HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Selamat Pagi Jomlo



Rico buru-buru pergi meningalkan Farhan dan Lisa sebelum mentalnya semakin tersakiti gara-gara keracunan adegan uwu-uwu. Ia memilih menenangkan diri di kamar sebelah sambil mengerjakan beberapa laporan yang terkendala selagi Farhan dan Lisa menyiapkan bahan produksi bayi di kamar pengantin.


Pembahasan kembali lagi pada pasangan yang baru saja menikah— mereka berdua baru saja tersorot kamera dan mematahkan harapan para gadis penggemar Farhan. Tidak ada yang menyangka. Gadis yang Farhan nikahi adalah gadis sekelas Lisa. Yang jauh dari kata anggun, cantik, apalagi seksi.


Lisa tak henti-hentinya terkagum sedari tadi. Matanya mengindahkan seluruh ruangan yang nampak dihiasi bunga-bunga. "Tuan Haris baik sekali ya, Mas. Kamarnya bagus banget."


"Hmmm," jawab Farhan sambil menelan salivanya sendiri. Berada di dalam satu ruangan bersama bidadari dadakan membuat Farhan nyaris setengah gila. Pikirannya terasa kotor, ingin berkelahi dengan sang birahi yang menghantam otaknya sedari tadi.


"Kita mau apa, Mas?" Duduk di ranjang, Lisa mengangkat dagun dengan tatapan menjurus lurus ke arah Farhan. Pria itu masih berdiri kaku—bergeming di ambang pintu.


"Mau apa memang?" Farhan membawa jejak langkahnya sambil melepaskan jas putih yang ia kenakan. Lalu meletakkannya di atas nakas dengan rapi. "Bukankah kamu yang mengajakku ke sini?"


Bibir Lisa sudah maju mundur cantik penuh arti. "Bikin dedek bayi aja, yuk!" Kali ini Lisa mengajak tanpa kode.


Gelak tawa kecil keluar dari bibir Farhan. "Buang jauh-jauh pikiranmu kotormu Lisa. Tidakkah kamu lihat ini masih jam berapa?" Melirik jam yang menunjuk pada angka satu siang hari.


"Hehehe. Terus mau ngapain dong kita ke kamar kalau tidak uwu-uwu?"


"Bersihkan tubuhmu dulu sana. Memangnya nyaman mengenakan pakaian seberat itu?" Boro-boro ajakan mandi bersama, Farhan justri salah tingkah dengan menyuruh istrinya mandi sendirian.


Matanya tidak nyaman, namun menerkam seperti macan buas di siang hari bukanlah kebiasaan Farhan. Ia lebih suka aktif di malam hari. Meskipun seseuatu mensugesti pikiran Farhan agar segera menyapu wanita genit di hadapannya.


"Yah ... kok mandi, sih? Aku sudah dandan cantik. Setidaknya lihat dulu, kasih komen dan reviuw tentang penampilanku. Sekalian bintang lima kalau bisa," seloroh Lisa.


"Kamu ingin aku melihat penampilanmu?" Farhan mendekat. Semakin dekat hingga secepat kilat ia duduk di depan Lisa. Matanya memandang wajah sang istri yang sedari tadi ingin ia eksekusi. Namun, masih ditahan demi harga diri dan ego yang membumbung tinggi.


"Berapa banyak bedak yang kamu pakai?" Farhan mencolek pipi Lisa. Lalu menelisik noda make up di tangannya.


Lisa yang merasa kesal langsung melotot dan memukul bahu Farhan cukup keras. "Kenapa kamu memperdulikan seberapa banyak bedak yang aku pakai. Harusnya kamu komentari penampilanku saja."


"Justru itu!" Kali ini Farhan menyodorkan wajahnya lebih dekat lagi. Hingga napas hangat itu menerpa pori-pori halus di pipi Lisa. "Aku penasaran dengan bahan yang dipakai untuk memoles wajahmu. Kenapa bisa secantik ini?"


"Aaaa ... co cwiittt! Dasar Buaya buntung! Dari mana kamu belajar gombal seperti itu, Mas?" tanya Lisa menyergah.


Mendadak Lisa kesal mendengar gombalan Farhan. Ia takut otak polos suaminya tercemar. Walau sejauh ini Farhan belum pernah mencapai tahap pria yang jarinya aktif memberi like postingan wanita cantik dan seksi di med-sos.


"Aku jujur apa adanya. Kenapa kamu jadi marah-marah?"


