
Lampu sudah menyala normal. Namun Lift masih dalam proses perbaikan. Karena box lift mereka terjebak di antara tembok, mereka tidak bisa langsung keluar. Terpaksa harus menunggu sampai lift kembali beroperasi normal.
Farhan menghempaskan tubuh Rico begitu lampu menyala. Pria itu menatap Rico yang masih mengatur napasnya. "Kau baik-baik saja?"
"Ya, saya tidak apa-apa Tuan. Tapi istri Anda tidak baik-baik saja. Dia seperti hendak membunuhku, Tuan." Farhan dan Rico saling pandang seperti Kajol dan Syah Rukh Khan di film Indiahe.
"Cukup ya!" Lisa menyergah, ia mengambil posisi di tengah-tengah untuk memisahkan dua pejantan setengah-setengah itu. "Aku benar-benar muak melihat kalian berdua terus bermesraan sedari tadi. Hargailah aku sebagai istri bisa 'kan, Mas?" Lisa menoleh pada Farhan dengan tatapan bengis.
Rico yang merasa ada di antara kesalahpahaman langsung membela. "Nona Lisa, tolong jangan salah paham terus-menerus. Tuan Farhan hanya spontan melindungi saya. Tidak bermaksud apa-apa."
"Melindungi kepalamu!" Lisa mencengkeram kerah baju Rico. Ia menggoyang-goyang tubuh Rico saking gemasnya. "Mati kau ... mati kau!"
"Hentikan Lisa! Untuk apa cemburu pada laki-laki. Kami masih normal!" tukas Farhan sambil tangannya menarik Lisa agar berhenti mengganggu Rico.
"Kamu normal, tapi aku tidak yakin asistenmu normal, Tuan Farhan yang budiman! Sudah setua ini saja dia belum menikah. Apa kamu yakin terongnya tidak bengkok pada sesama jenis?" tuding Lisa tidak mau kalah.
"Astaga Nona! Bagaimana kalau kita mantap-mantap di sini, agar Anda yakin kalau terong yang Anda maksud itu masih merespon lawan jenisnya."
"Kau mau mati dengan cara apa, Rico?" Kali ini Farhan murka. Matanya menyalang tajam karena mendengar kekurangajaran mulut Rico.
"Ya mau bagaimana lagi, dituduh homo itu capek Tuan! Meskipun penerus bangsaku selektif dalam memilih wanita, dia masih sanggup jika kupakai menggagahi istri orang."
"Coba saja kalau berani, baru buka celanan saja, penerus bangsamu akan kubuat auto sekarat!" tandas Lisa semakin jadi. Ia memasang kuda-kuda seolah Rico hendak mengajaknya berduel.
Farhan yang berdiri di belakang Lisa hanya dapat memijit pelipisnya ysng terus berdenyut ngilu. Kedua mahluk itu sungguh meresahkan jiwa. Ingin rasanya Farhan teriak sekencang-kencangnya andai tidak malu.
"Jadi harus dengan cara apa saya membuktikannya, Nona?" tanya Rico menantang. Farhan tidak dapat menyalahkan Rico terus-menerus, karena istrinya juga sama gilanya dengan Rico.
"Aku tidak butuh pembuktiaan. Asal kau menjaga jarak dengan suamiku saja, itu lebih dari cukup bagiku."
"Sudah kubilang hubunganku dengan tuan Farhan hanya sebatas boss dan bawahan. Kalau aku tertarik dengan suami Nona, tidak mungkin kalian berdua bisa menikah." Perdebatan semakin memanas. Mengalahkan AC yang sudah mati sejak lama di ruangan itu.
"Aku nyolot karena aku bukan pendonor!"
"Pelakorrr!" Farhan dan Lisa menyerang dengan seruan yang sama.
"Iya itulah, aku tidak paham bahasa-bahasa gaul. Intinya aku bukan perebut suami orang, aku juga bukan pecinta sesama jenis!" tandas Rico untuk terakhir kalinya.
"Sudahlah, lebih baik kau diam, Rico. Untuk apa berdebat dengan wanita. Hubungi bagian teknisi, sudah sampai mana pekerjaan mereka." Farhan memutar tubuh Lisa hingga posisinya hanya menghadap ia seorang.
"Jangan cemburu pada Rico. Pemikiran seperti itu sama sekali tidak pantas. Bisa saja yang kamu ucapkan tedengar oleh telinga orang lain. Itu akan membuat citra kami menjadi buruk." Farhan menatap Lisa dengan pandangan tidak biasa. Bola matanya menyusuri wajah merah wanita itu.
Cup! Cup!
Dua kecupan yang menimbulkan bunyi mendarat di kedua pipi Lisa. Wanita itu merona. Marahnya hilang seketika begitu mendapatkan perlakukan manis dari Farhan.
Belum cukup di pipi, Farhan menjatuhkan kecupan lembut di atas benda kenyal milik wanita kecilnya. Menyesapnya dengan gerakan lembut sambil mengeratkan pelukannya. Sejenak dunia terasa milik berdua. Mereka saling bermain lidah tanpa peduli pada Rico yang ada di sampingnya. Juga CCTV lift yang mungkin terus berputar di ruang operator.
Ciuman terlepas. Farhan mengelap bibir basah Lisa dengan ibu jari. Lalu membenamkan wajah tomat wanita itu ke dalam dekapannya.
"Hapus rekaman CCTV-nya sekarang juga," perintan Farhan pada Rico."
"Ba-baik Tuan." Rico membalik tubuhnya yang masih syok. Ia tidak menyangka pria model batu bernapas seperti Farhan berani mencium wanita di depannya. Sepertinya Farhan sudah mulai menjadi budak cinta. Hiii, bulu kuduknya merinding. Melebihi nonton horor di dalam rumah angker.
Astaga Dipsy, jangan memberontak. Kuatkanlah hatimu, Nak. Mereka memang tidak tahu diri, setelah menghinamu dengan sebutan terong bengkok, kedua manusia tidak berotak itu malah pamer kemesraan. Tahan Dips, aku akan segera mencarikan kembaran Irene Red Velvet agar kamu tidak kabibita lagi. Rico berargumen dengan dirinya sendiri.
***
Bagi votenya dong gengs, biar bisa masuk 20 besar. 😓