HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 87 : (Season 2)



"Ayah sama Bunda kenapa ikut keluar juga, sih? Lika 'kan jadi malu karena ada Ayah sama Bunda." Cello memasang wajah cemberut saat ia tak boleh keluar berdua saja dengan Malika. Padahal Cello sudah memohon agar diantar sekaligus diawasi oleh bodyguard saja. Namun, Farhan dan Lisa bersikeras mengantar mereka.


"Kalian anak kecil. Tidak bisa sembarangan pergi ke tempat ramai seperti ini!" Farhan berbicara datar dengan intonasi penuh ketegasan. Malika sampai tertunduk mendengar suara seram yang membuat bulu kuduk anak-anak seketika merinding.


Lisa tersenyum-senyum geli sambil ikut menimpali. "Iya ... Malika-nya saja nggak keberatan kok! Kenapa kamu yang protes Ell? Dasar genit! Kecil-kecil maunya berduaan aja. Sentil nih!"


"Apaan si, bunda! Aku gak gitu!" gerutunya tidak terima.


Di saat mereka tengah berjalan santai mengelilingi pusat perbelanjaan, tiba-tiba angin ribut disertai suara bergemuruh terdengar dari atas.


Bug ... ubug ... ubug ... ubug ... ubug ... ubug ... ubug.


Sebuah helikopter sepertinya ingin mendarat di tempat itu. Sontak semua yang ada di bagian tengah menyingkir karena helikopter akan segera turun dari atas sana.


Malika berbalik ketakutan merangkul Lisa. sementara Farhan menghalangi Cello agar tidak terpapar debu-debu jalanan.


"Waow, kerennnn!" Anak itu berdecak kagum. Kepalanya menyeruak ke atas menatap ayahnya yang sedang membungkuk melindungi dirinya.


"Apa itu BLACKPINK, Yah?"


Farhan menutup mata Cello yang mengerjap-ngerjap kemasukan debu. "Mana mungkin mereka mau melakukan hal tidak berguna seperti ini. Kamu pikir sehebat apa ayahmu sampai BLACKPINK mau datang tanpa diundang."


"Terus siapa, yah?"


"Entahlah!"


Dan helikopter itu makin mendekat ke permukaan bumi. Beberapa petugas mengamankan lokasi agar helikopter segera mendarat tanpa memakan korban.


"Auuuuuooooooooooo!"


Suara yang tak asing lagi terdengar dari atas sana.


"Sialan!" Farhan mengumpat tanpa sadar. Lantas berbalik ketika kaki helikopter sudah mendarat dengan sempurna.


Bak pertunjukkan keren seperti di film-film action. Bryan dan Felix keluar dengan gagahnya dari dalam benda berbentuk capung itu.


"Keren kepalamu! Memangnya kamu tidak lihat beberapa stand makanan banyak yang rusak akibat terkena angin dari baling-baling helikopter itu? Aku memang memberikan ide memberi hadiah helikopter pada anak angkat Farhan, tapi bukan untuk dibawa langsung ke tempat acara ini ya!" Bryan bersungut-sungut kesal. Semua mata kini tertuju pada mereka berdua. Tatapan aneh dari beberapa warga membuat Bryan risih dan ingin segera lari dari tempat itu. Untung ia tidak membawa serta merta isri dan anaknya.


"Kalau hadiahnya tidak dibawa mana keren!" bantah Felix.


"Sekali lagi kamu bahas keren kuasingkan kamu ke pulau tak berpenghuni!" sungut Bryan.


Ancaman Bryan membuat Felix merinding. Belum sempat ia menjawab, hal yang lebih mengerikan datang menghampiri dan tentunya mengancam keselamatan nyawa. Kini Farhan si tuan rumah tengah berjalan ke arah mereka dengan wajah kesal menahan murka.


"Apa yang kalian lakukan ... mau bertamu apa mengacau di acara anakku?" omel Farhan saat baru saja sampai di tempat berdiri mereka kini.


Bryan mengangkat kedua tangannya ngeri. Takut bila mana pria itu membawa pistol untuk menembak tubuhnya secara tiba-tiba.


"Jangan salah paham dulu, Han! Semua ini ide si Gila! Salah 'kan saja manusia tidak berguna itu. Gantung kepala atau buang tubuhnya ke laut aku juga tidak masalah," seloroh Bryan.


"Kauini!" decak Farhan kesal.


Felix tersenyum kikuk mengartikan sebuah isyarat kedamaian. Kemudian mengalihkan kekesalan Farhan dengan pura-pura berjalan lurus ke depan seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.


"Oh keponakanku sayang! Kau pasti sangat merindukan om-mu yang sangat keren ini!"


Tangannya mengepang dan terus berjalan cepat ke arah Lisa yang tengah memegangi kursi roda Cello. Ia terus berjalan tanpa memedulikan Farhan yang masih kesal di belakang sana.


Bryan tersenyum datar seraya menepuk pundak Farhan. Sedikit memberikan ketenangan agar emosi pria itu meredam.


"Mau sudah menikah atau punya anak, wataknya memang seperti itu! Jangan terlalu berlebihan memikirkan kelakuannya. Dia masih sahabat terbaik kita."


"Heuh!" Farhan menghela. Bagaimanapun juga Felix merupakan sahabatnya, pikir pria itu.


***


Komennya Donkkkk! Sepi amat kek kuburan. Kwkwkw