HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kembalinya Reyno Dan Jennie



Nyaring pintu diketuk tepat jam 12 malam. Membuat Farhan mau tak mau membuka mata lantaran hanya ia yang mendengar suara ketukkan tersebut. “Siapa yang bertamu malam-malam begini?” Pria itu mendengkus, kemudian mengambil piyama miliknya yang tergeletak di atas nakas untuk dipakai. Setelah menyempatkan diri mengecup bahu polos Lisa dan menarik selimut yang tersingkap, Farhan menjuntaikan kaki malasnya untuk membukakan pintu si tamu tak tahu diri di luar sana.


“Sabar …!” Kini Farhan sudah keluar dari kamar zona ternyaman. Pria itu tambah kesal lantaran nada ketukan pintu di luar sana semakin dipercepat, namun tamu di tak ada otak itu seperti tidak memiliki kesabaran sama sekali.


“Dasar tamu tidak tahu diri!” Umpatan terus keluar dari bibir manusia berjiwa lelah yang butuh istirahat ekstra hari ini. Farhan baru saja tidur dua jam, karena jadwal kerjanya di kantor sedang padat-padatnya, jadi mau tak mau ia harus pulang larut malam selama beberapa hari ini.


Wajar jika farhan kesal dengan kedatangan tamu tak diundang malam-malam begini. Pembantu dan satpam juga, apa mereka tidak mendengar ada tamu? Bisa-bisanya membuat tuan rumah harus membukakan pintu sendiri.


“Maaf, dengan siapa?” Mulutnya berbicara sambil memutar knop pintu. Dan bola mata Farhan membulat seketika saat mendapati sosok mahluk yang berdiri di balik bingkai kayu tersebut. Tubuh Farhan membeku. Pria itu tak bergeming sama sekali selain bola mata yang terus dipaksa agar bisa mengerjap demi mengumpulkan kesadaran.


"Selamat malam kakak." Suara halus nan kompak itu terdengar menusuk sekaligus menyayat.


“Ka-ka-kalian?” Lutut pria itu langsung lemas bersamaan dengan jantung yang bertalu-talu tidak jelas. Tangan dan tubuhnya juga gemetar hebat melihat fakta mengejutkan terpampang nyata di hadapan. “Ini benar kalian, ‘kan?” Pria itu bertanya untuk memastikan sekali lagi


Pandangan Farhan langsung mengabur. Tubuh pria itu limbung hingga akhirnya jatuh lemas tepat di hadapan Jennie dan Reyno.


“Bantu aku angkat kakakmu, Je!” Suara Reyno yang tampak nyata mulai terdengar di telinga. Samar-samar Farhan merasa tubuhnya sedang dipapah menuju sofa duduk.


Ada sekitar lima menit Farhan termangu di tempat duduknya. Pria itu hanya bisa menarik dan sesekali mengembuskan napashya yang terasa berat. “Apa yang aku lihat benar-benar kalian?”


Ketidakpercayaan masih merajut isi otak Farhan hingga detik ini. Sampai akhirnya Jennie dan Reyno bersimpuh di pangkuannya, kemudian menjawab bersamaan dengan kompak.


“Ini kami, adik Kakak!”


Dada serasa sesak dan terhimpit saat mengatakan kalimat itu. Tidak ada kalimat manis atau melankolis yang keluar dari bibir Farhan. Ia mengapresiasi kedatangan Reyno dan Jennie dengan umpatan kesal yang menjurus rindu seberat gunung merapi.


"Aku kangen banget sama Kak Farhan. Terima kasih sudah membuat semuanya kembali normal lagi Kak. Aku sangat bersyukur si kembar dirawat oleh orang yang tepat seperti kalian." Jennie meletakkan kepalanya di paha Farhan. Pun sama halnya, Reyno ikut menimpali. "Aku juga! Menurut kami Lisa adalah gadis hebat terbaik yang mampu meluluhkan hati batu seorang Farhan."


Antara percaya dan tidak percaya saat melihat mereka sehat dan bahagia. Tubuh Farhan masih dijalari rasa gugup dan bergetar-getar menyaksikan dua adik kesayangannya ada di depan mata. "A-aku panggilkan anak-anak dulu."


Saat pria itu hendak beranjak. Reyno langsung menyergah sambil memegangi tangannya. "Biarkan mereka istirahat. Kami ingin mengobrol dengan Kakak dulu. Oh ya, bagaimana kehidupan Kakak selama ini?"


Sontak Farhan memijit pelipisnya yang mendadak pusing. "Harusnya kamu tanya anak-anakmu dulu. Kenapa jadi menanyakan kabarku?" Bola mata pria itu melotot kesal. Dijitaknya Reyno dan Jennie sampai mereka mengaduh tiga kali. "Apa kalian tahu betapa frustrasinya aku menghadapi anak kalian yang bandel? Urus anak kalian sendiri sana."


Reyno tersenyum geli lantaran ia tahu bahwa apa yang Farhan ucapkan tidaklah benar. Pria itu mengapresiasi kebahagiaannya dengan cara yang aneh. Untung Reyno sudah paham watak si batu bernapas itu.


"Aku yakin si kembar aman bersama kalian. Iya 'kan, Je?" Pria itu menoleh pada istrinya dengan ulasan senyum bahagia.


***


Jangan lupa like dan komen. ya. 🥰


Btw yang nanya kenapa tulisannya end. itu end untuk season satu versi outlinenya ya. Tapi aku lanjut sampe lahiran atas permintaan pembaca. gpp kan?