HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 53 (Season 2)



Suasana di rumah malam ini menjadi momen paling mengerikan yang tidak pernah Farhan pikirkan sepanjang sejarah hidupnya. Lisa langsung meraung-raung tak kuasa saat membaca isi surat pemberian si kembar barusan. Farhan memberikan surat itu dengan wajah terpaksa lantaran hal itu merupakan amanah penting si kembar untuk dibaca oleh Lisa juga. Tentunya ia langsung mendapati respon tak bersahabat dari istrinya.


Pukulan tangan datang melayang bertubi-tubi ke tubuh Farhan. Lisa terus menepis acap kali Farhan ingin memeluk dan berusaha menenangkan wanita itu.


"Tenang dulu Lis ... tenang. Aku pasti akan berusaha mengambil si kembar kembali."


"Tenang apanya? Ello dan Cilla tidak mungkin sampai meninggalkan rumah seperti ini jika kamu tidak terlalu berlebihan, Mas!"


"Iya maafkan aku!"


Semua pelayan melihat kejadian ini ikut berkumpul. Keributan antara Lisa dan Farhan menimbulkan banyak perhatian hingga semua orang ikut meratapi kabar kepergian si kembar yang terkesan mendadak itu.


Rumah yang biasanya dipenuhi riuh tawa dan bahagia, kini berduka penuh luka. Dua baby sitter yang biasa menjaga majikan kecilnya hanya bisa menyimpan rasa bingung lantaran tak melakukan aktivitas apa-apa sejak pagi tadi. Demi melatih kemandirian si kembar, mereka memang mulai jarang sekali dibutuhkan akhir-akhir ini.


Lisa masih terus meronta hingga tubuhnya lemas dan berakhir dengan terpuruk di lantai ruang keluarga.


"Jangan begini. Malu sama yang lain," rayu Farhan sebisa mungkin. Ia merangkul paksa tubuh bergetar itu dengan getir pahit transparan yang mengecap indra perasanya.


"Kamu tahu 'kan, tujuan awal kita menikah untuk apa? Jika mereka berdua sampai memilih pergi, untuk apa gunanya kita bersama? Aku malu sama Jennie! Aku malu sama janjiku di awal pernikahan kita! Malu banget Mas ...," raungnya.


Farhan mendekap tubuh itu dalam-dalam. Membawanya masuk ke dalam tempat ternyaman yang ia miliki. "Tahan dulu, jangan apa-apa dibawa emosi."


Pria itu terpaksa membawa Lisa ke kamar demi kenyamanan bersama. Ia merebahkan sang istri di tengah ranjang hati-hati. Tangannya mengusap keringat juga air mata Lisa yang masih berderai di wajahnya.


"Jika Ell dan Cilla tidak mau kembali. Lebih baik kita sudahi saja hubungan ini, Mas!"


"Astaga Lisa, kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?"


"Justru karena sadar aku jadi malu begini Mas, aku merasa bersalah pada mendiang Jennie sahabatku. Pantas saja aku bertahun-tahun tidak dikaruniai anak, ternyata ini masalahnya, kita akan jadi lalai dan menyakiti hati mereka. Tuhan memang pantas mengutuk orang tua asuh seperti kita!"


"Ya Tuhan Lis, jangan bicara seperti itu." Farhan mendesah berat. Kepala benar-benar pening lantaran disudutkan oleh banyak pihak. Ia membungkuk seraya menatap wanita itu lekat-lekat, tangannya membingkai dua sisi wajah basah Lisa dengan air muka penuh keputusasaan.


"Aku tahu aku salah. Aku tahu aku berlebihan dengan kehamilanmu sampai membuat si kembar merasa tersingkir. Ini terjadi di luar kendaliku, aku hanya ingin anak dan ibu yang aku sayangi selalu terlindungi. Aku tak bermaksud mengabaikan si kembar." Ia mendudukkan diri di bibir tempat tidur. "Maka dari itu izinkan aku memperbaiki diri lagi. Izinkan aku mendekati mereka. Aku akan terus berusaha."


Kata-kata Lisa barusan begitu menyayat di hati Farhan. Namun pria itu sadar akan kehadiran si kembar yang begitu berarti dalam mensponsori hubungan Lisa dan Farhan. Tanpa peran keduanya, hubungan Farhan dan Lisa tidak akan berbuah manis seperti sekarang ini.


"Lakukan itu. Buat mereka kembali pada kita," lirih Lisa penuh penekanan disetiap nada bicaranya.


