
"Nek, hari ini aku ngga usah dibawain bekel!"
Cello tengah menikmati semangkuk bubur ayam saat melihat dua tumpuk bekal dibawa dari dapur oleh sang nenek.
Wanita paru baya itu menoleh heran seraya meletakkan kotak bekal cucu-cucunya di atas meja. "Kenapa? Nanti kamu laper loh, Ell!"
Anak itu menggeleng penuh semangat. "Engga dong Nek ... nanti aku mau dibawain bekel sama calon istri aku!"
"Eh?" Refleks bunda mengerjap berulang-ulang. "Calon istri siapa Ell?" tanya bunda masih mencoba sabar dengan informasi yang membuat jantungnya nyaris jatuh ke dasar perut.
"Malika! Malika Dewi Alfarik namanya," jawab anak itu tanpa ragu. Cilla yang mendengar nama itu disebut menoleh sinis.
"Dia anak kelas empat Nek. Anaknya pak mandor itu loh, sahabatnya Papa Teddy jaman dulu, yg kerja di bengkel papah!"
"Memangnya Ello sudah punya pacar?" tanya ayah Hermawan langsung sigap menyergah Cello dengan pertanyaan. Sementara bunda menarik kursi, coba mencerna ucapan mengejutkan dari sang cucu kesayangannya.
"Nggak pacaraaan lah Kek!"
Berbicara dengan nada terayun setengah berdecak, Cello menatap kakek dan neneknya secara bergantian. “Kita ngga pacaran, tapi dia udah jadi calon istri aku, soalnya kalau udah besar kita bakalan nikah!”
“Kalau udah besar, ‘kan?” Bunda mengelap noda kecap di sudut bibir Cello dengan ibu jarinya. “Jadi kalau masih kecil ngga boleh pacaran ya!”
“Engga dong Nek. Ell maunya langsung nikah aja kayak papah dan mamah.”
Oh, ya ampun! Ternyata kelakuan cucunya tak semengerikan yang bunda bayangkan. Hanya sebatas bualan anak-anak belaka yang hobi menghalu jadi orang dewasa, pikir bunda.
“Kakak itu kepedean Nek! Malika aja belum tentu suka sama dia, tapi udah ngarep mau nikah terus!” cibir Cilla semakin sinis.
“Awas ya, gak usah nyuruh aku beli siomay lagi kamu!” Tangan nakalnya refleks menjambak kunciran rambut Cilla sampai terlepas. Mengakibatkan rambut panjang itu terburai dan kembali acak-acakkan.
Gadis itu teriak merengek-rengek, “Nenek! Kaka tuh iseng mulu! Udah tau mau berangkat”
"Aduh! Pagi-pagi sudah bertengkar kalian ini. Makannya adek jangan gangguin kakaknya mulu." Bunda segera melerai dan memasang posisi tubuhnya di tengah-tengah mereka. "Sini nenek benerin kuncirannya."
Nenek paruh baya itu menyisir rambut Cilla dengan tangan, lantas mengikat kembali dengan rapi. Tak lupa ia menaruh bekal makanan ke dalam tas Cilla.
"Ell beneran ngga mau bawa bekel, nih?" tanya bunda memastikan sekali lagi.
"Iya Nek! Kan udah dibawain sama Malika. Kemarin dia udah janji. Nanti kalau bawa dua ngga kemakan."
"Oke! Baiklah!"
*
*
*
Bell tanda istirahat pun berbunyi, dengan penuh percaya diri Cello berjalan ke kelas Malika untuk menagih janji anak itu kemarin. Sekarang Cello bebas menemui Malika kapan saja, guru sudah tidak mencuriga mereka lantaran kedua orang tuanya sudah mengkonfirmasi bahwa mereka berteman tanpa ada tanda-tanda keanehan yang signifikan.
"Lika!" Cello berlari masuk ke kelas Malika, duduk di kursi bekas murid yang letaknya tepat di samping gadis kecil itu.
"Aku mau minta nasi goreng aku. Mana?"
"Nasi goreng?" Dahi Malika membentuk tiga kerutan lurus. "Nasi goreng apaan ya?"
"Nasi goreng aku lah! Kemaren kamu janji mau bawain aku bekel nasi goreng kaya Evan, jadi hari ini aku sengaja gak bawa bekel makanan."
"Ya ampun! Aku lupa Ell!"
Malika menatap Cello seraya memasang wajah sedikit bersalah. Membuat pria kecil di sampingnya mengerucutkan bibir dan menjatuhkan dagunya di atas meja.
