HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Mendatangi Rumah sahabat



Waktu menjelang sore hari, burung-burung liar kembali ke sarangnya untuk beristirahat. Mobil Farhan mulai memasuki rumah mewah dengan desain klasik yang nampak aestetik. Lalu berhenti setelah keempat rodanya terparkir dengan sempurna di halaman rumah itu.


"Sebenarnya ini rumah siapa? Kamu mengajakku ke mana sampai menyuruhku membawa baju untuk menginap?" Mata Lisa menerawang ke luar jendela mobil. Memandangi rumah asing yang belum tahu siapa pemiliknya.


"Ini rumah temanku Bryan, yang pernah aku ceritakan waktu itu?"


Lisa menyerngit bingung, lalu memutar memori untuk mendapatkan jawabannya. "Byran pempers?"


"Ya, yang pernah aku ceritakan saat membeli diapers untukmu waktu itu."


"Oh, tumben kamu ngajakin aku ketemu sama temen kamu. Ada angin apa?" tanya Lisa heran.


"Karena kamu diundang juga. Aku tidak akan mengajakmu kalau tidak diundang," jawab Farhan logis. Lisa mencebikkan bibirnya tidak terima.


"Dasar nyebelin!"


"Ayo turun. Ingat jaga tingkahmu, jangan seperti anak kecil, atau membuatku malu di depannya."


"Iya Bawelku tersayang." Lisa memajukan wajahnya. Menerkam pipi pria itu seperti adegan angsa menyosor musuh bebuyutannya. Farhan melotot sambil mengelap noda lipstick di pipi kirinya.


"Jangan bercanda! Ayo turun."


Farhan menggandeng Lisa menuju pintu, lalu menekan bel beberapa kali sampai terdengar langkah kaki dari dalam.


Handle pintu dibuka, Bryan muncul sambil menggendong baby El yang sedang berceloteh ria dengan imajinasinya. "Akhirnya yang ditunggu datang juga."


Bryan menatap pria yang ada di depan, wajahnya tidak berubah dari tahun ke tahun, masih saja datar dan nampak cuek. 


"Selamat sore." Lisa menyapa Bryan, matanya tersenyum ke arah bayi kecil yang sedang digendong pria itu. Sementara Farhan masih diam kaku di samping Lisa.


"Selamat sore," balas Bryan membalas sapaan Lisa yang berdiri anggun di samping Farhan. "Adikmu?" tanya Bryan pada Farhan.


"Dia istriku," jawab Farhan datar tanpa tambahan kata apapun. 


Bryan nampak tercengang, Lalu memandangi Lisa dari atas kaki ke ujung kepala. "Jadi dia Lisa yang kau ceritakan waktu itu?" bertanya pada Farhan dengan mata yang belum mau lepas dari menilai Lisa.


"Iya, saya Lisa, istrinya mas Farhan," jawab Lisa sambil tersenyum. Farhan memasang pandangan tidak senang melihat ekspresi wajah Bryan yang nampak terkejut. Seolah ia menikahi gadis di bawah umur yang belum genap tujuh belas tahun.


Bryan yang masih saja tidak percaya, menyerang Farhan untung meyakinkan pikirannya sekali lagi. "Bagaimana mungkin? Aku tidak menyangka kamu suka yang unyu-unyu ala anak remaja begini." Mata Bryan masih menyusuri penampilan Lisa. Terasa aneh melihat selera Farhan yang jauh dari kata anggun. Namun terkesan imut seperti girl band Cerry Belle.


"Hanya gayanya saja yang seperti bocah. Umurnya sudah 23 tahun, beda dua tahun dengan istrimu," balas Farhan agak jengkel. Ia merasa tidak terima istrinya dianggap masih bocah. padahal, usia mereka memang terpaut sembilan tahun.


Lisa menerima uluran tangan Bryan sambil tersenyum. Dia tidak berani bertingkah aneh-aneh demi menjaga nama baik Farhan di depan temannya. Sesuai janji Lisa sebelum turun dari mobil tadi. "Saya Lisa. Ini siapa?" Lalu mencubit pipi El dengan gemasnya. Bayi imut itu tertawa, seakan menyambut kedatangan Lisa dengan riang gembira.


"Athu El tanteh," jawab Bryan sambil menirukan gaya anak kecil bicara.


"Hallo El," sapa Lisa. Tangam baby El diangkat ke atas. kakinya menendang udara dengan tawanya yang semakin lepas.


"Ayo, masuk!" Bryan mengajak Farhan dan Lisa masuk ke dalam rumah. Dia menuju ke ruang keluarga karena merasa lebih nyaman mengobrol di sana. Namun, Bryan lupa jika ruang keluarga sudah beralih fungsi jadi playground. Playmat di lantai, mainan di mana-mana—membuat sedikit susah untuk dipakai duduk.


"Maaf ya, sejak kehadiran El, rumahku setara dengan taman bermain anak TK," ucap Bryan sambil mengajak Farhan dan Lisa duduk di sofa. Ia menyingkirkan mobil-mobilan bekas mainan baby El yang tak sengaja tergeletak di sofa. 


"Tidak masalah. Rumah kami juga sering berantakan jika sudah kedatangan si kembar," balas Lisa.


"Silakan duduk. Biar kupanggilkan istriku Shea agar membawakan minuman untuk kalian berdua."


Bryan segera pergi membawa baby El ke dapur untuk memanggil istrinya.


"Sayang, tamunya sudah datang," ucap Bryan memberitahu Shea. 


"Oh ... mereka sudah datang." Shea melepaskan apron yang dipakainya, dan meraih El dari gendongan Bryan. Dia keluar bersama Bryan untuk menemui temannya. 


Asisten rumah tangga juga ikut membawakan minuman yang sudah di siapkan oleh Shea sedari tadi.


Dari kejauhan, Lisa melihat wanita cantik yang seratus kali lipat lebih anggun darinya. Wajahnya nampak sederhan dentan aura keibuan. Namun tidak menghilangkan cantik yang alami dari wanita itu.


"Sayang, kenalkan ini Farhan teman kuliahku, dan ini istrinya," ucap Bryan pada Shea.


Shea tampak menyerngikat dahi, seperti sedang menilai Lisa dari dalam hatinya.


"Shea," ucap Shea seraya mengulurkan tangannya pada Lisa, dan beralih pada Farhan.


Ini adalah kali pertamanya Shea melihat Farhan. Teman yang pernah membuat Bryan kalah saing karena wanita yang dia kejar lebih memilih Farhan.


Shea tertawa dalam hatinya. Dia begitu penasaran ingin tahu seperkasa apa pria itu sampai suami yang sering membuatnya kuwalahan, ditolak mentah-mentah oleh wanita yang disukainya demi mengejar cinta Farhan si batu bernapas.


***


Bab ini hasil kolaborasi author Myafa dan Anarita yang sudah di setujui oleh keputusan bersama. Silahkan baca My Perfect Dady untuk melihat sosok ayah sempurna. Dady Bryan.