HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kisahku 1



Helaan napas tenang menandakan bahwa hati Lisa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Wanita itu memang pandai merubah suasana hatinya semudah membalikan telapak tangan. Meskipun begitu, Lisa tetap saja sosok mahluk lemah yang suka menangis jika hatinya disakiti. Sekali pun ia bersikap kuat, tetap akan ada masa di mana ia menunjukkan kerapuhannya di depan orang lain. Apalagi pada Farhan yang notabene adalah suaminya sendiri.


Dari segi ini, Farhan mulai paham bahwa hati wanita tak sekuat penampilannya yang selalu hebat. Mereka mudah marah, lebih suka menggunakan hati daripada logika, dan tentunya sensitif jika mendapat perlakuan yang menyinggung dari lawan jenisnya.


Menghela napas gugup, Farhan menggenggam tangan Lisa dan membawa wanita itu lebih dekat ke dalam dekapannya. Ia terlihat canggung, karena ini adalah pertama kalinya ia bercerita pada orang lain tentang pahitnya hidup yang ia pernah ia lalui selama ini. Bahkan, bunda saja tidak pernah mendengar sedihnya hidup Farhan.


"Aku akan mulai cerita dari karirku terlebih dahulu agar kamu paham seperti apa diriku," ucap Farhan dengan helaan napas seberat ditimpa dua gunung.


"Silahkan," jawab Lisa.


Cerita pun di mulai.


"Aku bukan tipe orang yang bangga dengan harta atau kekuasaan yang kumiliki, tapi orang lain selalu memandangku dari segitu," ujar Farhan mulai bercerita.


Lisa mendengarkan dengan seksama, menguatkan hatinya yang setebal baja agar lebih tegar dari sebelumnya. Meskipun nasib Lisa bisa dikatakan kurang beruntung, akan tetapi ia selalu tidak kuat melihat nasib orang lain yang tidak beruntung juga. Lisa sering berharap agar ia saja yang bernasib buruk, meskipun pada kenyataanya ada banyak nasib orang yang mungkin lebih parah dari dirinya.


"Pada waktu itu, adalah hari di mana semua pemegang saham dan para penerus Revical Grup berkumpul. Semua orang di meja rapat itu memberikan suara penuh agar aku menjadi direktur utama di gedung pusat—menggantikan William sebagai pewaris pertama Revical Grup."


"Lalu?" Lisa bertanya, semakin antusias walau suaminya sedikit lelet dalam bercerita.


"Aku menolak dengan tegas, karena aku hanyalah anak angkat. Aku tidak ingin menyingkirkan kedudukan William sebagai anak kandung Tuan Haris selaku direktur pendiri utama pusat Revical Grup." Farhan menjeda ceritanya sebentar untuk meraup udara sebanyak-banyaknya.


"Sempat terjadi cekcok antara aku dan beberapa pemegang saham, tapi aku bersikeras menjadikan William sebagai CEO utama diperusahaan pusat. Meskipun saham yang kumiliki di Revical Grup paling besar, tapi aku tidak mau mengambil jabatan itu. Dan aku berkata, aku akan terus berusaha membuat Revical Grup berkembang walau aku hanyaa CEO di perusahaan cabang. Akhirnya mereka mau mengerti," ujar Farhan.


"Tapi semua itu masih belum cukup, William merasa tidak enak padaku karena telah menduduki jabatan yang seharusnya aku miliki. Tuan Haris juga menyuruhku agar tetap berada di gedung pusat karena beliau tahu seperti apa kinerjaku dalam memberikan perkembangan pesat untuk Revical Grup."


Lisa berdecak kagum. "Ternyata suamiku sehebat itu ya? Aku tidak menyangka bahwa hatimu sangat dermawan, Mas."


