
Proses pembuatan dedek bayi coming soon itu tidak berjalan sebagai mana mestinya seperti peraturan yang tertera dalam program hamil mereka. Padahal Sashi sudah menganjurkan untuk melakukan hubungan suami istri dengan gaya yang sewajarnya saja. Tapi Farhan lupa diri hingga melakukan berbagai gaya jumpalitan sampai anunya tumpah-tumpah.
Di rumah ia jarang sekali bisa bersantai seperti itu karena kehadiran si kembar yang kadang kala mengganggu. Apalagi mereka sudah besar dan sedang dalam masa-masa ingin tahunya. Jadi Lisa dan Farhan kurang bisa fokus membangun momen leluasa untuk -melakukan adegan perwik-wikan, kecuali jika benar-benar berdua saja seperti di dalam hotel begini.
Sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal, Lisa meraih ponsel untuk mengecek pesan. Namun Farhan langsung merajuk dan menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. "Sudah kubilang jangan main hape. Kenapa kamu bandel sekali, hah!"
Farhan menggigit telinga Lisa sampai wanita itu memekik.
"Takut ada pesan penting Mas!" gerutunya, mencoba tak mengindahkan kemauan Farhan.
"Lima menit! Aku ingin memelukmu lima menit saja," ujar Farhan dengan bahasa yang sedikit dibuat manja. Terpaksa Lisa mengalah dan membiarkan Farhan memeluknya.
"Dasar suami menyebalkan! Kalau yang begini saja kamu bisa manja."
Farhan tersenyum sedikit, kemudian menghujani kecupan di mana-mana sesuka hatinya. “Kita sedang dalam proses menyambut kehadiran si buah hati. Jadi lakukanlah dengan sukarela dan hati bahagia,” ujarnya asal-asalan menjawab karena sibuk bermain-main dengan benda favoritnya.
Satu usapan kasar mendarat di kepala Farhan. “Makin lama si Alan ini semakin pintar bicara saja ya!”
“Pada dasarnya sudah pintar, hanya saja aku malas melakukannya!”
Selalu ada saja jawaban yang keluar dari mulut sialan itu. Herannya Lisa sayang sekali pada pria yang suka banyak tingkah kalau sedang berduaan di dalam kamar. Seolah apa pun yang Farhan lakukan selalu menarik perhatian wanita itu.
Cinta mereka berjalan sebagaimana mestinya. Terlihat biasa-biasa saja di mata mereka, namun tanpa sadar sudah terlanjur masuk ke dasar palung mariana terdalam hingga tak ada cela untuk kembali ke atas permukaan.
Tring … Tring …
Suara panggilan telepon di ponsel Farhan berdering, membuat Lisa tersentak dan hendak mengangkat panggilan tersebut, namun lagi-lagi Farhan menahan. “Masih kurang satu menit lagi,” ujar pria itu.
“Kalau penting bagaimana?”
“Paling Alex, biarkan saja!” Farhan mulai memejamkan matanya perlahan akibat efek pelepasan hormon testosteron yang mulai bekerja dan membuat matanya mengantuk.
Saat pria itu benar-benar terlelap. Lisa memberanikan diri mengambil ponsel miliknya. Ia begitu terkejut saat melihat 17 panggilan tak terjawab dari tuan Haris di ponselnya. Ia juga mengecek ponsel Farhan, di sana lebih parah lagi karena ada 27 panggilan tak terjawan dan berbagai rentetan pesan lainnya.
Lisa membaca satu-persatu pesan tersebut. Ia semakin sulit bernapas saat membaca pesan bahwa pak Farik dilarikan ke rumah sakit karena dipukuli orang.
"Mas Al bangun!" teriak Lisa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Farhan dengan panik.
"Kita harus ke kedai es krim sekarang! Pak Farik masuk rumah sakit karena dipukuli orang. Sedangkan anak-anak ditinggal oleh Grandpa karena harus mengantar pak Farik."
Saat itu juga Farhan langsung bangkit dari posisi bermalas-malasan. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membasuh muka dan sedikit tubuh yang lengket oleh keringat.
Setelah mereka siap, Farhan langsung melajukan mobilnya ke kedai es krim terlebih dahulu. Mereka begitu khawatir pada tiga bocah polos yang terdampar di tempat asing tersebut. Pasti anak-anak itu ketakutan dan bingung. Apalagi Malika yang notabene ayahnya sedang terkena musibah.
Anak-anak tampak aman dan dijaga ketat oleh para penjaga kedai. Mereka melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah sakit.
Selama dalam perjalanan, Malika hanya diam dengan ekspresi datar. Ia tidak mau melihat Farhan atau pun mengucapkan sepatah kata pun. Lisa yang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di antara mereka, menganggap diamnya Malika sebagai bentuk kesedihan karena sang ayah terkena musibah.
Sesampainya di rumah sakit, Farhan dan yang lainnya langsung menuju ruang VIP di mana tempatnya sudah diberi tahu oleh tuan Haris melalui pesan WA.
"Bagaimana keadaan ayah aku, Kek?" Malika langsung menyergah duluan sebelum siapa pun bicara.
Tuan Haris mengusap puncak kepala si gadis kecil yang sedang mendongak cemas ke arahnya. "Ayah kamu baik-baik saja. Lukanya tidak terlalu parah dan sedang di tangani. Sebentar lagi keluargamu juga akan datang ke sini," ujarnya agar Malika tenang.
Lantas tuan Haris beralih pada Farhan yang berdiri di belakang Malika sedari tadi. "Tadinya kupikir kamu adalah dalang di balik semua ini. Ternyata pak Farik hanya korban orang tidak bertanggung jawab. Tadi polisi sudah memberikan laporan, bahwa pak Farik dihajar oleh sekumpulan preman karena menolong ibu-ibu yang kecopetan di dekat kedai es krim. "
Sontak Malika yang mendengarnya merasa bersalah. Ia tidak berani menatap Cilla yang sudah melotot ke arahnya dengan mata mengintimidasi. Meskipun Cilla diam, tapi Malika tahu bahwa gadis kecil itu marah lantaran ayahnya terbukti tidak bersalah.
Sementara Farhan hanya mengangguk diam. Dicurigai seperti ini sudah biasa baginya. Memang sebagian orang hobi sekali menilai tampang garang Farhan dengan pikiran negatif. Jadi Farhan sudah tak aneh lagi saat orang tua angkatnya sempat menuduhnya. Ia tidak kesal apa lagi marah.
"Kamu tolong bawa anak-anak ke kantin rumah sakit. Biar kami yang jaga. Di tempat seperti ini terlalu rentan untuk anak kecil seperti mereka," ucap Farhan pada Lisa.
"Aku mau menunggu di sini sama ayah." Malika mulai berkilah. Padahal ia malu pada Cello karena telah marah-marah dan bahkan berbuat kasar. Ternyata oh ternyata, semua ini hanya sebatas kesalahpahaman saja.
"Ya sudah. Kalau mau di sini enggak papa. Tapi kalau mau nyusul bilang saja pada om Farhan. Nanti biar diantar. Oke!"
Lisa tersenyum cerah. Malika hanya menganguk datar karena terlalu malu.
Sekarang Malika sudah tidak punya muka lagi untuk berdekatan dengan Cilla ataupun Cello. Malik tahu bahwa dirinya salah besar karena telah sembarangan menuduh dan berbuat kasar. Untung saja mereka bukan tipe pengadu. Kalau sampai ayahnya nanti tahu Malika berbuat seperti itu, ayah pasti akan kecewa berat terhadap Malika.
***
Jangan lupa komen dan like yang banyak.