"Mana mungkin kamu jujur. Pasti pak Rico yang ngajarin kamu gombalin begitu. Yang kamu ucapin tadi ciri khas cowok tukang gombal tau gak, sih?"


"Heuh! Farhan merengut masam. Kenapa pula ia harus menanggung dosa atas mulut jahat para pria yang suka merayu. Tidak tahukah bahwa Farhan butuh lima ratus juta atom keberanian untuk mengatakan isi hati yang sebenarnya.


"Terserahmu saja lah! Yang penting aku sudah jujur." Memilih menyerah, Farhan menjatuhkan punggungnya di atas kasur yang dipenuhi bunga mawar merah dan putih. Ternyata otak wanita lebih aneh daripada misi Plankton yang selalu gagal mencuri krabby patty.


Lisa yang merasa tidak enak bertanya kembali, "Jadi itu sungguh-sungguh? Bukan gombalan yang diajarin sama pak Rico." Lisa ikut merebahkan tubuhnya, menjadikan lengan Farhan sebagai tumpuan kepala.


"Hahaha. Ya ampun, aku gak nyangka kamu ngomong begitu, Mas. Maklum saja, gaya penyampaian bahasa kamu mirip seperti plagiat yang mencuri gombalan pria hidung belang. Gak tulus, mukanya kayak pejabat yang suka makan dana bansos!"


"Tch! Dasar. Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?"


"Mbak Vivi. Hahaha. Aku plagiat kata-katanya dia, Mas. Abisnya lucu."


"Hmmm." Farhan mencubit pipi Lisa gemas. Kemudian mendaratkan satu kecupan manis di puncak kepala Lisa. Setengah nyawa Lisa seperti terbang ke langit. Rasanya begitu indah seperti makan gaji buta.


Layaknya bahagia setelah membaca novel happy ending, dipastikan Lisa bisa tidur nyenyak nanti malam. Lalu bangun di pagi hari sambil mengucapkan selamat pagi pada jomblo sedunia. Lisa harus pamer pada mereka bahwa kisah percintaannya sudah naik ke level berikutnya. Bukan menggandeng suami pajangan seperti yang ia rasakan sebelumnya.


Belum lepas dari rasa bahagia, Lisa memberanikan diri untuk menanyakan hal yang lebih penting lagi, " Bagaimana dengan cinta? Apa kamu sudah merasakan hal itu?"


Sejenak Farhan terpaku tanpa berani berspekulasi. Kemudian menjawab dengan entengnya, " Aku tidah tahu."


"Yah, Mas Alaan ... Kok gitu sih? Kerupuk kulit digoreng bisa ngembang loh, Mas. Masa cinta kamu engga ? Mlempem terus! Nyebelin deh!"


Lisa menanggapi ucapan Farhan dengan candaan. Kali ini tidak ada keributan. Ia paham bahwa segala sesuatu tentang suaminya harus dipikirkan menggunakan IQ dan logika. Kalau bisa, Lisa ingin pinjam otak Albert Enstein agar dapat memahami kerumitan suaminya.


"Maaf, aku takut menyakitimu jika bilang iya. Karena aku sendiri belum paham tentang perasaanku sendiri."


Lisa mengangguk tanpa rasa kecewa. Lalu menghambur ke pelukan Farhan bersamaan dengan senyum tulus yang mengembang di pipi. "Kita itu kayak kucing sama ikan tau gak sih, Mas?"


"Kenapa bisa begitu?" tanya Farhan penasaran. "Ya memang seperti itu," jawab Lisa. Kepalanya menyembul sedikit agar dapat mengindahkan ekspresi wajah Farhan.


"Siapa yang jadi kucing?"


"Aku lah."


"Terus ... kenapa aku jadi ikan?"


"Kamu seperti ikan. Makanan yang paling disukai kucing. Sayangnya, ikan itu masih berada di dalam kaleng sarden. Sehingga kucing kesulitan membuka tutupnya." Lisa tersenyum geli, lalu mengecup pipi Farhan malu-malu. "Kayak hati kamu yang sulit ditembus," bisiknya sambil menunjuk dada Farhan sebelah kiri.


"Kamu berani menyamakanku dengan ikan sarden kalengan?"


"Hehehe, ikan sarden limited edition tapinya."


Farhan tak dapat berkata-kata lagi selain tersenyum mendengar ungkapan hati Lisa yang cukup unik.


***


Pagi Jomlo, LDR, jangan lupa bagi-bagi bunga ya. Hehe.