HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Makan Di Kafe



Dada Farhan masih naik turun tidak karuan setelah diajak uji nyali oleh istrinya sendiri. Tapi, herannya Farhan tidak marah sama sekali. Justru ia seperti mendapat tantangan yang belum pernah ia alami sebelum bersama Lisa.


Kenapa aku tidak bisa marah dengan setiap tingkah lakunya? Aneh. Pria itu bermonolog dengan dirinya sendiri. Ada sisi lain dari pikirannya yang sulit dimengrti. Farhan tidak mengerti kenapa otaknya bisa begitu.


Menikah dengan Lisa tidak hanya membuat hidupnya berwarna seperti pelangi, tapi ia juga merasakan, hujan gerimis, badai, banji, beserta petir. Dan untuk kejadian ini bisa dikatakan sensasinya mirip diterpa angin puuting beliung.


Luar biasa rasanya.


Lisa adalah wanita terbaik yang paling pintar menjungkir balikkan hidup Farhan menjadi bervariasi. Selalu saja ada topping kehidupan yang ditambahkan wanita itu setiap harinya. Kadang menyebalkan, kadang juga bermakna seperti alunan musing yang sedang mereka dengarkan saat ini. Indah dan nyaman di telinga.


Karena sudah memasuki waktu makan malam. Lisa mengajak Farhan pergi ke kafe 'LEGEND'. Tempat hits anak Jogja yang selalu menjadi trending topic di kawasan itu.


Mereka berdua sedang menikmati makanannya masing-masih. Duduk berdampingan di sofa panjang yang cukup untuk dua orang.


Lisa menyodorkan piring kosong, ia baru selesai makan. Melihat sang suami uring-uringan, membuat Lisa menyambar piring Farhan. Lalu menyendok spagetty milik pria itu, dan terakhir ... Lisa menyodorkannya ke mulut Farhan dengan gaya anggun.


"Jangan gila! Apa kamu tidak melihat ada banyak manusia di tempat ini?" Farhan tertunduk malu. Menghindari tatapan-tatapan yang sebenarnya tidak ditujukan kepadanya.


"Aku suapi, sebagai bentuk maafku soal tadi. Mau ya, ini bagian dari kencan juga loh, Mas. Cepat makan."


"Jangan seperti itu. Aku sudah memaafkanmu dari tadi. Cepat turunkan tanganmu," bisik Farhan lagi. Ia semakin jengah mendapat perlakuan tidak biasa seperti itu. Karena dari umur tiga tahun, Farhan sudah dilatih makan sendiri.


"Makan, atau kamu semakin kubuat malu." Ancaman Lisa membuat Farhan menerima suapannya dengan gaya pasrah. Meraup dan mengunyah spagetti yang baru saja masuk ke dalam mulut.


Suapaan kedua masih ragu-ragu, ketiga mulai terbiasa, keempat ... dunia serasa milik berdua. Anggap yang lain ngontrak sesaat di dunia misteri yang tak kasat di mata.


"Yee ... akhirnya habis juga. Dasar Darling ... dadar guling yang sukanya malu-malu. Hehehe." Lisa menyingkirkan piring bekas makan Farhan. Lalu fokus menggoda pria dingin yang ada di sampingnya.


"Gimana konsep kencan ala anak muda? Kamu suka nggak?" tanya Lisa.


"Lumayan. Kecuali tempat yang tadi." Farhan bergidik ngeri. Masih trauma karena burung cicak rowonya sempat teraba bences itu, julukan untuk seorang pria yang berdandan seperti wanita.


"Habis ini kita kembali ke hotel 'kan?"


Lisa mengernyitkan dahinya tidak senang. Lalu menyergah dengan gaya protes. "Eh! No Mas Parlan. Ada satu tempat asik yang aku jamin kamu suka." Lisa ikut-ikut memanggil Farhan dengan panggilan bencong tadi. Panggilan Farhan versi kearifan lokal khusus warga Jogja katanya.


"Kali ini dijamin kamu suka." Lisa mengedipkan mata, memberikan kode menguntungkan pada benda favorit yang ada di balik sana.


Apakah aku harus percaya pada dia sekali lagi? Bagaimana jika ini jebakan betmen?


Farhan termangu, antara iya atau tidak.


***


Sementara jauh di seberang kota. Rico tengah termenung memikirkan nasib Farhan. Pria itu merasa tidak konsentrasi memeriksa laporan pekerjaannya yang ada di laptopnya. Ia baru saja mendapat laporan kegiatan Lisa dan Farhan dari bodyguard yang ditugaskan mengawasi mereka. Sebuah fakta gila yang dijelaskan oleh bodyguard suruhannya, langsung membuat Rico tersedak salad sayur yang ia nikmati. Untung Rico tidak langsung mati di tempat, karena jika ia mati di apartemennya, sudah dipastikan tidak akan ada orang yang tahu kecuali Farhan. Satu-satunya orang spesial yang hafal pasword rumah Rico.


Seperti yang Rico duga. Keselamatan Farhan selalu terancam setiap kali dilepas dengan boneka mampang yang satu itu. Namun jika dipikir-pikir, kapan Farhan bisa latihan maut kalau tidak di mulai dari sekarang? Toh ia sendiri yang memilih menjadikan wanita aneh itu sebagai pasangannya. Biar saja, biarkan dia tahu rasa menghadapi si cerdas Lisa yang hobi bersikap konyol.


Rico kembali lagi fokus pada pekerjaannya. Tapi semenit kemudiam ia mendorong laptopnya, mendesah frustrasi sambil menjenggut rambunya sendiri.


"Apa aku perlu menelponnya?" Sudah mengambil ponsel, namun diletakan kembali lantaran takut mendengar suara horor yang menyakiti hati Dipsy.


"Tapi? Aku tidak yakin dia baik-baik saja." Rico menatap ponselnya tak bergeming. Antara penasaran dan gengsi bercampur jadi satu adonan.


Ah, bagaimana jika Lisa meracuni pria itu? Masalahnya, ia memiliki tanggung jawab penuh dalam menjaga nyawa Farhan. Tuan Haris tidak akan memaafkan Rico jika Farhan sampai kenapa-napa.


Aikh! Apakah aku perlu menyusulnya? Terlalu memalukan, bukan?


Berbicara dalam hati. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Pusing menghadapi pikirannya yang berkecamuk. Ia jauh lebih khawatir pada Farhan dibandingkan ayahnya yang terbujur di rumah sakit. Entah. Mungkin bentuk kesetiaan dari bawahan yang disayang-sayang bossnya.


Kenapa tiga hari lama sekali si? Sepertinya aku tidak mungkin bisa tidur nyenyak.


***


Jangan lupa kasih bunga dan vote vocer hari Seninnya ya gengs, walau aku g tau manfaatnya apa🤣. Enak aja liat novel nangkring di rank 20 besar. Jadi semangat gitchu.


Eh ya, kalian udah bosen belum sih sama ceeita ini? Padahal aku belum masuk konflik.