"Semua kegigihanku tidak ada gunanya tanpa bantuan dari Tuan Haris selaku ayah angkatku. Beliau yang membuat aku berada di titik ini, jadi aku tidak boleh menjadi pribadi yang tamak. Aku sudah bersyukur memiliki keluarga angkat yang baik dan tidak pernah memandang seberapa rendah diriku di masa lalu. Bisa dibilang, aku termasuk dalam jejeran anak angkat beruntung yang bertemu sosok orang tua asuh sebaik mereka," tutur Farhan dengan wajah sendu. Mungkin teringat masa lalunya yang pahit.


"Aku terharu, mendengarnya. Sepertinya keluarga Haris sangat baik," puji Lisa kagum.


"Lebih dari baik, aku, William, dan juga Reyno, tidak pernah sekalipun bertengkar masalah harta apalagi jabatan. Ketika aku dan William bergabung di perusahaan, Tuan Haris memberi aku jabatan di atas Willilam, namun pria itu tidak sama sekali iri, malah mendukungku sepenuhnya."


"Lalu Reyno?" Lisa semakin bergulung di dalam pelukan dada hangat suaminya. Malam ini Lisa menambah cintanya berkali-kali lipat setelah mendengar kebehatan dan kedermawanan di balik sikap garang Farhan Budiman.


"Dia belum mau bergabung dengan perusahaan setelah menikah. Reyno lebih memilih membangun usaha kecil-kecilan bersama adikku Jennie."


"Aku setuju, bahagia tidak selalu tentang harta," ujar Lisa menimpali.


Wajah Lisa berubah teduh saat pembahasan berganti pada sosok pasangan yang terkenal manis dan harmonis dalam menjalani rumah tangganya.


"Aku tidak begitu paham dengan kisah Reyno dan Jennie, tapi bunda pernah berkata, bahwa beliau berharap aku dan kamu bisa seperti mereka. Paling tidak, kita menerapkan kisah cinta mereka sebanyak 25 persen," tutur Lisa. "Memangnya seperti apa sih, kisah cinta mereka di masa lalu? Sebagai sahabat yang tidak bisa menemani langkahnya, aku merasa sedih sekaligus penasaran, Mas."


"Mereka adalah cerminan kebahagian. Sosok pasangan yang selalu menghargai setiap momen kecil dan kebersamaannya dengan keluarga. Meskipun watak mereka begitu unik dan langka, tapi mereka mempunyai cara terbaik untuk membuktikan kebahagiaan mereka di dunia."


"Sayangnya umur mereka tidak panjang, Mas. Sepertinya Tuhan sudah menyiapkan tempat yang lebih indah untuk mereka berdua."


"Mungkin begitu. Meskipun sosoknya sudah tidak ada di dunia, tapi kisah mereka akan selalu melekat di hati kami yang mengenal pribadi pasangan itu," terang Farhan. Bibirnya sedikit mengembang saat membayangkan wajah kedua adik-adiknya yang telah tiada.


"Ya, aku yakin banyak yang menyayangi mereka meski sosoknya sudah tidak ada. Apa kita bisa seperti mereka, ya?" Lisa mendongak, menatap Farhan sambil menunggu jawaban pria itu. Dan Farhan menjawab,


"Tidak bisa, tapi kita bisa menjadi diri kita sendiri dan membuat kisah yang berbeda."


Seketika Lisa tercengang. "Amin," jawab wanita itu.


"Apa sudah cukup ceritanya?"


Wanita itu berdecak sebal. "Aku belum tahu masa kecilmu. Kamu hanya cerita yang manis-manis sedari tadi," gerutu Lisa kesal.


"Aku baru ganti baju, aku tidak mau piyamaku basah lagi," kelakar Farhan.


"Tidak, hatiku sudah siap mendengar masa lalumu."


"Yakin?"


"Hummm."


"Baiklah, ayo kita lanjut bercerita."


Cerita pun di lanjut pada masa kecil Farhan yang pahit seperti bratawali.


***


Mohon dukungannya ya, semoga hari ini bisa up banyak dan membuktikan hasil maha karya mister Tong Jay. Makasih untuk semua yang mau menunggu cerita ini.