HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Balas Dendam



Lisa tetap membuka paksa piyama Farhan walau pria itu sudah berkali-kali menolak. Baju tertarik sempurna, ia hempaskan piyama bermodel kimono itu ke langit-langit kamar—hingga akhirnya jatuh dengan tragis di atas lantai.


"Lancang sekali dirimu, cepat ambil baju sekarang juga!" Farhan meraih bantal untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka. Lisa cekikikan tanpa berniat mengambil piyama Farhan yang baru saja dibuang.


"Sudah jangan banyak bicara, cepat tengkurap, aku tidak mau berhutang pijatan pada suamiku." Lisa membalik paksa tubuh Farhan. Tidak mau mendapat penolakan dari pria itu.


"Aku tidak yakin kamu bisa memijat," sergah Farhan saat posisi pria itu sudah membalikkan punggung. Terpampanglah boxer kuning bergambar Spongebob dan Patrick yang sedang memegang jaring ubur-ubur sambil tertawa. Ada Squidward yang cemberut sambil buang muka. Raut mukanya mirip sekali dengan Farhan.


Lisa sudah biasa dan tidak aneh lagi melihat yang seperti itu. Walau kadang suka tersenyum geli melihat aneka koleksi boxer Nickelodeon yang Farhan kenakan. Sering Lisa membayangkan, ingin melihat celana Farhan kedodoran di saat pria itu sedang marah di ruang rapat. Pasti lucu, pikirnya.


Pijitan demi pijitan mulai dilakukan. Lima menit sudah Lisa menjamah punggung Farhan yang keras seperti kulit badak. Ia bertingkah polah, lalu duduk di bawah pinggang Farhan agar tenaganya lebih keluar. "Mas! Kulit kamu bahannya apa, sih? Kok kayak tanduk banteng gini. Keras," keluhnya.


"Ya sudah, turun!" Farhan bicara dengan mata terpejam. "Aku juga tidak minta dipijitin." Farhan menggoyang tubuhnya agar Lisa segera turun.


"Ya sudah. Gak jadi aja deh, tanganku sakit banget. Bayar utang pijitnya kapan-kapan saja." Lisa terpuruk di atas punggung Farhan. Bukannya mengobati lelah, Lisa malah menambah badan Farhan pegal-pegal karena tidur di atas tubuhnya.


"Turun dari tubuhku. Badanmu berat sekali."


"Gak mau, lagi enak gini. Kayak naik punggung buaya," kelakar Lisa agak manja. Kedua tangannya merangkul pundak Farhan seperti anak bocah berusia lima tahun.


"Turun kataku!" bentak Farhan agak kesal.


"Pelit!" Lisa berguling ke samping. Menatap suaminya yang juga ikut memandangi binar matanya.


"Mau di peluk dong, Mas!" Lisa langsung bergerak lincah, mematikan lampu dengan remot, lalu mendekati Farhan tanpa persetujuan pria itu terlebih dahulu. Wanita itu memaksa Farhan agar menghadapnya, lalu masuk ke pelukan Farhan hingga tubuh setengah polos mereka saling bergesekan.


Sial! Farhan menggeram dalam diam. Ia mencoba bangkit dari duduknya, hendak mengambil piyama yang dibuang Lisa tadi.


"Jangan pergi," rajuk Lisa tidak tahu malu. Tangannya mencengkeram boxer Farhan erat. Di mana penghuni dalamnya bereaksi dengan cepat.


Farhan menghela pelan, mencoba sabar. "Aku mau pakai baju, dingin."


"Bukannya kamu sudah memiliki selimut yang selalu menghangatkanmu setiap malam. Aku bisa memelukmu sampai pagi." Lisa berujar, pura-pura polos walau sebenarnya ia tahu apa yang Farhan inginkan.


Satu kecupan Lisa mendarat lembut. Menggelitik jiwa raga Farhan setengah tegang. Tubuh kekar Farhan semakin menggelora, panas. Burung cicicuit di balik boxer Spongebobnya menjerit-jerit, ingin segera masuk ke kandang nyaman milik Lisa.


