
"Maksudnya apa sih, jangan sok akrab dan membuatku bingung deh, Sha." Mau tidak mau Lisa menoleh pada gadis itu. Memamerkan wajah sembabnya yang kurang enak dipandang.
"Tuhkan, aku bukan Sasha tahu! Namaku Sashi, kembaran Sasha," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Bukannya membalas, Lisa terkesiap dan reflek mundur satu langkah. "Jangan mempermainkanku ya! Kamu pikir aku bisa kamu bodohi dengan trik seperti itu. Baru ganti baju saja sudah ngaku-ngaku kembar, iksk!" Lisa berdecak semakin ketus.
"Ya ampun, Lisa!" Gadis yang umurnya sebaya dengan Lisa itu menepuk jidatnya. "Siapa yang ngaku-ngaku? Aku dan Sasha memang kembar Lisa. Lihat nih!"
Saking geramnya Sashi mengambil kartu tanda pengenal dan menunjukkannya pada Lisa. Di mana wanita itu sontak menutup mulut dan melotot ke arah Sashi. "Kalian seriusan kembar?"
Terlambat!
Ingin rasanya Sashi mengatakan hal itu pada Lisa sekarang juga. "Iya, kami kembar. Sama seperti anak almarhum sepupuku yang diasuh kalian. Mereka bisa hadir kembar karena faktor keturunan seperti kami," ucap Sashi menerangkan dengan bahasa lembut.
Lisa terdiam sejenak. Mencoba mencerna omongan masuk akal Sashi sambil menatap wanita itu dari puncak kepala ke ujung kaki.
"Sudah percaya?" tanya Sashi sambil menaruh kartu identitasnya ke dalam tas kembali.
Lisa mengangguk. Masih mengagumi karakternya yang kalem dan sangat beda jauh dengan Sasha si gadis barbar itu. Ia pun bertanya lagi, "Tapi bagaimana kamu bisa kenal aku? Kita 'kan baru saja bertemu?"
"Tadi aku melihat foto kalian berdua di meja kerja kak Farhan. Ternyata mataku masih jeli 'kan, kamu adalah wanita yang ada di foto itu," terang Sashi seraya tersenyum hangat. Membuat Lisa merasa kikuk karena sikap manis dan gaya bahasa gadis itu yang sopan.
"Kamu habis dari ruangan suamiku?" Lisa bertanya balik. Ternyata Sashi adalah tamu yang membuat Farhan tidak bisa diganggu olehnya. Rasa-rasa tidak nyaman mulai merasuki pikiran Lisa sebagai wanita yang tengah rapuh dan jatuh.
Apakah gadis itu menyukai suamiku juga? Begitulah otak Lisa bekerja saat melihat bahaya yang bisa kapan saja menghadang tiba-tiba.
"Iya, aku ada di dalam tadi."
"Berdua saja?" tanya Lisa lagi sambil melayangkan tatapan curiga. "Ngapain," lanjut wanita itu semakin tak ada ramah tamahnya kalau sudah cemburu.
Ck. Kali ini Sashi tertawa geli seraya menutup mulutnya. Baru seperti ini saja sudah cemburu, apalagi kalau Farhan sampai menikah lagi coba?
Gadis itu tertawa karena tadi sempat mendengar curhatan Lisa yang kelakuannya mirip seperti tokoh dalam novel karena menyuruh suaminya nikah lagi.
"Kalian mau menikah?" Lisa berteriak. Terkejut bukan main ekspresinya.
Sialan! Baru saja ia menyarankan si batu bernapas itu menikah lagi, dengan cepatnya pria itu sudah dapat kandidat yang jauh lebih baik darinya dan juga Sasha.
Sashi si wanita anggun dan manis. Memiliki wajah oval dan aura kecantikkan yang membuat siapa saja ingin memandanganya lebih dari lima detik.
"Kamu ngomong apa sih, Lis?" Sashi tertawa tidak mengerti. Aku bukan Sasha yang tergila-gila pada suami orang. Aku ke Indonesia karena sedang cuti kuliah. Karena kak Farhan tahu aku adalah dokter spesialis kebidanan, jadi dia memintaku untuk membantu menasehatimu. Memberikan edukasi bahwa susah hamil bukan berarti tidak bisa hamil!" tegas wanita itu menekankan nada bicaranya.
Lisa terkesiap sambil menutup mulut.
"Kaget kan? Harusnya kamu bersyukur memiliki suami yang manis dan sigap seperti itu. Kurang perhatian apa lagi coba kak Farhan pada istrinya. Dia rela mendatangkan dokter kandungan dari New York hanya untuk istri tercintanya," ucap Sashi sok membanggakan diri. Padahal Farhan hanya memintanya menunda kepulangan untuk membantu mengurus Lisa. Masalah kedatangan Sashi, memang ia sendiri yang ingin.
Lisa meremas jemarinya. "Maaf, aku tidak tahu,"ucap Lisa diikuti dengan senyum malu yang mengarah pada kecanggungan. "Sepertinya aku akan banyak merepotkanmu untuk kedepannya, mohon bantuanya.
"Tidak masalah! Karaktermu yang mirip dengan Sasha membuatku sudah terbiasa," sindir gadis itu. "Selain membantu mengurusi masalah kandunganmu, aku juga ingin mengawasi adikku. Aku tahu dia sangat tergila-gila terhadap suami orang, maka dari itu aku ke sini untuk menghalau Sasha agar tidak menjadi bibit pelakor. Kalau begitu sampai jumpa, besok aku akan datang ke kantormu."
Sashi keluar dari lift terlebih dahulu. Sementara Lisa masih di dalam dan membiarkan lift membawanya ke atas kembali.
Selaksa bahagia membuat Lisa seperti orang gila. Walaupun Lisa belum dimaafkan oleh Farhan, setidaknya pria itu sangat sigap sampai mencari dokter kandungan secepat kilat.
Sayangku memang dingin, tapi bikin pengin! Pengin peluk dan bilang makasih setiap detik.
Tangannya tertaut di depan muka sambil membayangkan yang tidak-tidak. Aaaaaaa!
...***...
...Selamat menjalankan ibadah sahur bagi yang menjalankan....
...Kasih hadiah kopi yang banyak dong. Kckckx.🥰...