
Farhan dan Alex tiba di bandara pukul 11 siang. Mereka langsung bergerak cepat dan meningglakan bandara lantaran jadwal keduanya cukup padat hari ini. Tak lupa juga Alex menyuruh supir jalan ke kantor Lisa terlebih dahulu karena ia tahu Farhan akan menemui Lisa sebelum memulai aktivitasnya yang lain.
Namun, sebuah panggilan yang masuk membuat hatinya jadi dilema. Sambil menghela napas, ia mengobrol dan menjelaskan pada seseorang di balik sana.
Alex menutup panggilan itu setelah beberapa saat.
"Perwakilan tuan Herlambang ingin mengubah pertemuan kita jadi jam makan siang, Tuan. Bagaimana ini?" Alex melirik ke samping. Memperhatikan wajah gelisah Farhan karena sebentar lagi akan terjadi perang.
"Aku harus menemui si bawelku. Bilang saja tidak bisa! Siapa suruh dia mengganti jadwal seenak jidatnya."
"Baik Tuan." Alex menunduk sambil tersenyum geli.
Tanpa sadar tingkahnya yang terkesan mengejek tertangkap mata Farhan. "Apa yang kau lakukan tadi? Kenapa senyum-senyum begitu? Kau sedang menghinaku?"
"Tidak Tuan!" Alex menggeleng cepat. Sialan, padahal aku sudah menutup mulutku. Jeli sekali penglihatannya! sungut Alex dalam hati.
Farhan berkata kembali. Kali ini sedikit membentak sampai supir yang ada di depannya ikut gugup dan salah memberikan lampu sen. "Jangan berbohong! Jelas-jelas tadi kau tersenyum saat melihatku. Apa yang kau pikirkan, hah?"
"Aku hanya kagum saja." Akhirnya Alex menjawab apa adanya.
"Apa yang kau kagumkan?" Farhan yang merasa tidak melakukan apa-apa menjadi bingung. Matanya menatap Alex kesal, tentunya masih dengan wajah mengintimidasi lawan bicaranya.
"Saya hanya kagum pada karakter Anda yang kaku dan dingin Tuan. Sejujurnya saya penasaran. Bagiamana bisa Anda mengucapkan segala kalimat ala anak milenial, tapi pembawaanya keren dan penuh wibawa seperti itu?"
"Maksudmu gimana?" Farhan mengernyit tak paham.
"Si bawelku adalah kata-kata yang biasa diungkapkan kaum milenial. Biasanya kalimat itu terdengar lebay di telinga orang dewasa. Namun saat Tuan mengatakannya, kesan alay itu hilang seketika. Jadi saya penasaran bagiamana caranya mengatakan kalimat lebay dengan penuh kewibawaan seperti Anda," tutur Alex.
"Oh!" Farhan membenarkan dasinya sambil membanggakan diri. "Itu mudah ... apa pun kalimat yang kau ucapkan, tidak akan ada orang yang menganggapnya berlebih asal dilakukan dengan sepenuh hati. Jadi kuncinya tulus."
"Ah, begitu." Alex mengangguk paham. Benar juga yang dikatakan Farhan. Jangan pernah menyalahkan kalimat yang kau anggap lebay atau alay. Tapi salahkan orang yang menyalahgunakan kata itu sehingga fungsinya tekesan hilang.
...***...
Tiga puluh menit kemudian, Farhan akhirnya berhasil sampai di kantor Lisa dengan selamat dan tentunya masih sehat walafiat. Dengan penuh percaya diri dan tanpa merasa berdosa sama sekali, pria itu berjalan masuk ke kandang macan di mana penghuninya sudah menunggu sedari tadi.
Lisa langsung menyambutnya dengan tatapan garang. Mengawali peperangan dengan berbagai perdebatan. Farhan selaku bang Toyib hanya bisa pasrah walaupun sebenarnya ia sedang marah juga. Dia membiarkan Lisa mengamuk dan membanting aneka barang di ruangannya sambil terus memaki-maki Farhan.
Hingga akhirnya tidak kuat, Lisa menangis di pelukkan Farhan setelah puas melampiaskan semua amarahnya.
