tiba-tiba.
“Tidak. Kamu masih ada di dunia nyata, hanya saja mungkin kamu akan terlibat sesuatu hal tak lazim ke depannya.”
***
Pergi menghindar dari tatapan Fani. Orion lantas menuju ke luar rumah. Ia memulai hari yang tenang dan damai dengan berlari. Meski matahari sudah meninggi, ia tetap berlari.
“Kemarin aku tertidur cukup pulas. Gigiku pada akhirnya ketahuan oleh Mahanta dan kemudian Irawan, pria itu akhirnya tidak lagi datang padaku.”
Melepas penat, Orion merasa damai walau sejenak. Banyak orang berlalu-lalang, pada waktu ini, di jam kantor sedang istirahat.
Banyak juga pedagang keliling yang menawarkan dagangannya pada Orion. Sesekali Orion istirahat di taman lalu kemudian kembali berlari.
“Hm, musim panas memang cocok untuk melatih kekuatan api, ya?”
Bagian seluruh tubuhnya menguap panas namun anehnya Orion sama sekali tak merasakan sakit ataupun panas. Ia merasa biasa saja.
Perlahan-lahan uap panas itu berubah menjadi api. Berhubung sepi, Orion sengaja melakukan hal itu. Membakar tubuh dengan lebih stabil, sehingga pakaian yang ia kenakan tak lagi hangus.
Energi mengalir padanya dengan deras dan cepat, terkadang pula pelan mengalir seperti genangan air. Tidak seperti biasanya, yang sulit dikendalikan. Bahkan sampai menguras energi.
“Kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Inti Api Abadi itu benar-benar hebat. Selain Ketua Irawan pun takkan ada yang sadar,” gumam Orion.
Ia kemudian memusatkan tenaganya ke dua titik di kedua kepalan tangannya. Tampak seperti pusaran api kecil, namun jika itu dipersempit maka tampak seperti hanya sekadar meliputinya saja.
“Terkadang ini yang paling sulit dikendalikan. Meski dampaknya tidak seberapa, tapi ini lebih nyaman.”
Daripada membentuk bilah pedang, sejujurnya Orion merasa lebih nyaman jika menggunakan tinju. Dulu, ia mungkin tidak pernah berlatih di gym namun di rumah lain cerita.
“Bagaimana jadinya kalau dunia sepenuhnya berubah?” celetuk Orion seraya menghadap ke atas, menatap langit yang membentang luas berwarna kebiruan.
Angin sepoi-sepoi berembus. Rasanya nyaman sampai membuat matanya terpejam. Mengantuk lelah di kala pikiran dipenuhi banyak hal rumit.
“Oh iya, aku hampir melupakan satu hal,” kata Orion sembari merogoh ke dalam pakaiannya.
Ia membawa buku kuno yang tertulis suatu kisah. Atau lebih tepatnya asal-usul Pejuang NED.
“Meskipun aku terus membacanya, isinya takkan pernah berubah. Tapi kenapa aku membacanya berulang kali?” pikir Orion dalam diam sembari menatap nanar ke arah tulisan.
“Ya, tentu saja. Karena aku sering lupa. Belum lagi, ada hal yang belum aku ketahui. Mungkin buku ini cukup membantu untuk menguasai Api Abadi,” pikir Orion sekali lagi.
“Duh, kenapa aku bicara sendiri?” sambungnya lantas menggelengkan kepala.
Membuka setiap lembaran yang tidak ada bedanya dengan yang telah ia baca. Satu-satunya hal yang menjadi pusat perhatian Orion adalah ketika membaca Api Abadi.
“Api Abadi memang menyenangkan, ya? Aku sangat ketakutan. Beruntung Pahlawan Kota tidak memiliki kekuatan itu,” ucap seseorang yang berada di belakang Orion.
Bak! Menutup buku dengan keras. Sontak Orion menoleh ke belakang dengan firasat buruk. Ia kemudian saling bertukar tatap pada seorang pria yang ada di belakangnya.
Pria dengan rambut merah yang sedikit memanjang. Ciri-ciri yang dikatakan oleh informan, yakni ducurigai sebagai Chameleon. Dicky, ia sedang memakai nama itu.
“Siapa?”
Namun Orion berpura-pura. Jelas Orion tahu bahwa itu adalah Chameleon, karena sebelumnya orang ini telah menyamar sebagai Mahanta ketika membeli informasi.
Pria yang berbahaya.
“Melihatmu begitu marah. Sepertinya kau sudah sadar aku siapa. Yah, tentu saja. Ada banyak mata di perkotaan, mustahil penjahat sepertiku sepenuhnya dapat lepas dari pandangan mereka.”
“Jadi kau mengakui dirimu sebagai penjahat?”
Tatapan Orion menukik tajam. Kewaspadaan akan orang di hadapannya menjadi meningkat. Tatkala matahari menyorot ke arahnya, pria itu tersenyum sinis seolah mengejek.
“Aku 'kan sudah memberimu undangan untuk bertemu. Ini kesempatan kita untuk bicara. Awalnya aku ingin membunuhmu,” tutur Chameleon lantas tertawa kecil.
“Kalau begitu kenapa sekarang tak kau lakukan?” tanya Orion.
Orion beranjak dari kursi taman. Tampak ia melihat semua orang berhenti bergerak kecuali mereka berdua.
“Kau pasti tahu apa yang disebut peminjam kekuatan. Kau juga pasti sudah mendengar bagaimana kekuatanku?” ujar Chameleon.
Tipe pesulap, sejenis penyihir. Pejuang NED yang memiliki kekuatan bak memanipulasi hukum itu jarang ada. Salah seorang yang Orion tahu, ialah Ketua Irawan yang memiliki sejenis.
Lalu, apakah kekuatan Chameleon sama?
“Katakan apa tujuanmu?” Orion bertanya dengan tatapan dingin.