HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Uluran Tangan Dermawan



"Ya Tuhan!"


Rico meraup wajahnya, frustasi. Ekspresi yang tadinya sempat jenaka berubah panik. Ia menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Pria itu sedang memutar video dengan suara yang terdengar riuh sampai di telinga Farhan.


Farhan menyingkirkan laptop di depannya secepat kilat. Melihat ekspresi wajah Rico, ia yakin ada perkara besar yang sedang terjadi. "Ada masalah apa?" tanya Farhan.


"Sepertinya kita akan mengalami kerugian yang cukup banyak, Tuan. Provinsi X mengalami banjir yang lumayan parah. Proyek yang sedang di bangun rusak sebagian. Beberapa persediaan bahan bangunan banyak yang hanyut terkena terjangan banjir bandang. Bagaimana ini?"


Rico langsung panik bukan main, ia menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk melakukan rapat dadakkan. Sementara Farhan, pria itu lebih ke arah tenang sambil berpikir sesuatu.


"Tenangkan dulu hatimu, semua ini adalah bencana. Tidak ada orang yang menginginkan hal seperti ini terjadi," ucap Farhan menasihati. Ia sedikit mengernyit saat Rico heboh dengan kepanikannya sendiri. Padahal, Farhan tidak begitu pusing dengan hal itu.


"Bagaimana saya bisa tenang? Saya yang mengurus dan mengendalikan proyek itu sejak awal. Jika susunanku sampai gagal, saya yang tidak enak karena merugikanmu, Tuan?"


Farhan menghela pelan. "Tidak usah dipikirkan, aku tidak akan menuntutmu hanya karena kerugian yang diakibatkan oleh bencana alam. Coba kamu hitung berapa total kerugiannya? Biar aku pikirkan langkah selanjutnya."


"Terima kasih, Tuan."


Rico mulai serius menatap layar kesehariannya. Sepuluh buku jarinya begitu cekatan menyentuh setiap tombol keyboard sambil menatap layar monitor. Setengah jam kemudian, semua laporan yang Farhan inginkan tersaji sempurna. Pria itu berjalan ke arah Farhan, memberikan data laporan yang baru saja ia print.


Rico duduk dengan wajah tegang. Urat-uratnya terasa kaku melihat angka enol yang cukup banyak tertera di sana.


"Kerugian kita lumayan banyak, Tuan. Ada banyak bangunan setengah jadi yang rusak diterjang banjir. Total kerusakan dan hilangnya bahan bangunan sekitar 9, 4 Milyar, Tuan." Keringat sebiji jagung keluar dari pelipis Rico. Ia menunggu reaksi Farhan yang selanjutnya.


"Berapa uang kas cabang yang kita miliki?"


"Hanya ada 8 M, Tuan. Bulan ini kita mendapat anggaran yang melonjak dari biasanya. Beberapa modal yang kita tanam baru kembali sekitar 23 persen." Rico menyibak beberapa data, lalu memberikannya pada Farhan.


"Adakan rapat dadakan agar investor kita tidak khawatir. Beri tahu Lisa untuk mengatur ruang rapat dan konsumsi."


"Sudah Tuan! Perihal rapat sudah beres. Jam tiga sore nanti kita semua akan berkumpul untuk membahas masalah kerugian ini."


Rico sigap menjawab. Urusan pekerjaan, Rico dan Farhan memang tidak pernah main-main. Ada saatnya menjadi teman, ada juga waktu di mana mereka harus menempatkan diri sebagai boss dan asisten.


"Kirim semua uang kas yang kita miliki pada perwakilan provinsi X. Aku yakin, nasib para penduduk yang terkena dampak bencana jauh lebih buruk dari kerugian perusahaan kita." Wajah Farhan menerawang. Membayangkan jerit pilu para penduduk yang mungkin kehilangan harta benda mereka yang berharga.


"Tapi, Tuan? Bagaimana untuk masalah kerugian. Uang kas perusahaan juga tidak bisa dikosongkan begitu saja." Rico membantah omongan Farhan. Masalah keuangan memang ia yang mengatur, jadi Rico lebih banyak tahu dibandingkan Farhan.


