HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Halusinasi



Keadaan di taman belakang sangat kacau. Kulit kacang dan botol bekas minuman berserakan di mana-mana. Waktu sudah hampir pagi. Namun, alunan musik berjudul 'kolam susu' yang menjadi kebanggan mereka sewaktu muda masih terus berputar. Di mana tiga manusianya sudah terkapar tak berdaya dengan gaya ikan asin dijemur.


"Satu … dua … tiga … hihihi." Farhan tertawa geli sambil menghitung jari kirinya berulang-ulang. Felix sampai pusing mendengar pria itu latihan menghitung sedari tadi. "Kenapa jariku tumbuh satu lagi? Bukankah semalam masih lima. Menghitung lagi ... lagi dan lagi untuk memastikannya.


Kebiasaan Farhan yang tidak pernah orang tahu. Dia akan menghitung jarinya berkali-kali di saat mabuk.


Satu tepukan mendarat di kepala Farhan. Felix meraih tangan Farhan agak kasar. "Dasar bodoh! Biar aku yang menghitungnya. Mana mungkin jarimu ada enam," tampik Felix setengah menggerutu.


Pria itu mulai menghitung dengan mata kunang-kunang yang dipaksakan agar tetap terjaga. "Satu … dua … tiga … empat … hmm … hmmm." Felix bergumam-gumam. Lalu tertawa dengan gaya mengejek Farhan.


"Haah! Sudah kubilang, jarimu tidak mungkin tumbuh satu." Felix menyeringai bodoh. Lalu menghempaskan tangan kiri Farhan tanpa aba-aba.


"Jadi ada berapa jariku?"


"Tujuh!"


"Ah, tujuh ya? Berarti aku yang salah menghitung. Ternyata tumbuh dua. Coba hitung yang satu lagi." Farhan mengulurkan tangannya pada Felix seperti hendak minta dimani pedi.


Felix mulai menghitung. "Satu ... dua … tiga … empat. Sialan!" Tiba-tiba Felix menghentikan kegiatannya. Pria itu kembali memukul kepala Farhan lebih keras lagi. "Itu bukan jari tangan bodoh, tapi jempol kaki."


"Hah?" Farhan terbengong-bengong menatapi tangan kanannya. "Sejak kapan kakiku tukeran tempat?"


"Mana kutahu, tanya Bryan sana!" ketus Felix yang sudah tidak tahan lagi menahan matanya.


"Coba periksa kakiku? Kenapa bisa pindah tempat begini?" Farhan yang tidur di tengah mengulurkan tangan kananya.


"Brisik! Jangan menggangguku." Bran memeluk bantal sambil menepuk-nepuknya pelan. "Ssstt ... tidur lagi ya, kesayangan daddy, kasihan mommy lelah, Nak. Hihihi," Bryan tergelak seperti orang gila.


"Chika?" Felix memandangi tiang yang jaraknya hanya empat meter dari mereka. Tiang itu tampak mempesona di mata Felix. Seksi dan menggoda sekali. Membuat ia yang hendak tidur jadi bangkit kembali. "Bry ... Bry!" Menepuk bahu Bryan keras-keras.


"Hmmm ... hmmm." Pria itu bergumam lirih. "A ...apaah?" tanya Bryan dengan mata setengah terbuka.


"Lihatlah! Untuk apa Chika datang kemari?"


"Mana?" Bryan bangun dari posisi tiduran, lalu duduk sambil melihat ke arah yang ditunjukkan Felix tadi. "Kau benar …" Mata Bryan mengerjap-ngerjap dengan mulut melongo. "Mau apa dia datang ke sini menggunakan baju renang?"


"Tentu saja mau berenang," timpal Farhan dalam mata terpejam. Ternyata pria itu masih sedikit sadar dan bisa mendengar suara disekitarnya.


"Hihihi ... itu namanya kode Alam. Sana pergi." Bryan tertawa bodoh sambil memegangi kepalanya.


"Aku akan menemaninya." Felix turun dari gazebo. Ia mengepangkan tangannya, bermaksud hendak memeluk Chika. Namun, ia jatuh terhoyong-hoyong tepat di samping tiang tersebut. Karena sudah tidak tahan lagi, Felix tertidur di atas rerumputan. Sambil berhalusinasi memeluk Chika yang hanya mengenakan baju renang seksi.


Bryan kembali menjatuhkan tubuhnya. Ia menarik kepala Farhan. Menaruhnya di lengan sendiri seolah itu adalah kepala Shea.


Satu kecupan melayang di kening Farhan. "Tidurlah, Sayang! Jangan bergerak-gerak," ucap Bryan sebelum akhirnya tak sadar diri menyusul Farhan dan Felix.


Penampilan mereka semakin kacau balau. Bryan melepas kaos polosnya karena gerah. Felix hanya memakai kolor karena bajunya terkena muntahan. Sementar Farhan, pria itu masih menggunakan baju lengkap. Namun, sepatunya sudah berpindah tempat ke tangan sebelah.


***


Novel By: Hello my Boss & My Perfect Daddy.


Dua bab langsung meluncur. Jangan lupa vote ya guys.