
"Ternyata, Boss Gunung Es kalau cemburu lucu juga, ya? Hahaha." Tawa semakin pecah, menggema nyaring di ruang kerja Farhan yang cukup luas. Andai ada Rico, pasti ini akan jadi hiburan menarik untuk dirinya yang sedang galau.
"Aku tidak cemburu," kilah pria itu murka. Meskipun tidak tahu artinya cinta, Farhan yakin bahwa perasaannya adalah bentuk tidak rela Farhan jika miliknya direbut orang lain. Bukan tentang yang aneh-aneh.
Cinta? Farhan tidak yakin bahwa Tuhan sudah menanamkan hal itu di hatinya yang kejamnya.
"Wajahmu merah, kamu juga marah saat aku bilang mau menikahi Rico. Itu artinya cemburu." Lisa balas dengan kalimat mengejek yang cukup logis hingga Farhan kehilangan kata-katanya. Jarak duduknya yang tidak jauh membuat Lisa dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah merona pria itu.
Alis Farhan menukik tajam. Ia sempat mendengkus hingga akhirnya berkata,
"Bisakah kerja yang serius? Usahakan jangan mengajak ngobrolku terus-menerus."
Seperti biasa, Lisa membantah sambil berjalan ke arah pria itu. Matanya berkedip nakal, lalu melompat ke pangkuan Farhan secepat kilat. Wanita itu sedang menggoda Farhan secara terang-terangan. Efek bosan karena kerjaan menumpuk membuat Lisa gila dan merindukan kesenangan. Toh, mereka adalah pasangan halal.
"Jangan kurang ajar kamu Lisa. Jika kamu bukan istriku, aku sudah mengusirmu dari tadi." Murka, Farhan melayangkan tatapan membunuh pada wanita yang ada di depannya.
Lisa mendekat semakin berani, lantas menyentuh wajah Farhan dengan lembut. "Bekerja terus sangat membosankan, Sayang. Sebentar lagi jam makan siang. Lebih baik kita bersenang-senang sesaat. Melepas hormon endrofin yang sudah menumpuk di tubuhmu."
Ucapan dan kilatan-kilatan di mata Lisa sudah jelas, bahwa wanita itu menginginkan sesuatu yang ekstrim terjadi di kantor Farhan.
"Ini kantor, jangan sembarangan." Farhan mendesah berat. Ia yakin tidak akan bernapsu melahap Lisa di tempat kerjanya sendiri. Farhan sedikit mendorong tubuh Lisa yang sepertinya terus melawan perintah Farhan.
Lisa menusuk dada Farhan dengan telunjuk. Mengedipkan mata nakal penuh arti. "Aku akan membayar kekesalanmu semalam di sini. Tenang saja, aku bisa melakukannya dengan lembut sampai kamu tahu artinya bersenang-senang."
"Yakin kamu tidak mau mencobanya, Sayang?" Lisa kembali meraih sisi wajah Farhan dengan kedua tangannya. Mengunci wajah itu agar terus menghadapnya.
Satu kecupan jatuh dengan lembut. Lisa menyapu habis permukaan basah milik Farhan sampai pria itu kesulitan bernapas. Tangannya bergerak lincah, membuka satu-persatu kancing kemeja Farhan seperti wanita bayaran yang sudah profesional.
Mungkin ini gila, tapi Farhan terbuai dengan kenakalan wanita itu. Merasa candu.
"Jangan salahkan aku karena ini maumu sendiri!" Farhan membopong tubuh Lisa, ia berjalan ke arah sofa, lantas membanting tubuh itu cukup kasar.
"Wow, aku suka gaya kasar menantang itu!" seru Lisa bangga.
Pria itu berjalan ke arah pintu. Mengunci pintu secepat kilat. Lalu, Farhan menyibak gorden di ruangannya agar cahaya matahari tidak dapat masuk. Farhan tidak memiliki ruang istirahat khusus. Pria itu tidak membutuhkan ruang seperti itu karena ia sendiri nyaris tidak pernah beristirahat santai di jam kerja. Namun, ia mulai memikirkan untuk membangun kamar istirahat di ruang kerjanya.
Mata Farhan kembali terarah pada tubuh Lisa yang menggoda. Jantungnya bertalu-talu tidak jelas. Gagang gayungnya bersiap-siap tempur. Sudah meronta dan tidak mau berhenti maju seperti tadi malam.
"Come on, Baby!"
***
Skip-skip, tahan. Masih pagi gengs, jangan lupa kasih vote poin biar kelanjutannya cepet. 😝
Makasih semua.