HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Gak Penting



Kenapa wanita aneh begini si? Apa itu sudah menjadi bakat terpendamnya? Sebaiknya bakat seperti itu dipendam lagi saja. Merepotkan saja!


Membatin dengan sejuta pikiran, Farhan mengucapkan semboyan kebanggaannya. Tentunya hanya bisa diucapkan dalam hati dengan rasa gondok luar biasa.


Ia nyaris frustrasi. Bohong salah jujur hancur. Mungkin ini yang dinamakan kebenaran membawa petaka. Lisa mendadak ngambek tanpa alasan yang jelas. Di mana Farhan tidak mengerti letak salahnya apa. Pria itu mengernyit, melayangkan tatapan sebingung orang linglung.


"Kenapa? Aku sudah jujur sesuai permintaanmu, kan!" Farhan memekik saat cubitan melayang di pipi kanannya.


"Ternyata kamu mesum ya, Mas? Cerita cinta pertama kamu sama sekali nggak berkelas. Ngapain coba ngintip anak perempuan ganti baju di kelas? Apa kamu tidak tahu, bahwa perbuatan itu sangat dibenci oleh kami?" Nada suaranya misuh-misuh. Lisa langsung melipat kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk pembelaannya terhadap kaum hawa.


"Itu bukan salahku, dari awal aku sudah berada di kelas karena tidak enak badan. Lalu dia yang tiba-tiba masuk, dan berpikir aku tidur, makannya berani ganti baju sembarangan. Kalau aku bangun, dia akan malu karena ketahuan olehku," terang Farhan ikut kesal.


"Alasan! Kenapa harus mengintip, coba? Memang tidak bisa tutup mata?"


"Aku penasaran." Jawaban Farhan membuat Lisa membola dengan decakkan kasar.


"Iksh!" Lisa memukul dada Farhan. Wanita itu memilih duduk, agak bergeser sampai kulit mereka tidak lagi bersentuhan.


Merasa tidak terima dengan sikap Lisa, Farhan mencari pembelaan yang sebenarnya tidak berguna. "Apa kamu tidak tahu bahwa anak remaja itu memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi? Wajar jika dulu aku seperti itu. Toh aku tidak melakukan apa-apa setelahnya."


"Kamu gak salah, cuma cara suka kamu yang aneh. Bagaimana bisa, kamu suka pada wanita sejak saat dia ganti baju?"


"Suka saja, aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu."


Oh, andai Lisa tahu. Ketertarikan Farhan padanya juga di mulai pada saat Farhan tak sengaja melihat ia ganti baju dari CCTV. Kira-kira bagaimana reaksi Lisa saat mengetahui rahasia Farhan yang satu itu? Tsk.


Persiteruan tidak penting itu mulai memanas. Kini Farhan ikut duduk dan bersitatap. Suasana begitu tegang layaknya sidang DPR yang ditayangkan secara live di seluruh stasiun teve Nasional.


"Kamu marah gara-gara hal sepel seperti itu?" Farhan Memastikan lagi saat Lisa memilih diam.


"Itu hanya masa lalu, aku saja sudah lupa jika tidak ditanya." Pengakuan Farhan mulai menciptakan dampak persiteruan lebih lanjut.


"Tapi aku tidak senang dengan pengakuanmu itu. Menjijikkan."


"Jadi aku harus menciptakan karangan cerita agar kau senang? Begitukah maumu?" Kasar Farhan bicara, membuat Lisa ikut meninggikan suara.


"Terserah," balas Lisa dengan nada marah. Muka merah, dan hati berdarah-darah.


"Kalau begitu lanjutkan saja marahmu yang tidak penting itu." Kaki sudah terjuntai ke lantai, nyaris keluar kamar demi keselamatan gendang telinga.


"Kamu suruh aku marah? Tidak mau merayuku atau bagaimana?" tanya Lisa yang sudah lupa bahwa suaminya memiliki sikap dingin yang setara dengan kulkas dua pintu.


"Merayu ... apa menurutmu aku bisa melakukan hal seperti itu?" Farhan menorehkan rasa takut. Tatapannya membunuh, membuat nyali Lisa menciut seketika. "Jika kamu ingin mengembangkan masalah tidak penting seperti ini ... jangan pernah ajak aku."


"Heh." Lisa menarik tangan Farhan sebelum pria itu benar-benar kabur—agak jengah sendiri jadinya. "Ya sudah ... ya sudah ... jangan marah." Pada akhirnya dia yang mengalah. Mengharapkan Farhan bersikap layaknya pebudak cinta itu mustahil. Semboyannya adalah logika, satu kata yang selalu menusuk-nusuk hati Lisa.


Berbalik dengan tatapan garang, Farhan mulai menyerang. "Seharusnya yang marah aku bukan? Kamu yang pacaran, bahkan pernah berciuman!"


Tangannya menunjukk kening Lisa. Menghujamkan tatapan yang menjatuhkan harga diri lawan mainnya. "Kamu sendiri sudah tahu bahwa aku tidak pernah berpacaran atau ciuman. Sekarang, siapa yang seharunya layak dinobatkan sebagai orang mesum? Aku atau—"


Sengaja Farhan menggantung ucapannya, agar Lisa paham bahwa ia tak bodoh-bodoh amat dalam masalah percintaan.


***


Masih edisi gabut, skip gakpapa.