
Pagi menyapa dengan cepat, tak terasa acara semalam berjalan lancar tanpa ada hambatan. Semuanya bersuka cita dan menikmati kegiatan itu hingga acara berakhir tepat jam 23.00 malam.
Cello juga terlihat senang selama acara berlangsung. Ia begitu bahagia karena mendapat banyak cinta dan perhatian dari semua orang yang datang. Tanpa terasa ia melupakan kesedihan yang sejak sore membayangi pikirannya.
Sebelum acara berlangsung anak itu memang sempat mengeluh pada Farhan dan Lisa. Ia tidak suka dibuatkan acara mewah seperti ini karena tidak ada kehadiran mama dan papanya. Sempat Cello ngambek dan ingin kembali istirahat di rumah saja.
Beberapa keluarga sudah sangat panik karena acara sebentar lagi sudah dimulai. Namun, kesedihan Cello tiba-tiba berkurang saat Rico datang memberikan hadiah mobil kepadanya. Rico juga berkata bahwa orang tuanya di sana ikut bahagia menyaksikan acara itu walau tidak dapat menghadiri. Akhirnya Cello kembali tertarik untuk melangsungkan acara sunatannya.
Selama acara berlangsung ia makin antusias karena mendapat banyak sekali hadiah mewah dari beberapa keluarga. Anak itu tidak menyangka bahwa semua orang yang datang sangat baik. Bakan sampai memberikan hadian yang mewah dan tak pernah terpikir olehnya.
Mereka semua melakukan itu bukan karena Cello anak orang terpandang. Tetapi karena mereka sudah berniat dalam hati ingin membahagiakan hati anak itu. Mereka sangat menyayangi Cello dan juga Cilla. Bagi mereka yang tahu aturan hidup, anak yatim piatu adalah tanggung jawab bersama. Tanggung jawab kita sebagai manusia yang masih diberikan nyawa oleh Tuhan.
Beralih ke kamar utama Lisa dan Farhan.
Pagi sudah berganti siang. Burung-burung yang biasanya bertugas mengoceh di pinggir jendela untuk membangunkan manusia sudah bertebaran entah kemana. Mungkin mencari perlindungan dari sengatan sinar matahari yang begitu terik.
Tepat jam dua belas lewat sepuluh menit, Lisa meregangkan semua anggota badannya. Sudah ada Farhan yang bangun terlebih dahulu saat Lisa baru saja membuka mata. Pria itu sedang duduk menunggunya sambil membaca sebuah buku agenda perusahaan.
"Sudah puas tidurnya?"
Suara Farhan tanpa sapaan terdengar hingga ke telinga. Lisa bergerak malas, lantas menaruh kepalanya di pangkuan pria itu.
"Tidurlah jika kamu masih ngantuk." Satu kecupan Farhan melayang di puncak kepala. Pria itu menaruh bukunya di atas nakas, lantas menepuk-nepuk punggung Lisa agar ia tertidur kembali.
"Aku tidak ngantuk! Aku hanya ingin memelukmu lebih lama seperti ini." Ia mendongak. Tingkahnya yang tampak menggemaskan membuat Farhan melabuhkan sebuah kecupan singkat di bibirnya.
"Kamu ini!" Farhan melipat bibirnya ke dalam. Berusaha menahan senyumnya agar tidak lepas begitu saja.
"Kenapa aku?" Lisa menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk. Alisnya sedikit berkerut-kerut kebingungan.
"Kamu sangat menggemaskan!"
"Benarkah?"
"Hmmm." Tatapan pria itu beralih ke sembarang arah karena malu. Untuk mengakui hal seperti saja Farhan merasa sangat canggung.
Lisa menusuk-nusuk pipi Farhan. Memainkan rahang tegas yang di tumbuhi bulu-bulu kecil itu dengan mata sedikit menyipit. "Tapi kamu jauh lebih menggemaskan, Sayang."
Membuat Farhan menoleh dengan tatapan aneh. "Menggemaskan apanya?" tanya pria itu penasaran.
"Tingkahmu ... tingkahmu yang tidak romantis dan selalu malu-malu sangat menggemaskan di mataku. Aku suka dengan semua kekuranganmu yang aneh itu!"
Farhan mencibir dengan kalimat penuh telak.
Lisa tertawa. "Hahahaha. Hidup tidak selamanya mengandalkan hal-hal yang romantis, Sayang. Punya suami yang setia dan bertanggung jawab adalah romantis yang sesungguhnya dalam sebuah bina rumah tangga. Dan kamu telah berhasil melakukan itu pada keluarga kecil kita."
Lagi-lagi Farhan membalas pujian Lisa dengan kalimat cibiran. "Tumben otak kamu berfungsi."
"Ikhh!" Lisa memukul gemas dada Farhan. "Kenapa si kamu tidak bisa manis sedikit saja?"
Membuat Farhan tergelak.
Baru saja ia mengatakan makna dari romantis yang sesungguhnya. Sekarang sudah menuntut Farhan untuk bersikap manis. Hal yang sangat sulit dilakukan pria itu bagai masuk ke lubang semut.
Farhan mendekatkan bibirnya ke telinga Lisa. Wanita itu sedikit memberontak karena serangan rasa geli yang tak tertahankan.
"Aku mencintaimu," bisik Farhan pelan.
Kesempatan ini Lisa manfaatkan karena jarang terjadi. "A-apa tadi? Aku tidak dengar, Sayang!"
"Aku mencintaimu."
"Katakan sekali lagi. Kurang ...."
Pria itu menghela. Padahal untuk mengatakan kalimat horor barusan membutuhkan tega dalam selaksa menjunjung dua gunung besar di pundaknya.
"Aku mencintaimu," bisik pria itu untuk ke tiga kali.
"Masih kurang jelas. Bisakah kamu mengatakannya sekali lagi agar apa yang aku dengar tidak salah?"
"Hmmm. Aku mencintaimu ... bagaimana kalau hari ini kita tidak usah keluar kamar. Bercinta saja sampai besok!"
Eh, kok jadi begini?
Sontak Lisa membulatkan dua matanya saat itu juga.
"Ayo kita bercinta sampai besok pagi agar aku dapat membuktikan bagaimana perasaanku. Bukankah cinta tanpa bukti tidak ada guna?"
Lisa tersenyum ngeri. "Ampunnn! Iya ... iya ... aku dengar semuanya. Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu, Mas!"
***
Gak usah kirim poin lagi gengs. Berapa bab lagi tamat. Poinnya kasih ke sini aja ya, biar bertahan di urutan 3 sampe tanggal 8. Makasih. Buka aplikasi NT dan cari event Lindungi Karyaku di bagian teratas. Hanya di aplikasi noveltoon.