
Farhan tidak tahu Rico akan membawanya pergi ke mana. Namun, mobil yang melaju tanpa arah tujuan yang jelas itu membuat Farhan semakin muak. Beberapa kali ia mendengkus, mengacak rambut, lantas menghela napas dan menghembuskannya dengan gaya kasar.
Farhan mencoba melakukan panggilan telepon pada Lisa, namun wanita itu mematikan panggilan Farhan tanpa membiarkan ia bicara sedetik pun. Lantas, Lisa mengirim sebuah pesan pernyataan yang membuat Farhan tambah emosi.
[Sayang, aku sibuk. Nanti hubungi lagi ya. Muach ... muach ... muach.]
Pesan dibaca Farhan, ada tambahan stiker pentol menari-menari. Di mana Farhan langsung membanting ponselnya dengan napas naik turun. Demi apapun, Farhan benci sekali dengan stiker-stiker bertema jenaka itu. Anehnya Rico dan Lisa mengoleksi sampai puluhan. Terbukti mereka sering menambahkan gambar-gambar aneh disetiap percakapan online.
"Jangan marah-marah, Tuan. Apa Anda tidak enak badan? Ah, aku lupa. Kemarin adalah jadwal terapi Anda dengan psikiater 'kan?" tanya Rico, mencoba mengalihkan pembicaraan agar Farhan tidak terlalu gusar.
"Kurangi jadwal terapinya jadi satu bulan sekali. Sekarang aku sudah jauh lebih baik dalam mengatur emosi."
Idiihh. Rico melirik sinis, lalu menatap Farhan dengan raut muka protes. "Sembuh apanya? Anda hanya belum menemukan adegan yang pas!"
"Jangan membantah! Aku sudah tidak mudah cemas dan kasar lagi."
"Tapi saya takut Anda mencelakai nona Lisa seperti kejadian di hotel waktu itu. Bagaimana dengan obat? Apa Anda rutin meminumnya?"
"Kau bawel sekali Rico! Istriku sangat perhatian, dia tidak pernah lupa mengingatkanku untuk minum obat." Membanggakan Lisa sambil melirik kaca, Farhan mencoba menyembunyikan senyum tipis dari bibirnya.
Rico yang hobi memancing langsung mematahkan opini Farhan dengan keji. "Itu bukan bentuk perhatian, tapi karena nona Lisa masih sayang nyawanya. Takut melihat Anda kesurupan aing macan," bantah Rico.
"Cih! Jomblo abadi sepertimu hanya bisa mengusik. Dasar haters!" balas Farhan ketus.
Rico memilih diam. Takut jika Farhan membahas dan mengintrogasinya tentang masalah wanita seperti waktu itu. Bagi Rico, lebih baik dibilang jomlo daripada dikepoin.
"Sebenarnya kita mau ke mana, sih?" Untuk kesekian kalinya Farhan bertanya pada Rico. Membuat pria yang ada di sampingnya menggeram seperti macam.
"Sebentar lagi kita akan sampai. Bisakah Anda sabar sedikit?" Rico membenarkan dasi kupu-kupu yang Farhan yang sedikit miring. Farhan menepis, lalu menarik kerah baju Rico saking emosinya.
"Bagaimana aku bisa sabar? kau mengajakku pergi tanpa tujuan dengan pakaian aneh begini? Seolah hendak menghadiri pesta di istana dongeng. Apalagi kau meliburkan setengah kariyawan seenak jidatmu. Meskipun kau bilang semuanya aman terkendali, aku tetap tidak bisa menebak rencana licikmu, Rico!"
"Sssst. Diam dan ikuti saja alur yang sudah kususun rapi, Tuan. Banyak bicara hanya akan membuatmu lelah berkepanjangan. Lebih baik simpan tenagamu untuk sesuatu yang lebih penting."
"Gila!" Farhan mengumpar kasar saat Rico mengedipkan mata genit sebagai bentuk kode untuk malam Jum'at.
Mobil berhenti di sebuah hotel pribadi milik keluarga Haris. Farhan semakin bingung. Ia membuka pintu mobil dengan alis yang tertaut kencang. "Untuk apa kita ke hotel?"
"Yang jelas bukan untuk ikut audisi joged Kimmy Hime, Tuan." Rico menggiring Farhan memasuki aula hotel.
Wajah pria itu nampak masih setengah kebingungan. Farhan sama sekali tidak paham dengan situasi yang sedang dihadapinya. Otaknya terus memikirkan beberapa jadwal pekerjaan, dan loka-lokasi pertemuan yang harusnya ia datangi hari ini kalau tidak ambil cuti. Namun, sepertinya hotel tidak termasuk dalam jadwal harian Farhan. Jadi, ada acara apa sebenarnya?
Farhan mengedarkan pandangannya. Ia melihat parkiran yang penuh dengan pengunjung. Saat satpam membuka pintu aula, bola mata Farhan terbelalak seketika.
"Ada apa ini?"
***
Spoiler ada di novel Bukan Kontrak Pernikahan 2
Jangan lupa kasih hadiah poin ya guys, 🙏🙏🙏 Terus Like dan Komen untuk menunjukkan kehadiran kalian. Terima kasih.