Masih tetap dengan gayanya yang kalem, Farhan mengajak Lisa duduk di sofa. Mereka saling berdempetan dengan posisi Lisa yang terus memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada Farhan.
"Apa kamu sudah puas marahnya?" tanya Farhan.
Lisa memukul bahu pria itu kesal. "Kamu memang bodoh, Mas! Aku sampai menahan malu saat Ello membandingkan kita dengan orang tua kangdungnya. Dia bilang kita tidak sama seperti Reyno dan Jennie yang tidak pernah lupa saling mengabari kalau tidak pulang." Lisa menjeda napasnya yang tersengal. "Semalam aku menunggu kamu pulang seperti orang bodoh," lanjutnya kemudian.
"Aku memang sengaja hanya mengabari Ello," jawab Farhan tenang, dan tentunya ia sudah mempersiapkan alasan logis untuk membuat Lisa kalah debat.
"Kenapa kamu ngelakuin itu?" tanya Lisa kesal.
Lisa hanya terisak di dalam dekapannya. Tidak berani berucap.
"Sekarang kamu bisa rasakan sendiri, 'kan? Baru tidak mengabari saja kau sudah marah-marah seperti ini? Apalagi kalau aku menikah dan membagi waktuku dengan wanita lain?"
Lisa tertohok. Kali ini wanita itu memberanikan diri untuk mendongak. "Maaf, aku salah, aku khilaf," balasnya.
"Memang kamu salah. Sudah kubilang kalau ada apa-apa beri tahu aku. Semua ini gara-gara Sasha, 'kan?"
"Tau dari mana?" tanya Lisa yang mendadak terkejut sekaligus heran.
"Aku sudah tahu lama. Mata-mata dan kameraku ada di mana-mana. Tapi aku sengaja tidak memberitahu agar kamu mau jujur padaku. Ternyata kamu malah menyimpan rapat-rapat hal tidak berguna seperti ini."
Lisa tertegun menelan saliva. Matanya menatap Farhan lekat-lekat. "Maaf, aku hanya takut apa yang kupikirkan akan jadi kenyataan. Jadi aku reflek menginisiatifkan hal gila sebelum orang lain yang menyuruhmu."
"Aku tidak akan menikah dengan Sasha. Tuan Haris ataupun nyonya Dina tidak akan berani menjodohkanku dengan gadis itu. Aku memiliki kekuasan untuk memutuskan hak dan pilihan hidupku," jawab Farhan lantang dan penuh keyakin.
"Iya, aku salah ... aku bodoh," ujar Lisa seraya menampar-nampar pipinya sendiri.
Sontak hal itu membuat Farhan reflek mendelik. Pria itu segera mencegahnya. "Jangan bertingkah aneh! Aku benar-benar tidak ingin berdebat denganmu. Masih banyak masalah yang harus kita bicaran. Terutama Ello."
"Iya. Aku akan menceritakan tentang Ello padamu setelah kita berhenti nangis." Lisa berkata dengan gaya manja. Membuat Farhan gemas.
"Apa kamu gak kangen aku?"
Farhan menggeleng cepat. "Biasa saja," jawab pria itu datar.
"Nyebelin!" pekik Lisa. Wanita merajuk-rajuk sambil menggigit dan menciumi pipi Farhan berkali-kali layaknya anak kecil jika sedang dilanda rindu berat. "Aku kangen banget sama kamu tau!"
Farhan memeleuk Lisa semakin erat. Membiarkan wanita itu tenang dalam dekapannya. "Kenapa wanita kalau kangen jadi aneh ya?"
"Aneh kenapa?"
Farhan mendekatkan wajahnya di telinga Lisa. Lalu ia berbisik, "Bisa tidak, kamu langsung ngomong kangen saja tanpa harus ngajak ribut dulu seperti tadi?"
Apa dia bilang?
Seketika Lisa tertampar. Satu kalimat itu cukup membuat Lisa ataupun wanita lain jungkir balik mendengarnya.
Sejak kapan suamiku jadi pintar menjatuhkah harga diri wanita seperti ini?
Oh, sialan kau Alan.
***
Jangan kasih dukungan dan komen semaraknya.