
Jangan pernah bermimpi kehidupan nyata sama dengan cerita fiksi di dalam novel. Hidup itu tidak boleh terlalu berhalu-halu. Sejatinya, tidak ada satu pun burung yang mampu bertahan ketika ada sangkar emas yang tergeletak di sampingnya. Terlebih sangkar itu sudah berstatus halal. Di mana si burung bebas membuka dan menutup pintu masuknya sesuka hati.
Apakah Farhan akan melakukannya malam ini?
Tentu saja jawabannya iya. Tidak perlu menunda-nunda sesuatu yang sudah semestinya untuk dilakukan. JAIM ala-ala hanya akan membuat si burung meronta-ronta—kasihan. Bukankah menyiksa diri sendiri termasuk perbuatan berdosa?
Maka di sinilah Lisa sekarang. Duduk sambil meremas seprai, menunggu sang suami yang entah sedang pergi kemana. Mungkin mandi sambil menghitung kancing. Cukup positif saja.
Rintik hujan di luar rumah semakin memperindah suasana. Apalagi dua anakan piranha tinggal di rumah neneknya selama belum mendapat pengasuh baru. Lengkap sudah. Sepertinya malam ini akan berakhir panjang untuk kedua pasangan konyol itu.
Tiga jam berlalu, Lisa menoleh saat melihat pintu kamar di buka perlahan. Buru-buru ia mematikan ponselnya meski rasanya berat. Dalam hati Lisa mengumpat, kenapa Farhan harus datang di saat drama yang ia tonton sedang seru-serunya. Si pria hendak menyatakan cintanya pada wanita. Lisa ingin tahu bagaimana terusannya. Apakah pria itu ditolak? Ah, Lisa sungguh kesal.
Berjalan pelan, Farhan mematikan saklar lampu di sudut ruangan. Lantas ikut bergabung dengan Lisa yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur sambil memeluk bantal.
"Belum tidur?" tanya pria itu datar.
Lisa menutup hidungnya. Bau alkohol dari mulut Farhan menyeruak pekat. Ternyata tiga jam pria itu menghilang adalah untuk minum.
"Anda mabuk, Tuan?" tanya Lisa tanpa menjawab pertanyaan Farhan sebelumnya.
"Hanya minum satu gelas," jawab Farhan.
Ingin Lisa bertanya, terus tiga jam ngapain aja? Hmmmm. Namun semua itu tertahan di hati.
"Kemarilah!" titah pria itu. Jarak duduk mereka terlalu jauh, seperti pasangan suami istri yang sedang bermusuhan. Harusnya, keduanya saling memberikan kehangatan, bukannya terpenjara dalam belenggu kecanggungan.
"Eh, iya," jawab Lisa.
Gemetar-gemetar takut, Lisa mendekat perlahan. Segala pikiran berkecamuk ada di dalam otaknya. Dari yang biasa sampai pikiran ngeres. Semua bercampur jadi satu. Ia sempat berpikir bahwa hubungan pernikahannya dengan Farhan tidak seperti ini. Setidaknya jangan ada kontak fisik karena Farhan belum bisa mencintainya. Tapi...
Sepertinya Lisa tidak tahu, bahwa pria lebih mengutamakan hastrat dibandingkan perasaan. Para kaum berkromosom XY ini mampu meniduri wanita walau tanpa rasa cinta. Apalagi Lisa adalah istrinya. Cepat atau lambat, gadis itu tetap harus menyelesaikan tugas pertamanya menjadi seorang istri.
"Lebih dekat," gertak Farhan saat Lisa bersikap malu-malu kucing. Sama sekali tidak ada kelembutan di atas ranjang itu. Farhan memiliki cara agak aneh untuk mengapresiasi hubungannya dengan sang istri.
"Apakah seperti ini?" Lisa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Farhan, lantas menjatuhkan kepalanya di atas tumpukan roti sobek milik si gunung es.
"Hmmm," balas Farhan berdeham.
Dari posisi ini, Lisa dapat merasakan kegugupan Farhan walau pria itu tidak melakukan apapun. Remang-remang ia merasakan Farhan seperti orang sesak napas yang menahan sesuatu.
Hening sejenak, Farhan sibuk menjadi orang bodoh yang menjelma sebagai patung manekin. Padahal kesempatan langka terbuka luas. Sebagai pria normal, harusnya Farhan menerkam si mangsa yang sudah membuka jalan lebar untuknya berbuat lebih.
"Kenapa kau mabuk, Tuan?" Lisa bertanya sekali lagi. Berharap Farhan mau menjawab pertanyaannya.
"Aku gugup, tidak percaya diri."
Ya?
Sungguh Lisa tidak menyangka, Farhan si pria yang tidak pernah merendah, berani mengakuki semua itu di hadapan sang istri.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja, Tuan." Lisa merangkum wajah pria itu. Lantas menjatuhkan bibir manisnya pada bagian terpenting milik pria itu.
Seketika mata Farhan membola, terkejut dengan keagresifan wanita itu. "Bukankah kau bilang tidak ingin ada kontak fisik?" tanya Farhan.
