HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 4 : (Season 2)



"Maaf sebelumnya. Bagaimana jika kamu menikah lagi saja, Mas?"


Deeeer!


Bagai tersambar petir di siang bolong. Kira-kira seperti itulah ekspresi Farhan saat ini. Ia reflek melepas pelukkannya pada tubuh Lisa untuk memastikan wanita yang ada di hadapannya tidak salah. Bibir Farhan kelu, otaknya buntu, tidak mampu menjawab kalimat gila yang keluar dari bibir Lisa dalam satu waktu.


Setelah sempat terdiam cukup lama dan bisa mencerna semua yang Lisa katakan, Farhan menatap Lisa penuh penekanan. "Apa yang kamu ucapkan, Lisa? Apa kamu sadar? Tega sekali kamu berbicara seperti itu!"


Wajah Farhan mulai berapi-api. Sorot matanya tampak mengintimidasi. Membuat Lisa reflek meremas jari-jemarinya di bawah sana.


"Maafkan aku, Mas, Semua ini aku pikirkan demi kebaikannmu. Bagaimanapun juga seorang CEO wajib memiliki keturunan untuk masa depan perusahaannya."


Lisa tertunduk dalam. Air matanya menetes semakin deras saat Farhan sudah tak lagi memeluknya. Pria itu mencengkram bahu lusuh Lisa dengan mata setengah berkaca-kaca. "Ini adalah hari pernikahan kita ... apa yang kamu pikirkan sampai bisa berkata seperti itu, LISA?"


Suara Farhan semakin dipenuhi rasa emosi. Di mana hal itu membuat tubuh Lisa bergetar ketakutan.


Lisa tahu bahwa hal ini akan terjadi saat ia melemparkan ide gilanya tadi. Namun Lisa sudah tidak kuat dengan takdir susah hamil yang melekat di jiwanya. Sebelum ia di usir dan ditendang oleh keluarga besar, alangkah baiknya jika Lisa berinisiatif terlebih dahulu sebelum orang lain membuat hatinya makin bernanah.


Toh, seperti yang Sasha katakan waktu itu. Tidak mungkin Lisa akan bertahan di samping Farhan selamanya jika tidak bisa menghasilkan keturunan. Cepat atau lambat keluarga besar akan menyuruh Farhan memutuskan, menikah lagi atau mendepak Lisa dari statusnya sebagai istri sah.


"Kenapa diam?" Farhan kembali bertanya. Nada bicara itu masih tetap datar dan tambah dingin sampai Lisa tak bisa menjangkau kehangatannya.


Lisa memberanikan diri menatap Mata Farhan. Pandangan mereka saling bertemu dengan Farhan yang terus intens menunggu jawabannya.


"Maafkan aku sekali lagi, Mas. Aku mulai tidak percaya diri berada di sampingmu dengan predikat wanita susah hamil. Sebelum orang lain menyarankan kamu menikah lagi, maka aku ingin bergerak terlebih dahulu supaya nantinya kamu tidak ragu. Aku nggak masalah jika kamu menikah lagi karena aku tahu setiap CEO wajib memiliki keturunan untuk masa depan perusahaan. Kita masih bisa bersama, Cilla dan Cello akan terus menjadi tanggung jawabku, tenang saja."


Farhan terlonjak kaget saat Lisa dengan fasihnya mengatakan hal itu. Ia tidak menyangka bahwa isi otak Lisa akan sampai sejauh itu sampai memikirkan jabatannya di perusahaan. "Apa kamu sadar saat mengatakan itu, Lisa?" Bertanya dengan nada membentak.


Lisa mengangguk. Tangannya semakin bergetar ketakutan.


"Iya," jawab wanita lirih.


Farhan menggeleng tidak percaya. Matanya memerah seketika. Kini luka bercampur murka menyelimuti seluruh hati pria itu. "Aku tidak menyangka pikiranmu akan seliar itu, Lisa! Aku tahu kamu paham dan fasih masalah perbisnissan, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa keraguanmu sampai harus membawa jabatanku di perusahaan segala. Ternyata kamu tidak mengenal siapa suamimu, Lis! Asal kamu tahu ... andai seluruh pemilik saham mencoba menggulingkanku dari perusahaaan sekali pun, aku akan tetap memilih berada di sampingmu ketimbang harus menikah dengan orang tidak penting!"


Farhan menghela sejenak. Mengatur napasnya yang naik turun tidak karuan. Ia pun berbicara kembali, "Dan satu hal yang harus kamu tahu ... predikatmu hanya susah hamil! Bukan tidak bisa hamil!"


"Masss!" Lisa berteriak sambil menghalau pria itu pergi.


"Sebaiknya renungkan dulu ucapanmu yang tadi Lisa. Aku ada rapat jam setengah dua," ujar pria itu sambil melepas cekalan Lisa pada lengannya.


"Maafkan aku Mas, aku salah!" ucap Lisa menyesal sejadi- jadinya.


"Sudahlah, toh itu adalah kenyataan yang ada di pikiranmu selama ini." Farhan menatap Lisa lekat-lekat sebelum pergi meninggalkan wanita itu.


"Aku cukup tahu saja, ternyata menjadi pelangi untuk orang yang buta warna tidak ada gunanya!"


Priai itu menghilang di balik pintu setelah mengatakan kalimat yang menyatat hati Lisa.


Apa aku salah? Apa aku telah melukai hatinya? Kupikir apa yang kulakukan tadi demi kebaikannya. Kenapa semuanya jadi begini, ya Tuhan!


Wanita itu terkulai tak berdaya di lantai. Hatinya begitu sakit sehancur-hancurnya. Lisa tahu betul bahwa yang ia katakan tadi salah. Namun posisi Lisa sedang tersudut. Farhan tidak tahu betapa sakitnya Lisa saat ini. Mungkin hatinya sudah penuh lubang dan bernanah-nanah.


Gara-gara masalah kehamilan ia memang jadi lemah. Hatinya yang dulu selalu kuat sudah tidak ada lagi. Mungkin dunia akan menghujatnya karena hal ini, tapi mereka belum tahu, seperti apa sakitnya dianggap wanita tidak berguna karena belum bisa menghadirkan keturuan.


Hal itu sangat mempengaruhi seorang mental wanita, bahkan rasanya ingin bunuh diri saja.


Ah sudahlah, semua orang tidak akan paham. Selayaknya Farhan yang hanya bisa melihat sisi egois Lisa tanpa tahu seperti apa guncangan mental yang sebenarnya wanita itu rasakan.


*


*


*


Banyak yang nyaranin minta konflik biar greget dikit katanya. Makasih ya, buat kalian yang mau baca. Aku doain rejeki buat beli kuotanya makin berlimpah.


Campai jumpa becok-becok.


Up laginya kalau udah banyak yg kasih hadiah poin gratis. Makasih