
Setelah kejadian Lisa mengejeknya, Farhan memutuskan untuk makan dulu sebelum bercerita. Lalu lanjut mengobrol tentang masa lalunya yang buruk dan penuh penderitaan.
"Sudah siap?" tanya Farhan memulai.
"Humm. Aku tidak sabar mendengarnya," jawab Lisa antusias.
Bergulung dalam satu selimut yang sama, Lisa bersandar di dada Farhan sambil bersiap-siap mendengar cerita masala lalu dari suaminya. Wajahnya begitu bersemangat, menatap Farhan yang mulai menarik napas aba-aba hendak cerita.
"Aku tidak akan cerita panjang lebar, aku hanya akan menjelaskan bahwa ayah kandungku yang sesungguhnya bernama Roni. Dia adalah kakak kandung Hermawan. Orang yang memperkosa bunda Lynda hingga menghadirkanku sebagai anak haram yang tidak diinginkan." Farhan mulai bercerita.
Lisa langsung menutup mulutnya tanda terkejut. Ia tidak menyangka bahwa masa lalu Farhan sepahit itu.
"Baik Hermawan ataupun Roni, aku sangat membenci kedua orang itu. Mereka berdua sama-sama salah dan kejam, ayahku telah melecehkan bunda hingga hamil, sementara Hermawan berdosa karena telah membuat ayahku kecelakaan. Tidak hanya membunuh ayahku, dia juga membuangku sampai aku harus hidup menderita di panti asuhan yang nyaris bangkrut itu."
"Cukup!" Lisa membekap mulut Farhan, air matanya jatuh dan berderai tidak karuan. "Hatiku sakit mendengarnya, jadi ayah Hermawan yang aku kenal baik adalah orang jahat." Lisa menggeleng tidak terima.
Sedekat itu ia dengan ayah Hermawan. Sungguh tak menyangkan bahwa beliau sebusuk itu di masa lalu.
"Kamu tidak boleh ikut membenci Hermawan hanya karena aku. Semua yang ada di masa laluku tidak ada hubungannya denganmu sama sekali," ucap Farhan mengingatkan. Ia hendak mengentuh pipi Lisa, namun diurungkan karena tidak berani. Akhirnya ia hanya mampu berkata,
"Jangan menangis, untuk apa menangisi masa laluku," larang Farhan.
"Tapi kamu suamiku, jelas aku merasa sakit hati melihat suamiku diperlakukan seburuk itu. Ayah Hermawan jahat! Aku tidak menyangka, orang yang kuanggap sebagai ayah pengganti adalah orang seburuk itu. Membuang suamiku di masa lalu dan membunuh kakak kandungnya sendiri." Lisa semakin terisak. Ia menangis tesedu-sedu hingga baju piyama yang Farhan kenakan basah.
"Mungkin ini sudah menjadi jalan takdirku. Kalau begitu, lebih baik aku hentikan saja cerita masa lalu yang tidak penting itu. Aku tidak ingin melihat orang menangis hanya karena dalil iba ketika mendengar ceritaku. Inilah yang membuatku malas bercerita pada orang lain," ujar Farhan dengan arogan. "Aku tidak ingin dikasihani," lanjutnya lagi.
Lisa terperanjat. Ia bangun sambil menatap Farhan dengan kilatan mata tidak suka. "Siapa yang mengasihanimu?" bentak Lisa tidak terima.
"Kamu," jawab Farhan tanpa berpikir tiga kali. "Kamu menangis karena kasihan pada hidupku yang tidak seberuntung orang lain," imbuhnya kemudian.
"Aku bukan sedang menaruh iba, aku hanya tidak tahan mendengar suamiku diperlakukan seperti ini. Apa kamu tidak bisa membedakan antara sayang, kasihan, dan rasa iba? Aku menangis karena sayang padamu, Tuan Farhan! Bukan karena iba atau kasihan. Dan aku wanita, mahluk yang hatinya paling rapuh meski di luar terlihat kuat. Wajar jika aku menangis saat hatiku dikecewakan."
