HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Tidak Percaya



Tidak bisa dibiarkan, Rico tetap harus mengundurkan diri dari belenggu Farhan apapun yang terjadi. Ia tidak bisa bersikap lemah, ia harus tegar demi sesuatu yang sudah ia rencanakan sejak lalu.


"Tuan." Suara bariton bercampur sedih keluar dari mulut Rico.


Bohong jika Farhan masih fokus bekerja di saat hatinya gunda. Sekarang ia sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Berita ini terlalu gila dan mengguncang hebat perasaannya.


Pria itu pun bangkit dari posisi duduk, berjalan ke arah sofa dan langsung menghempaskan tubuhnya sekasar mungkin. Terdengarkan suara geraman sekaligus raupan kasar pada wajahnya. "Katakan apa alasanmu keluar!"


Rico mengikuti Farhan ke tempatnya, bergabung duduk tepat di hadapan pria itu dengan gestur tubuh setegang tiang listrik. "Alasannya sudah jelas Tuan, saya adalah putra tunggal Wicaksono Albraham, satu-satunya penerus sah di perusahan Burning Sun yang sudah menjadi hak pantenku sejak lahir," jawab pria itu lantang.


Farhan berdecak, lalu tersenyum smirk dengan pandangan mengejek. "Jangan kau pikir aku tidak tahu betapa tidak pedulinya dirimu pada harta, Rico! Kau bukanlah orang yang gila kekuasaan seperti ayahmu. Katakan apa alasanmu yang sesungguhnya?"


Sebisa mungkin Rico mengatur wajahnya agar berat. "Itu adalah alasan yang sebenarnya, Tuan. Memang ada alasan apalagi? Ayah saya sudah sakit-sakitan beberapa akhir ini, waktunya saya kembali pada keluarga saya untuk mengurus perusahaannya," jawab Rico dengan intonasi tenang yang setiap katanya sudah disusun rapi sebelumnya.


"Aku tidak menerima alasanmu, Bedebah!" sergah Farhan angkuh, ia lemparkan setumpuk majalan di depan meja ke sembarang arah.


Pria itu tahu persis seperti apa sakitnya Rico pada sang ayah di masa lalu. Wicaksono menikah lagi di saat ibunya sakit kangker paru-paru. Menjelang detik terakhir ibu Rico meninggal, sang ayah malah asik berduaan bersama istri baru.


Farhan tak pernah lupa dengan curhatan Rico yang membuat hubungan mereka menjadi pribadi yang sama sampai sedekat ini. Farhan merasa memiliki garis takdir sama saat pria itu menceritakan segalanya. Momen di mana ia putus asa, saat dia ditendang paksa, hanya karena cita-cita yang tak sejalan dengan kemauan sang ayah. Hidup Rico amat berat kala itu. Hingga akhirnya Rico bertemu dengan tuan Haris yang merangkulnya dengan tangan terbuka. Dan bertemu dengan Farhan dua tahun kemudian.


"Berpisah memang berat, Tuan. Tapi kita masih bisa berteman di masa yang akan datang."


"Apa kau lupa seperti apa Burning Sun dan Revical Grup itu?" sungut Farhan kesal. Dadanya terus terpacu naik turun hingga ia nyaris kesulitan meraup udara di dalamnya.


"Kita masih bisa berteman di luar perusahaan. Tidak perlu khawatir, Tuan."


Farhan membalas ucapan Rico garang. "Siapa yang mau berteman dengan penghianat, hah? Kau pikir aku sudi melakukannya. Sekali kau keluar dari tempat ini, aku tidak akan pernah menganggapmu pernah hadir dalam hidupku."


Layaknya bangunan kokoh, ancaman Farhan tak membuat Rico goyah sedikit pun.


"Jika Tuan tidak mau menganggap saya tidak masalah, yang penting Anda selalu ada di hatiku," jawab pria itu dengan nada nyeleneh.


Suasa ketegangan sedikit lebih reda meskipun ada si ngambek di depan mata yang terus diam seribu bahasa.


***


Yang nungguin tembak-tembakkan sabar ya.