
"Jangan marah dulu, kita bicarakan baik-baik" Lisa berhasil menarik lengan Farhan sebelum kaki itu mulai melangkah pergi. Persiteruan berubah menjadi gulungan-gulungan cinta yang membuat dua mahluk itu kembali saling memeluk. Tak akan kubiarkan kamu pergi meskipun tidur di sofa sekalipun. Begitulah mata Lisa menafsirkan tatapannya pada Farhan.
Abaikan si kembar yang tidur seperti kerbau hibernasi. Bahkan dengkuran halus mereka nyaris tak terdengar oleh Lisa dan Farhan.
"Maafin aku ya, Mas."
Sikap Lisa berubah drastis setelah berjibaku dengan perkara yang ia buat sendiri. Ia merasa menyesal dan tidak enak hati dengan kelakuan spontannya barusan. Perempuan itu memang didesain tidak bisa merajuk berlebihan seperti wanita-wanita pada umumnya. Apalagi pura-pura jual mahal demi sebuah harga diri. Bukan karakter Lisa seperti itu. Dia sudah dididik bersikap patuh kepada Farhan sejak usianya 17 tahun. Wajar jika Lisa tak mau membuat Farhan marah apapun yang terjadi.
Walau kadang ada masa-masa anak itu menyebalkan di mata Farhan.
Kembali lagi pada permasalah utama. Lisa mengelus dada kiri Farhan, menormalkan tempramen pria itu agar lebih tenang. Tubuhnya masih menimbulkan getar marah sampai sekarang, entah masalah Lisa yang merajuk atau gara-gara ciuman yang sempat diungkit Farhan tadi. Lisa bukan cenayang yang bisa menebak keterdiaman Farhan dengan mudah. Logika ataupun IQ-nya tak setinggi Albert Einstein dalam menelaah sesuatu.
Lalu, bibir itu pun memberanikan diri untuk mengurakan kebenaran yang sesungguhnya. "Sebenarnya aku belum pernah ciuman. Aku bohong sama kamu, Mas." jelas Lisa mengingatkan perkataannya waktu di Jogja tempo lalu.
Farhan sedikit terkesiap. Lalu menyerang balik Lisa dengan gaya batu bernapasnya.
"Apa menurutmu aku peduli?" Ketus Farhan bertanya. Menyembunyikan rona bahagia yang sesungguhnya.
"Yang aku bilang waktu itu hanya untuk membuatmu cemburu. Meskipun aku pernah pacaran saat kuliah, bukan berarti aku melakukan kegiatan bebas. Kamu 'kan tahu sendiri semengerikan apa orang-orangmu dalam mendidikku, Mas. Jadi aku tidak berani membantah ataupun melakukan kesalahan yang akhirnya merugikan diri sendiri. Aku selalu berusaha mematuhu semua peraturanmu."
"Bagus jika kamu tahu diri."
Inilah satu hal yang sangat disukai Farhan dari Lisa. Yaitu sikapnya yang patuh dan penurut, beda dari kebanyakan wanita lain yang terkadang membuat pria muak. Mungkin hal itu juga, yang tanpa sadar membuat Farhan melirik Lisa lebih dari seorang gadis kecil ataupun pembantu di masa lalu.
"Iya. Maaf yang tadi, aku hanya terbawa emosi sesaat," jelas Lisa lagi.
"Seharunya kamu paham tentangku, bagaimana selama ini aku menjaga kehormatanku sendiri meskipun aku seorang pria. Aku tidak memiliki waktu untuk sesuatu yang tidak penting, sebaiknya jangan pernah cemburu pada hal-hal yang tak berguna seperti tadi. Atau aku benar-benar akan mencekikmu atas kelakuanmu yang kelewat batas."
"Iya. Aku salah." Wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada Farhan. Sebenarnya Farhan tidak marah atau menjadikan hal tadi sebagai masalah. Hanya saja ia merasa rindu. Ingin melihat sosok Lisa yang ketakutan seperti ini.
Sudah lama aku tidak melihat sikapnya yang patuh seperti ini semenjak dia menjadi istriku.
***
Akhirnya, ia urungkan niat itu. Lalu beralih pada Farhan yang masih terpaku efek bangun tidur.
"Mau mandi sekarang?" tanya Lisa yang hendak menyiapkan air hangat. Matanya melirik petunjuk waktu yang tertuju pada angka setengah enam pagi.
"Nanti saja, aku masih lelah."
"Lelah?" tanya Lisa merasa aneh.
"Hmm. Semalam aku mimpi aneh. Dan aku merasa lelah karena mimpi itu."
"Ck. Memangnya mimpi apa sampai kamu bangun dengan tubuh lesu seperti itu? Jangan bilang—" Lisa mengedipkan mata. Maksudnya jangan bilang bahwa kamu mimpi bercinta 12 ronde sampai pagi. Hehe.
"Aku mimpi mengejar-ngejarmu sepanjang waktu, sambil bilang: Aku cinta kamu."
"A-apa?" Lisa menutup mulutnya tidak percaya. "Jangan-jangan artinya kamu sudah sadar kalau aku adalah wanita yang kamu cintai? Hahaha."
Satu cubitan melayang keras di hidung Lisa. Membuat wanita itu tersentak dari pikiran halunya. "Itu hanya mimpi. Belum tahu kenyataannya seperti apa. Aku tidak mau menafsirkan sesuatu yang belum aku kuasai." Jawaban Farhan tak mematahkan harapan Lisa sama sekali. Gadis itu tersenyum cerah layaknya sinar matahari yang masuk melalui cela jendela.
"Hatiku sudah didesain seperti baja. Selama tidak ada wanita kedua atau keempat yang singgah di hatimu, aku tidak masalah. Dan pastikan, aku adalah orang pertama yang kamu cinta saat kamu mulai jatuh cinta nanti. Oke."
Wanita itu turun melompati tubuh Farhan. Lalu melangkag ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
***
Up Ke 3 kali
Komen dan like yang banyak dong....🥰🥰