"Aku akan menjual jet pribadi pemberian tuan Haris. Akhir-akhir ini benda itu sudah jarang digunakan bukan? Hasil penjualannya bisa dipakai untuk menutupi kerugian dan menambah uang kas perusahaan kita," ujar Farhan memberi solusi.


"Baik Tuan. Kalau begitu mau Anda, saya akan mengatur lelang untuk jet itu sekarang juga." Rico tidak mau banyak berkomentar. Ia memilih mengiyakan kemauan Farhan.


Begitulah proses berdirinya sebuah perusahaan. Farhan tidak pernah membiarkan pemasukannya mengendap tidak berguna. Semua penghasilan yang masuk akan terus berputar. Menjadi lebih besar dan memperkokoh perusahaan.


Kembali lagi pada Farhan. Pria itu sedang menatap layar monitornya dengan hati miris terluka. Ketimbang melihat kontruksi bangunan proyek yang rusak, Farhan lebih antusias melihat bencana besar yang melanda provinsi X.


Ada banyak bayi-bayi dan lansia yang menangis terjebak banjir. Para relawan bahu-membahu menyelamatkan banyak warga yang terjebak. Mereka lebih mengutamakan bayi dan lansia karena kondisinya yang masih rapuh. Sementara yang bisa berenang membawa pergi sedikit barang dan mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi.


Meninggalkan rumah, harta benda, peternakan, serta mengikhlaskan segelondong tempat berteduh yang hanyut di makan terjangan air bah.


Hujan deras terus melanda profinsi X dan beberapa kota-kota lainnya. Tanah sudah tak mampu menyimpan air karena kurangnya penghijauan. Air-air sungai menguap dengan jahatnya. Mendatangkan banyaknya bah dari segala arah.


Kota-kota yang menjadi tempat keseharian mereka beraktifitas nyaris rata tersapu banjir. Sebagian yang tidak terevakuasi memilih mengungsi di atap rumah sambil menunggu petugas evakuasi membawa perahu bantuan datang.


Dingin ....


Lapar ....


Ketakutan ...


Kepanikan ....


Semua itu terjadi begitu cepat sampai mereka tak bisa menyelamatkan apapun. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun banyak hilang akibat bencana ini. Mereka kebingungan ditengah-tengah perut yang lapar. Tidak bisa bergerak karena sekelilingnya adalah lautan banjir.


Hanya kepada Tuhan mereka memanjatkan doa-doa terbaiknya. Semoga lebih banyak orang-orang dermawan seperti Farhan yang mau mengulurkan bantuan.


Selimut, pakaian, makanan, tempat tinggal layak, mereka benar-benar membutuhkan semua itu. Tidak apa jika barang bekas, mereka tak memiliki gengsi di saat dinginnya udara terus menusuk-nusuk tulang.


Makanan, mereka harap kebutuhan itu cepat datang. Tidak perlu enak, asal semua itu layak dimakan.


Mereka sungguh menunggu bala bantuan datang. Sekecil apapun itu, mereka benar-benar berharap ada uluran kebaikan orang dermawan. Seperti kata Farhan, tidak ada satu pun orang yang menginginkan datangnya bencana. Semua yang terjadi bukan hanya tertuju pada korban, tapi untuk kita ... keterbukaan hati kita untuk ikut bertanggung jawat atas derita sesamanya.


Sayangnya, bantuan yang mereka harapkan tak kunjung datang. Membutuhkan waktu khusus bagi pemerintah dan relawan untuk membawa bantuan baik sandang mau pun pangan. Akses yang rusak dan banjir di mana-mana membuat semuanya menjadi susah.


Tak ada yang bisa dilakukan selain berusaha yang terbaik. Alam sedang datang menguji agar kita senantiasa ingat kepada-Nya.


Berdoa bahwa semua akan segera pulih kembali adalah jalan terbaik yang bisa dilakukan para korban saat ini.


Tidak perlu membantu dalam bentuk fisik jika memang tidak mampu, doa-doa tulus yang kita panjatkan dalam hati pun adalah sebuah bentuk bantuan berharga. Karena dunia ini, adalah milik-Nya.


***


Terima kasih banyak untuk semua yang masih mau membaca sampai titik ini. Semoga bisa crazy up kayak kemarin ya.


Jangan lupa bagi-bagi poin yess.