HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 49 : (Season 2)



"Ah sial! Kenapa semalam aku bisa ketiduran seperti ini?" Farhan melirik si istri yang tengah tidur dengan wajah penuh penyesalan. Harusnya semalam ia merampok jatah berharganya, tapi gara-gara ketiduran, semua kesempatan itu lenyap begitu saja. Parahnya entah kapan lagi Farhan bisa mendapatkan jatah aye-ayenya dari Lisa.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan terdengar. Membuat Farhan terpaksa turun dan melangkah untuk membukakan pintu.


Pintu dibuka, menampakkan Cello yang sudah rapih mengenekan tas ransel dan bersiap pergi entah ke mana.


"Bundaaa!" Anak itu langsung nyelonong tanpa memperhatikan Farhan yang tengah berdiri di sisi pintu sebelah kiri.


"Mau kemana?" Farhan menarik ransel Cello dengan cepat. "Bunda masih tidur. Kamu mau ngapain?"


Pria itu memperhatikan outfit anaknya. "Ini hari weekend, kamu mau pergi keman?"tanya Farhan dengan bahas sedikit menghardik.


"Mau ke rumah Malika. Kemarin bunda yang ngajakin Ello duluan." Anak itu hendak nyelonong lagi untuk membangunkan Lisa. "Bundaaaa!"


"Jangan dibangunin!" Farhan mendelik dengan gigi setengah menggertak. Tatapan menjurus kesal lantaran Cello dianggap tidak sopan olehnya. Ia mendorong Cello keluar kamar bersamanya. "Bunda lagi hamil, harus banyak-banyak istirahat, kamu pergi sama supir saja, nanti ayah suruh dua bodyguar untuk jagain kamu," ujar pria itu penuh ketegasan.


"Tapi bunda sendiri yang mau nemenin Yah. Kemarin bunda ngajakin Ell main ke rumah lama," ucap Cello setengah membantah. Ia sudah membayangkan bermain bersama Malika di rumah kenangannya dulu. Kepalanya mendongak dengan tatapan memohon agar Farhan mau mengizinkannya untuk membangunkan Lisa.


"Ell, nurut sama Ayah ya! Bunda sengaja dirumahkan dan tidak bekerja agar bisa beristirahat penuh. Jadi pergi keluar rumah juga bukan hal yang bagus untuk bunda. Ayah pikir Ello sudah dewasa. Jadi kamu harus bisa ngertiin keadaan bunda yang sedang mengandung."


"...."


Seketika hening. Cello mengangguk tak kuasa. Jika Farhan sudah berkata seperti itu, tak akan ada lagi bantahan yang keluar dari mulut Cello selanjutnya. Ia hanya bisa pasrah mengikuti keinginan ayahnya tanpa berani membantah.


Farhan kembali masuk ke dalam untuk membersihkan diri. Menutup pintu hingga bayangan tubuhnya menghilang dari jangkauan Cello yang masih berdiri memperhatikannya dengan wajah sedih.


Cello yang sudah berdandan rapi sejak jam setengah enam pagi pun menjadi sedikit kesal lantaran sikap Farhan terlalu berlebihan. Yang ia lihat Lisa baik-baik saja. Tapi Farhan selalu banyak mengatur hingga Cello mulai merasa jauh dengan bundanya semenjak hamil.


Meskipun selalu berada di rumah, kini Lisa jarang sekali bermain dan menemani dirinya seperti dulu. Seakan ada dinding besar yang menghalangi Cello untuk mendekati bunda kesayangannya.


Kini Cello berbalik, melangkah tergesa-gesa menuju kamar adiknya. Wajahnya tampak marah. Ia membuka pintu itu dengan paksa. "Dikk!" teriaknya. Lantas berlari dan membanting tubuhnya di samping Cilla yang tengah serius belajar perkalian.


"Apaan sih, kakak?" gertak gadis kecil itu, kesal. "Aku lagi ngafalin perkalian tau! Dateng-dateng ngagetin aja."


"Ini 'kan masih hari Sabtu, besok lagi aja Dek! Aku mau cerita dulu."


Cilla menghentikan kegiatan, kemudian menoleh pada kakaknya dengan alis sedikit menukik. "Cerita apa?"


"Ceritain ayah," kata Cello melipat tangannya di bawah kepala dengan posisi tidur terlentang "Ayah Hanhan sekarang jadi tambah nyebelin," lanjutnya.


"Kakak diapain sama ayah?" Ternyata obrolan itu disambut baik oleh sang adik yang juga sudah merasakan perubahan drastis sang ayah belakangan ini.


"Ketempat Malika?" tanya anak itu sedikit sebal.


"Iya," ucap Cello tak peduli.