Setelah mengatakan itu, Lisa pergi meninggalkan Farhan. Ia keluar menuju balkon untuk menenangkan dirinya.
Dasar pria tidak peka, batin Lisa. Air matanya masih berjatuhan membasahi baju dan tangannya. Diusapnya air hangat itu dengan ibu jari, lalu keluar lagi tanpa mau mengenal kata berhenti.
"Aku shock dan tidak terima. Bisa-bisanya kamu menuduhku hanya sekedar kasihan. Dasar suami tidak punya hati," isak Lisa semakin jadi. Tak mau berhenti dan bahkan ingin lebih gila lagi.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lalu bersiap-siap mengarahkan pada tiang besi.
"Kau melarangku agar tidak menyakiti tanganku, tapi kau sendiri menyakiti hatiku."
"Maafkan aku."
Farhan memeluk Lisa erat. Membenamkan wajah sembab itu di dadanya. Ia tidak tahu caranya menenangkan wanita, namun instingnya mengajak pria itu agar segera memeluk wanita rapuh yang ada di depannya.
"Duniaku terlalu miris dan pahit. Maka dari itu aku tumbuh dengan pribadi yang sensitif. Menururku, tidak ada orang yang mau memandang kita jika tidak memiliki kekuasan."
"Tapi aku bukan orang seperti itu, Mas!" Lisa menunjuk dada Farhan dengan jari telunjuknya. "Meskipun hati ini belum memiliki rasa apapun padaku, apa iya ... dia tidak memahami kasih sayang yang aku berikan?" tanda Lisa agak bengis.
"Maafkan aku."
"Tidak penting. Kata maafmu tidak berguna jika kau tidak mau berubah." Lisa mendorong tubuh Farhan sekuat tenaga. Mencoba lari, namun Farhan buru-buru menarik lengannya seperti adegan aca-aca Indiahe.
"Aku sudah pernah bilang padamu, bahwa aku besar dengan cara yang keras dan berbeda dari manusia normal lainnya. Aku harap kamu bisa bersabar sedikit lagi sampai aku paham tentang bagaimana caranya bersikap baik pada orang yang menyayangiku," tahan Farhan agar Lisa tidak semakin menggila. Ia tahu seburuk apa tempramen gadis itu saat sedang merasa tertekan.
"Tapi kalimat tuduhanmu melukai hatiku," ucap Lisa sendu. Membuat Farhan bingung harus berbuat apa agar bisa menghentikan tangis wanita itu.
"Maafkan aku, tadinya aku pikir kamu sama seperti orang-orang yang aku kenal dulu. Hanya sebatas mengasihani, tapi di balik semua itu mereka menghina nasib buruk yang menimpa diri kita."
Pria itu menurunkan sedikit egonya, entah mengapa ia sangat lemah. Hatinya yang sekaku baja tiba-tiba tersentuh melihat Lisa menangis.
"Aku tidak seperti itu. Apa kamu paham, Mas?"
"Ya, aku paham ... aku percaya. Maafkan aku, anggaplah aku tidak pernah mengatakan hal itu padamu."
"Kalau begitu ceritakan, ceritakan masa pahitmu agar aku bisa paham seberat apa hidupmu di masa lalu," tantang Lisa agak membabi buta. Ia masih terbawa emosi dengan kesalahpahaman suaminya yang menuduh Lisa sebagai orang yang hanya mengasihaninya.
"Ya, aku akan cerita, tapi kembali ke dalam dulu. Udara di luar sedang kurang baik."
Farhan menuntun Lisa masuk ke dalam. Lalu mengunci pintu balkon dan menutup gordennya.
***
Makasih untuk semuanya yang sudah memberikan dukungan melalu vote. Aku tanpa kalian hanya remukan regal kedaluarsa. Btw, aku usahain akan update banyak selama periode tahun baru agar kalian gak jalan2 dan betah dirumah. Tentunya bersama platform kebangggan kami NT/MT. Semoga kalian bisa mengurangi aktifitas tidak penting, ya. Ayo taati protokol yang ada demi memutus rantai penyebaran virus korona.