"Selamat tidur suamiku." Lisa tersenyum hangat setelah berhasil membuat tubuh Farhan memanas seperti baju yang baru digosok. Wanita itu membalikkan punggungnya, tersenyum licik sambil mengambil selimut.


Ini balas dendamku tadi siang, Sayang. Mata Lisa mulai terpejam, ia dapat merasakan Farhan yang gelisah tanpa berani meminta jatah.


Terus saja hidup dalam kubangan gengsi, dan rasakan siksaan mautku malam ini. Good night, Baby.


***


Angin membawa kedatangan hujan di luar sana, gemericik airnya mulai sayup-sayup terdengar menabrak jendela kaca di kamar Rico. Pria itu gelisah, lebih parah dari Farhan, Rico tidak bisa memejamkan matanya sama sekali hingga hari menjelang pagi.


"Apa kamu baik-baik saja, Dipsy?" Rico berbica pada gagang paculnya. Mengelus benda itu penuh kasih sayang selayaknya anak kandung sendiri. Semenjak tumbuh besar, Rico menamai benda itu dengan sebutan Dipsy. Sosok teman yang selalu menjadi kebanggaannya, diajak kemana pun, dan yang pasti selalu setia pada tuannya.


Meskipun belum pernah digunakan untuk membobol gawang lawan jenisnya, Rico selalu rutin memanjakan Dipsy di kamar mandi setiap satu minggu sekali. Sebuah tradisi kaum laki-laki dari tahun ke tahun yang sudah tidak perlu dirahasiakan lagi.


Pria itu kembali mendesah pasrah, lalu menatap langit-langit kamar dengan napas tertahan sedikit. "Apa aku harus mencari wanita bayaran untuk memastikan keadaanmu masih bisa dipakai atau tidak? Bagaimana kalau nanti kamu jadi tambah penyakitan." Kekhawatiran Rico semakin jadi. Semenjak kejadian siang itu, Dipsy selalu tidur anteng walau Rico sudah mencoba mengajaknya traveling membayangkan wanita topless sekalipun.


Rico tidak bisa mengajak Dipsy bermain sabun, karena ia tahu bahwa Dipsy masih cidera.


"Kau tidak boleh sakit, bagaimana pun juga kamu adalah penerus bangsaku, Dipsy!" Rico kembali mengelus benda yang tengah terlelap itu. Berharap Dipsy bereaksi selayaknya rutinitas pagi hari yang seperti biasanya.


"Kamu memang sialan, Lisa! Beraninya menendang Dipsyku hingga cidera parah gini. Tidak tahukan kalau Dipsy adalah keturunan Wicaksono Albraham?" Mata hazel pria itu menyala. Memancarkan kilatan amarah yang tak tertahankan setiap kali mengingat kejadian siang kemarin.


"Kalo aku carikan martabak yang mulus dan cantik, kira-kira kamu mau tidak?" Rico kembali bertanya pada Dipsy.


Tidak mau. Begitulah otak Rico menjawab, seolah jawaban itu dikatakan oleh Dipsynya langsung.


"Ya sudah kalau tidak mau." Rico merentangkan tubuhnya. Menguap dan melihat jarum jam yang menunjukkan hari mulai menjelang pagi.


"Lebih baik aku makan saja, bisa gila kalau memikirkan hal itu terus." Akhirnya Rico menjuntaikan kakinya ke lantai. Berjalan ke arah kulkas untuk mencari makanan.


"Sial! Bahkan untuk bahan sarapanku saja sampai lupa beli. Apa ini yang dinamakan kode alam agar aku cepat menikah?" Pria itu berdecak miris saat melihat makanan persediaan di kulkasnya hanya sisa daging giling seperempat kilo. Karena Rico biasa menghabiskan setengah kilo sapi dan dua butir putih telur sekali sarapan pagi.


Terpaksa, ia memasak daging itu alakadarnya. Membiarkan tubuhnya yang kekar dan berotot itu mendapat nutrisi yang kurang, tidak seperti pagi biasanya.


***


Up ke dua. Kalau banyak yang vote aku up lagi. wkkww.


Visual Rico... tebak dong siapa? Wkwkkw.