
Farhan menaruh Cilla dengan hati-hati. Anak itu sudah terlelap dengan kotak yang masih dipeluknya erat. Pria itu menoleh ke samping, melihat Lisa yang juga ikut tidur sambil menyandar di bahu Farhan.
"Dasar tukang tidur," gerutu Pria itu.
Tangannya mulai menyangga kepala Lisa sambil merangkul tubuh lelap itu. Farhan bermaksud memindahkan Lisa agar bisa tidur nyaman di samping Cilla, namun gadis itu langsung bangun ketika melihat pergerakan Farhan yang terasa mengganggu.
"Eh, Tuan!" Lisa beringsut dari pelukan Farhan. "Maaf, aku ketiduran," ujar gadis itu. Lisa mengumpulkan nyawanya yang sempat tak seimbang. Lantas mengucak mata agar penglihatannya stabil.
"Aku pulang dulu ya, anak-anak juga sudah tidur sepertinya." Lisa berkata lagi.
"Aku antar," ucap Farhan menawarkan diri.
"Tidak usah, Tuan, jaga anak-anak saja. Aku akan memesan taksi online," tolak Lisa cepat. Tangannya bergerak Lincah sambil memesan taksi. Anak jorok itu tidak berniat cuci muka dan langsung kepikiran pulang.
"Aku cari bunda dulu, ya." Lisa berjalan keluar kamar sambil menatap layar ponselnya. Meninggalkan Farhan dan Cilla yang sedang tertidur tenang.
Tiga puluh menit berlalu, Farhan keluar dari kamar Cilla. Mencari Lisa yang sedari tadi belum menemuinya lagi.
"Lisa mana, Bun?" Farhan menghampiri bunda yang duduk di depan TV. Ada Cello yang sudah terlelap di karpet bulu.
"Lisa 'kan sudah pulang, memangnya tidak memberi tahu kamu?"
"Iksh! Anak itu," geram Farhan kesal.
"Tidak pamitan?" ulang bunda sekali lagi.
"Pamitan sih." Farhan mendudukkan dirinya. Ikut bergabung dengan bunda dengan hati bersungut-sungut dongkol. Harusnya Lisa berpamitan lagi saat hendak pulang, itulah yang Farhan mau.
"Metode yang kalian gunakan salah." Bunda berbicara tanpa menoleh. Matanya masih menatap layar teve dengan antusias. Membuat Farhan menoleh heran seraya berkata,
"Maksudnya apa, Bun?"
"Kalian menikah secara mendadak. Di saat Lisa belum melakukan pendekatan yang maksimal pada anak-anak, bukankah itu menyiksa diri kalian sendiri? Pengantin baru, tapi harus pisah ranjang sampai si kembar dapat menerima Lisa menjadi ibunya."
Farhan tertunduk dalam diam. Tidak ada jawaban sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
"Bunda harap kalian dapat berpikir secara bijak. Meskipun kalian tahu sikap Cilla sangat buruk pada Lisa, bunda tidak ingin kalian berdua menyalahkan Cilla—anak kecil yang tidak tahu apa-apa." Ada jeda keheningan sesaat. Hanya bunda yang berbicara, sementara Farhan tidak.
"Siapa suruh kalian menikah dadakan? Itu sama halnya kalian tidak menjaga perasaan si kembar. Adapun yang harus di salahkan bukan Cilla, tapi kamu dan Lisa. Katakan pada bunda, karena apa kalian menikah?"
Perempuan paruh baya itu tampak semakin serius. Wajahnya penuh rasa penasaran yang tidak mudah dijabarkan.
"Karena kami ingin menjaga si kembar," jawab Farhan logis.
"Hanya itu saja?"
"Iya." Farhan mengangguk dalam.
Bunda sedikit kesal mendengar ucapan Farhan. Kedua pasangan baru itu memang perlu di bawa ke dokter spesialis agar otaknya tidak geser. Sudah menikah dengan metode salah karena tidak ada pendekatan pada anak-anak, dan sekarang hubungan mereka pun tidak jelas.
"Tapi bukan hubungan seperti ini yang bunda harapkan dari kalian berdua, Farhan. Bunda juga berharap kalian dapat bahagia dalam menjalani hubungan rumah tangga kalian. Jawab jujur, pasti kalian tidak saling cinta 'kan?"
"Belum," Farhan menjawab apa adanya. "Tapi sedang diusahakan," lanjut pria itu sekenanya. Yang penting bunda berhenti mengatakan hal yang membingungkan otak Farhan.