*


*


*


Pagi ini Cilla dan Cello menjalan aktivitas sekolah seperti biasa. Untuk pertama kalinya Cello mendapat nilai sembilan pada pelajaran matematika, membuat guru mengernyit dan bertanya pada anak itu.


"Apa kamu sekarang terlalu banyak bermain game Ell? Kenapa nilaimu turun begitu?" tanya bu guru pada Cello yang wajahnya sedikit murung pagi ini. Beberapa murid yang mendengar sedikit kesal dengan pertanyaan bu guru. Nilai 9 adalah nilai yang nyaris sempurna di mata mereka, tapi untuk Cello seolah dianggap kecacatan yang mengherankan.


Cello menggeleng. "Tidak Bu, dari kemarin Ell lupa belajar," ujarnya menyangkal.


Semua murid berhamburan keluar kelas karena bell istirahat sudah berbunyi sejak tadi. Cilla sudah berada di ruang kelas modeling sejak jam pelajaran pertama karena hari ini ada jadwal pemotretan untuk majalah anak-anak mingguan.


Cello berjalan malas keluar kelas tanpa arah tujuan yang jelas. Tangannya tersimpan di kantung celana seperti biasa.


"Ell!" Suara yang tak asing lagi membuat Cello menoleh ke belakang. Anak kecil itu menatap Farhan yang wajahnya sedikit kusut.


"Ayah ngapain ke sini?"


"Ayah bawain kamu bekel. Titipan dari bunda." Farhan meraih tangan Cello. Di mana anak itu seketika mengangsur tubuhnya ke belakang.


"Ayah mau ngerayu aku ya, biar mau pulang ke rumah," ucap anak itu agak sinis. Farhan tak bisa mengelak tujuannya.


"Itu memang rumah kamu. Pulang adalah hal yang wajib dan seharusnya."


"Ell lebih suka di rumah kakek dan nenek." Namun mata itu tak bisa berbohong bahwa ia sangat merindukan kehangatan rumahnya.


"Bunda mikirin kamu terus, dia kangen sama kalian, kalau sudah bosan pulang ya," balas Farhan tanpa memaksa. "Sekarang makan ini dulu. Bunda buatin roti lapis kesukaan kalian."


Mata Cello tampak melirik ke arah paper bag menggiurkan yang di bawakan Farhan.


"Om!" Suara cempreng datang dari arah belakang sedikit melengking, hingga keduanya reflek menoleh dan mendapati wajah cerah Malika saat melihat Farhan.


"Malika!" pekik Cello tak suka.


"Om, apa kabar?" Dia berlari menyalami Farhan dengan binar senang. Mengabaikan Cello yang berdiri sedikit jauh dari ayahnya. Gelagat Malika yang tampak lebih menyukai Farhan ketimbang Cello membuat pria kecil di sebelahnya menatap penuh ancaman pada Farhan.


Farhan menaik turunkan alisnya sebagai bentuk pamernya pada Cello yang terabaikan. "Om baik, Malika. Kamu apa kabar, jadi tambah cantik ya?"


Membuat Cello mengernyit keheranan.


Malika tersipu-sipu malu. "Masa sih Om? Padahal kuncir rambut Lika belum dilepas dari semalam. Om juga makin ganteng lho," ujarnya genit. Masih menganggap Cello adalah makhluk transparan karena fokusnya hanya tertuju pada Farhan seorang.


"Kamu apa-apaan sih, Lika?" Cello menyentak sebal. "Mana roti lapis buatan bunda, Yah? Kita makan di mobil aja." Buru-buru menarik lengan sang ayah agar menjauhi Malika.


Farhan melipat bibirnya, geli. "Bukannya tadi nggak mau ya, Ell? Kalau nggak mau ayah mau makan bareng sama Malika saja," godanya.


"Aku laper, Yah!" Berdecak dengan bola mata sebal. Memberi kode pada sang ayah bahwa ia tidak suka melihat Malika berdekatan dengan ayahnya. "Ayo Yah! Buruan. Nanti lagi ya Lika, kita mau quality time dulu. Khusus laki-laki!"


Cello menarik paksa Farhan dengan seluruh tenaganya. Berangsung meninggalkan Malika yang masih berdiri memandangi Farhan. Farhan menoleh dengan kedipan sebagai bentuk terima kasih.


Akhirnya cara itu berhasil membuka sedikit ruang kedekatannya dengan Cello.


***


Apa Kabar sayang-sayangnya Ana? Maaf baru bisa on. Segini dulu. Entar malam up lagi kalau banyak yang kasih hadiah. kwkwkw. Dirayu dulu ya ....