"Terus sekarang aku makan apa dong? Aku laper banget!" Ia sudah memasang wajah melas paling menggemaskan, membuat batin Malika teremas dengan ekspresinya yang terlanjur imut.
"Aku traktir nasi goreng di kantin ya, mau ngga? Nasi goreng kantin juga enak, sama kayak bikinan ibuku," rayu anak itu mengerlingkan matanya.
"Aku ngga pernah makan makanan kantin. Ngga doyan," ujar Cello menolak. Wajahnya semakin tertekut seperti lipatan koran bekas. "Udahlah, mendingan aku ngga usah makan aja, biar mati sekalian!"
"Eh! Kamu kok ngomong gitu si Ell?" Malika semakin tersudutkan. Ia benar-benar lupa bahwa pria kecil yang tengah duduk di sampingnya adalah Marcello Giovani. Sosok iblis kecil yang pintar sekali menyudutkan hati manusia agar kapok dan merasa bersalah kepadanya.
"Biarin aja! Kalo mati aku bisa ketemu mamah dan papah! Kamu juga bisa hidup enak, ngga perlu buatin nasi goreng buat aku, cukup buat Evan pacar kamu itu!" ketus Cello penuh penekanan dalam setiap nada bicaranya.
"Kita belum jadi pacaran kok, takut dimarahin ayah. Jangan ngomong gitu dong." Dengan sedikit takut, Malika mengeluarkan sekotak bekalnya dari dalam tas. "Makan bekel aku aja ya, makan barengan sama aku. Besok aku janji bawain kamu nasi goreng yang lebih enak dari punya Evan."
Anak itu masih menaruh dagunya di atas meja. Keterdiamannya memberi tanda bahwa ia masih ngambek pada gadis menyebalkan yang tengah berusaha merayunya.
Malika mulai membuka kotak bekalnya. Bau sayur capcay yang menguar pekat dari dalam wadah itu membuat Cello mengangsur tubuhnya sedikit menjauh. Malika tahu bahwa Cello tidak suka makan masakan yang terbuat dari sayuran, terkecuali disulap dalam bentuk tempura, tapi demi amanah yang harus ia emban, Malika harus membuat siasat agar Cello mau memakan bekalnya.
Malika merasa memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan anak itu. Ayahnya sendiri sudah mewanti-wanti agar Malika mau berbaik hati dan mengalah pada Cello dalam hal apa pun. Farhan dan Lisa juga sudah menitipkan Cello pada Malika karena mereka tahu gadis itu selalu menjadi panutannya di sekolah. Jadi Malika merasa takut jika harus membiarkan Cello menahan lapar sendirian.
"Aku ngga doyan sayur!" tegas Cello sedikit melirik bekal itu dengan ekor matanya.
"Dicobain dulu Ell. Nanti kalo udah nikah 'kan harus makan sayur." Gadis kecil itu melipat sedikit bibirnya, tak menyangka bahwa kata-kata menggelikan seperti itu akan terucap dari bibir mungilnya.
"Ngga mau! Kamu makan sendiri aja sana!"
"Yaudah aku makan sendiri aja. Jadi kamu udah siap mati, nih? Berarti kita ngga bisa nikah, 'kan? Kalo kamu udah mati duluan, mungkin aku jadinya nikah sama Evan."
Sontak Cello memutar kepalanya hingga menghadap Malika kembali. "Kamu kok nyebelin, sih?"
"Makannya makan dulu." Malik menyodorkan kotak bekalnya ke arah Cello yang sudah kembali duduk tegap. "Kamu makan dulu sampe setengah, nanti sisanya buat aku, tapi kalo kamu doyan abisin aja, nanti aku beli bakso dikantin."
"Yaudah sini!" Cello menatap geli sayur-sayuran yang seperti sedang teriak-teriak meledek dirinya. "Aku makan! Awas aja kalau kamu berani nikah sama Evan!"
Mata anak itu melotot penuh ancaman. Di mana sedetik kemudian ia menyendok nasi berlauk capcay itu hingga berakhir masuk memenuhi mulutnya. Dikunyahan pertama ia merasa seperti sedang mengunyah racun, namun tetap dipaksakan agar ia tetap bisa hidup dan tumbuh menjadi besar.
Selamat! Akhirnya Malika selamat.
***
Yang mau lanjut kasih poin dulu ya gengss. 😋😋😋