"Harusnya kalian jatuh cinta dulu, baru bisa mencurahkan cinta kalian pada cucu-cucu bunda. Kalau begini, bunda jadi khawatir jika suatu saat anak-anak menjadi korban keegoisan kalian. Farhan, menikah tanpa cinta tidak akan berjalan mulus. Karena itu merupakan pondasi utama dalam berdirinya rumah tangga."
"Jaga baik-baik wanita yang sudah menjadi istrimu, jangan sampai pelukan lelaki lain terasa lebih hangat dari suaminya sendiri."
Setelah bicara itu, bunda langsung bangkit dan berjalan sombong menuju dapur. Membawa piring bekas makan Cello untuk dicuci. Farhan yang merasa ditikam tanpa sebab langsung berlari mengekori bundanya.
"Apa maksudnya, Bunda? Kenapa juga Lisa harus merasa hangat dipeluk lelaki lain. Aku masih bisa memeluknya."
Bunda menoleh sinis. "Karena kamu tidak peka! Pertama, bunda bisa melihat bahwa Lisa tidak nyaman di dekatmu. Kedua, kau tidak peka sama sekali jadi suami, harusnya kau mengantar Lisa pulang, bukan membiarkan Lisa pulang dengan supir taksi. Kamu kamu tidak peka sih."
"Aku sudah menawarkan diri, dia yang tidak mau." Farhan tidak mau kalah. Logisnya memang seperti itu.
"Ya tuhan, kalau perempuan menolak, itu artinya dia sungkan. Kamu harus tetap memaksa sebagai bentuk perhatian!" tukas bunda.
Wanita paruh baya itu mencuci piring sambil sewot-sewot. Diletakannya beberapa piring sampai bunyinya saling bergesekkan keras.
"Memaksa bukankah tidak baik, Bun? Kenapa jadi aku yang salah?"
"Sudahlah! Susah bicara denganmu. Sekarang kamu pergi ke apartemen, tinggallah dengan Lisa beberapa minggu. Anak-anak biar menjadi tanggung jawab bunda."
Farhan memang harus diajari pakai urat karena level kebodohan cintanya sudah mendasar. Sebagai wanita, bunda tidak ingin Lisa merasakan kesepian karena harus pisah dengan suami di saat masih hangat-hangatnya.
"Tapi—" Bunda menyela Farhan cepat. "Turuti omongan bunda, atau kukutuk kau jadi tiang listrik, Farhan!" Suara bunda menggelegar seperti petir yang menyambar.
"Kenapa harus tiang Listrik, biasanya bukannya batu?"
"Farhan!"
"Iya, Bunda ... Farhan akan menyusul Lisa." Pria itu mendesah pasrah. Berdebat dengan bunda tidak ada gunanya. Sebagai anak bawang, Farhan hanya mampu bilang iya. Jangan pernah ada kata tidak jika tidak ingin jadi Malin Kundang.
"Ya sudah sana pergi."
"Hmmmm." Farhan berbalik menuju kamar, hendak ganti baju. Akan tetapi, pria itu kembali menoleh ragu saat sudah mencapai ambang pintu keluar dari dapur.
"Bunda."
"Apalagi?" gertak bunda sebal.
"Sepertinya minggu depan saja pulang ke apartemennya. Sekarang Lisa sedang datang Bulan," ucap Farhan sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
Napas bunda mendadak naik turun. Darahnya mendidih seketika saat mendengar ucapan tidak tahu diri dari anaknya.
"Farhan!"
Sebuah panci melayang mengenai bingkai pintu. Untung Farhan masih sempat menghindar dari amukan seorang ibu garang.
"Apa kau pikir wanita yang onderdilnya sedang tidak dapat dipakai harus kau abaikan? Tidak perlu ditemani?"
Farhan mendadak cengo. Sebagai pria normal, apa salahnya ia mengatakan hal sesungguhnya? Andai wanita tahu, betapa tersiksanya seorang suami yang mendapati istrinya datang bulan di saat mereka baru menikah.
Bagi kaum lelaki, itu adalah kutukan dari Semesta yang tak berpihak padanya.
Mata bunda menyalang tajam. Selanjutnya, ada kegiatan dari konyolnya ibu dan anak. Tidak perlu dijelaskan, pria gunung es juga bisa terlihat layaknya manusia normal jika sudah berdebat dengan ibu kandungnya sendiri.
***
Hargai penulis dengan memberi vote point yang ikhlas ya guys, jangan cuma butuh crazy up aja. Aku mau nulis lagi, semoga bisa up banyak hari ini. Tetap dukung 😍