"Bukankah Tuan Farhan yang budiman ini tidak menerima penolakanku tadi siang? Aku tidak ingin dijatah seratus ribu perminggu," jawab gadis itu setengah menggoda.
Lembut, Lisa menjatuhkan bibirnya sekali lagi. Menuntun naluri Farhan untuk segera berbuat lebih. Dalam sekejap, hasrat pria itu meninggi. Lengannya mulai menyusuri lekuk tubuh indah milik Lisa.
Pancingan gadis itu sukses membuat Farhan menguasai permainan. Hanya butuh waktu singkat, Farhan telah berhasil mengunci tubuh mungil itu di bawah kendalinya.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Farhan selain anggota tubuhnya yang bekerja semaksimal mungkin. Dengan penuh keyakinan, pria itu berhasil menanggalkan semua kain penghalang yang menutupi tubuh Lisa.
Memilih terpejam, Farhan tak berani melihat bagian-bagian menggoda itu. Lantas, ia menenggelamkan wajah berhasratnya di atas roti bakpao milik sang istri. Farhan mulai menikmati sepotong coklat spesial yang ada di tengah-tengahnya. Berharap ada cairan larva yang keluar dari pusat coklat itu. Walau ia sendiri sudah tahu bahwa harapannya sia-sia.
Jerit nikmat mulai keluar dari bibir Lisa. Membawa gadis itu lebih jauh dari tingkat kesadaran. Tidak ada yang mereka pikirkan selain hasrat yang harus segera dituntaskan.
Malam itu, mereka larut dalam balutan dewi romansa. Keduanya saling memberikan mahkota berharganya secara suka rela. Bahkan, Lisa tak peduli meski pria yang sudah menggagahinya belum memiliki rasa.
***
Pagi menyapa begitu cepat, membangunkan semua manusia yang harus bangun untuk menjalani aktifitas. Mengais rejeki untuk bertahan hidup di tengah persaingan ketat penduduk bumi tentunya.
Mengerjap-ngerjap, Farhan membuka matanya perlanan. Mencari sosok gadis yang baru saja ia gagahi tadi malam.
Pria itu menyibak selimutnya sedikit. Farhan tersenyum tatkala melihat noda darah sudah mengering di bawah tubuh Lisa.
Pria itu segera menarik badan polos milik sang istri. Mengecup kuat pipinya hingga Lisa terbangun.
"Eugh, Tuan!" lirih gadis itu.
"Tidurlah jika masih ngantuk." Pelukan dipererat.
Lisa menggeleng samar, lantas merangkum wajah pria yang sedang menatapnya lekat sedari tadi. Ah, tidak menyangka bahwa semalam Farhan telah berhasil merenggut mahkota berharganya.
"Kapan si kembar pulang ke sini?" tanya Lisa membuka omongan.
"Jika mereka sudah memiliki pengasuh baru," jawab Farhan seraya menjatuhkan dagunya di ceruk leher Lisa.
"Aku takut," celut Lisa. "Takut kenapa?" tanya Farhan.
"Takut Cilla tidak dapat menerima kehadiranku di rumah ini. Bagaimanapun, gadis itu akan murka jika tahu kita sudah menikah.
"Itu gunanya kita menyembunyikan pernihakan kita. Setidaknya, sampai Cilla mau menerima kenyataan kau adalah ibunya sekarang."
"Baiklah." Lisa mengalihkan pembicaraannya. Iseng, ia bertanya,
“Tuan, apa Anda sudah pernah menonton film biru?”
“Apa itu film biru?” tanya Farhan dalam mata terpejam. Ia masih menikmati kehangatan dari tubuh Lisa yang rasanya seperti mimpi; Tubuh mulus yang baru saja ia dapatkan tadi malam. "Apa film dengan layar biru?"
Lisa mendesah sebal sebelum menjawab. “Sejenis film mantap-mantap, anu-anu, enak-enak, hentai, dan masih banyak istilah lainnya. Yang jelas, itu adalah film yang menampilkan pria dan wanita sedang bercinta."
“Uhukk!”Farhan terbatuk sambil menelan ludah. “Benarkah ada film semacam itu? Apa mereka tidak malu dilihat banyak orang.”
Detik itu juga Lisa menggigit bantal guling yang ada di depannya.
Aku frustasi, teriaknya dalam hati.
“Kenapa kau malah menanyakan hal seperti itu, Tuan? Aku mana tahu,” decak gadis itu sebal.
“Eh, maafkan aku. Selama ini aku selalu sibuk bekerja. Sejak umur 18 tahun, ayah angkatku selalu mendidikku dengan keras. Selama ini, hanya dokumenter perusahaan yang aku tonton.”
“Lalu sebelum delapan belas tahun?”
“Aku bekerja. Dari tujuh tahun aku sudah dilatih untuk berkerja keras," ujar pria itu.
Lisa mendesah pasrah, mencoba mengerti keadaan Farhan.
Ya sudahlah, mungkin ini sudah jalannya.
***
Adegan 21+ nya gak bisa yang hot ya, di marahin mangatoon dan noveltoon nanti.
Jangan lupa kasih vote, 😍