Mendengar obrolan berpindah pada Malika, Cilla langsung mengalihkan topik pembicaraannya. "Aku juga sebel sama ayah Hanhan, kemarin aku mau minta bunda buat ajarin perkalian, tapi ayah ngelarang dan nyuruh aku belajar sama kakak aja. Padahal aku mau sama bunda karena cara ngajarin bunda enak. Aku jadi ngerti kalau bunda yang kasih tau. Tapi ayah gak ngebolehin," tutur anak itu ikut bercerita.


"Ya samalah, sekarang ayah selalu ngelarang kita kalau mau deketin bunda. Katanya bunda lagi hamil, gak boleh capek, padahal aku liat bunda biasa aja, malah kayaknya bete di rumah terus," imbuh Cello terus bergibah ria. "Aku takut ayah dan bunda bakal lupain kita setelah dedek bayinya lahir. Gimanapun juga kita bukan anak asli ayah dan bunda, mereka pasti bakalan lebih sayang sama anak aslinya."


Ada sedikit getar tak kuasa saat Cello mengatakan semua itu. Sudut matanya memanas seakan tak rela jika harus kehilangan kasih sayang orang tercinta untuk kesekian kalinya.


Cilla yang sudah memikirkan hal itu dari jauh-jauh hari langsung menyergah, "Gimana kalau kita minta tinggal di rumah nenek aja? mereka pasti bakalan sayang sama kita. Gak kayak ayah sama bunda. Kalau di rumah Grandma, ada Gibran, aku males sama dia."


"Pasti ngga boleh sama ayah!" tukas Cello setengah menggerutu.


"Biarin aja, kita tetep harus bilang ke nenek dan kakek kalau mau tinggal sama mereka aja. Aku nggak mau tinggal sama orang tua yang gak sayang. Mending sama nenek dan kakek, mereka selalu baik," ucap Cilla.


"Cara ngomongnya gimana?" tanya Cello mulai serius dan tertarik. Dulu ia memang sangat menantikan kehadiran adik baru, namun setelah merasakan perubahan sikap ayahnya, Cello jadi benci terhadap bayi di dalam kandungan Lisa. Karena gara-gara kehadirannya, ia jadi tak diperhatikan lagi seperti ini.


"Cara ngomong gampang. Kalau aku udah nangis sama kakek, pasti kakek akan izinin kita tinggal di sana."


"Ya udah, atur aja, kakak ikutin kamu." Karena soal ide berlian dalam menyiasati tak-tik, Cilla memang ahlinya.


Cilla ikut berbaring memposisikan dirinya di samping Cello. Mereka menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang mungkin isinya sama. Rindu akan sosok papah dan mamahnya.


"Kak," panggil anak itu dengan suara rendah. "Kalau kakak udah besar, kakak gak akan tinggalin Cilla, kan? Soalnya aku ngerasa ngga punya siapa-siapa lagi selain kakak. Cuma kakak yang bisa ngertiin aku."


Cello menoleh. Menatap wajah adiknya yang sudah berubah sedih seakan-akan ia bisa membaca bahwa gadis kecil itu sedang merindukan orang tuanya di Surga sana. "Engga, aku janji kalau kita bakalan sama-sama terus."


"Janji?" Cilla menyodorkan jari kelingkingnya, Cello menyambut dengan senyum duka yang dipaksakan untuk bahagia. "Iya, janji, jangan takut," balas Cello dengan suara berat karena harus menahan tangis.


Sedih? Tentu saja ia. Cello dan Cilla sama seperti anak yatim piatu lain. Yang selalu merindukan sosok orang tua kandung dan berharap nasib bisa diputar agar mereka hidup bersama orang tua kandungnya saja.


Di balik senyum mereka yang tampak polos dan bahagia, tersulam luka yang cukup dalam tak berdasar. Yang mereka butuh sekarang hanya keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang pelindung yang sayang kepadanya. Namun, manusia adalah gundangnya luput dan dosa. Seperti Farhan sekarang, terlalu fokus pada kehamilan Lisa hingga ia lupa pada tanggung jawabnya yang lain.


***


Hai, ada yang kangen Ana ngga? Maaf ya, aku lagi down buat ngelanjutin novel ini karena levelnya turun rendah banget. Sedih aku tuh, jadi gak semangat nulis, beberapa hari ini aku butuh waktu buat nata hati lagi biar gak pindah lapak dan tetep lanjut. Makasih buat semua yang mau menunggu.


Buat yang mau ikut balikin semangat aku, cukup bantu lewat hadiah poin aja biar aku merasa ada tujuan nulis. Hihi. Ngga usah koin karena aku ngga mau kalian ngeluarin uang buat aku. Cukup poin gratis dari visimisi.


Terima kasih untuk yang mau mengerti.