
Warning: Mengandung materi 21+. Dede gemes skip dulu ya.
.
.
.
Seminggu berlalu, ini adalah hari terakhir Lisa sebelum Farhan berangkat ke Amerika. Selayaknya pasangan normal lainnya, mereka pun melakukan hubungan suami istri sebelum kisah mereka terpisahkan jarak dan waktu. Dan kali ini, Lisa memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya kepada Farhan saat keduanya tengah duduk berdampingan sambil bersandar di sandaran ranjang.
"Pria itu rata-rata egois, gak pernah mikirin kepuasan istrinya! Kalau dia udah puas sendiri yaudah. End!"
Sontak kalimat yang keluar dari bibir Lisa membuat Farhan menohok sempurna. "Termasuk aku?" tanya pria itu menekankan nada bicaranya sambil menunjuk diri sendiri.
"Iya ... kadang kamu juga suka begitu walau gak setiap saat. Mas Al kira dengan melakukannya berkali-kali bisa membuat aku senang?" Engga tau, justru kita 'wanita' malah sering dapet capeknya doang tanpa kepuasan apa-apa."
Ungkapan isi hati Lisa seolah mewakili ribuan wanita di dunia yang nasibnya sama seperti dirinya. Sakit, tapi tak berdarah. Begitulah kira-kira perasaan mereka.
"Emmm. Maaf." Farhan menunduk datar. Harga dirinya hancur mendengar ungkapan seperti itu. Kalau bukan Lisa wanitanya, mana ada yang berani berkata seperti itu.
Kalimat Lisa berikutnya semakin membuat Farhan tersudut. Tanpa basa-basi lagi ia memberikan tembak mati yang memperkikis harga diri suaminya. "Belajarlah membuat wanita nyaman sebelum mementingkan kepuasan sendiri. Bisa 'kan?" Nada suara itu terdengar menuntut sekaligus mengejek. Kemudian Lisa berkata lagi, "Aku rasa sih para pria di dunia bukannya tidak bisa membuat wanitanya nyaman ya, tapi mereka memang sengaja malas melakukannya. Kayak kamu gini. Merasa hebat sama durasi, tapi tidak pernah tau gimana perasaan istri."
Kekalahan telak berada di pihak Farhan. Pria itu mengerjap diam sejenak sambil merati harga dirinya yang terkoyak.
Setelah beberapa menit, barulah Farhan memberanikan diri untuk menjawab, "Maaf. Aku terlalu menuruti egoku tanpa mementingkan perasaanmu."
"Hmmmm." Lisa membenamkan wajahnya di dada Farhan. Ia sudah tidak peduli lagi apa yang Farhan rasakan saat ini. Tekatnya mantap bulat. Sekali-kali wanita iti memang harus berani mengungkapkan isi hatinya seperti Lisa begini. Walaupun agak tabu, hal ini sangat penting demi sebuah keutuhan hubungan rumah tangga untuk kedepannya kelak.
Coba bayangkan, ada barapa banyak kasus perselingkuhan hanya karena masalah kurangnya keterbukaan seperti ini? Maka dari itu Lisa tidak ingin hal gila itu sampai terjadi pada dirinya. Selingkuh karena tidak puas. Ah, memalukan sekali konflik rumah tangganya. Padahal kita masih bisa berkata jujur pada pasangan.
Jika malu adalah faktor utama wanita. Lebih malu mana dengan 'digrebek selingkuh' seperti kasus yang sudah-sudah? Lisa si ogah.
"Kamu tahu kenapa banyak wanita yang mencari kepuasan di luar sana?" Satu tangan Lisa beralih, memainkan dada bidang Farhan yang masih polos tanpa penghalang sama sekali. Dia tersenyum sembari membentuk gambar hati tidak jelas di ruang kosong berbentuk bidang itu. "Tahu tidak?" Bertanya untuk kedua kalinya.
"Apa kamu mau bilang karena mereka tidak puas dengan suaminya?" tebak Farhan. Seketika mata itu melotot ke arah Lisa.
"Ya, itu memang salah satu faktor utamanya. Uang kamu memang tidak habis dipakai menafkahi tujuh turunan, tapi aku sebagai wanita juga butuh nafkah batin, Mas." Lisa beranjak dari zona nyaman. Kemudian membenarkan duduknya sambil menatap Farhan lekat-lekat. "Adapun mereka yang tidak berselingkuh, adalah mereka wanita kuat yang bisa tahan dengan sikap suaminya yang seperti itu. Tapi kalau aku sih engga bisa punya suami yang egois kayak gitu. Kita harus bisa give and take soal ranjang. Aku bakalan protes kalau ada ketidakseimbangan kayak gini."
Lisa menjunjuk dada kiri Farhan dengan jari telunjuknya seraya berbisik, "Jadi jangan pernah buat aku kecewa dengan keegoisanmu kalau kau kamu tidak mau istrimu mencari pria lain."
"Kamu berani mengatakan itu padaku?" Mata Farhan sudah melotot tajam. Emosinya meluap seketika saat mendengar ucapan Lisa yang santai, tapi penuh makna ancaman tajam di dalamnya.
"Demi kebaikan kita, Mas. Untuk saat ini aku tidak mempermasalahkan karena aku sedang hamil. Tapi lain kali, aku tidak mau kamu bersikap egois. Harus ada simbiosis mutualisme di antara hubungan ranjang kita. Karena kepuasan tidak hanya dibutuhkan oleh pria saja, tapi kita para wanita pun menginginkan hal yang sama."
Farhan langsung memalingkan wajah malunya untuk ke sekian kali. "Maaf." Kalimat itu keluar datar dari bibir Farhan tanpa berani menatap objek lawan bicaranya.
"Maafkan aku juga Mas ... aku engga bermaksud merendahkanmu atau bagaimana sama kamu. Tapi kadang kamu suka buru-buru tanpa memikirkan perasaan dan kenyamananku sebagai wanita. Bikin aku jadi geram sendiri, tahu?" Tangannya sudah bermain apik membelai setiap inci dada Farhan kembali. Kemudian melayangkan kecupan sayang di pipi kiri pria itu agar malunya cepat hilang.
"Jangan merasa jatuh ya, ini demi kebaikan kita bersama. Supaya kamu bisa menjadi suami yang lebih manis dan guruih." Bisikkan kalimat yang keluar dari bibir Lisa membuat Farhan sedikit lebih optimis.
"Iya." Pria itu hanya bisa menjawab datar. Mukanya masih memerah walaupun Farhan sudah berusaha menetralisir rasa malunya mati-matian. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik dalam hal apa pun.
Janji Farhan dalam hatinya.
***
Beginilah Farhan Lisa dengan berbagai kekurangan. Tokoh utama di novel ini tidak didesain sempurna seperti novel lain. Maaf ya.
Jangan lupa kasih bunga dan kopi ... vote-vote poinnya yang banyak untuk yang suka.
Terima kasih.