HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bimbang



Baca bab sebelumnya ya, karena udah dipanjangin.


***


Lapar. Satu kata yang membayangi pikiran Lisa saat ia diculik di jam makan sebelum sempat mengisi perut. Gadis itu tak henti-hentinya menggerutu dalam hati sambil sesekali menghela napas—kasar. Apalagi tadi pagi ia hanya sarapan segelas susu.


Nasib sial datang lagi.


Siapa yang menculiknya? Tentu saja tuan Farhan yang budiman. Pria jelmaan batu bernapas yang sedang mengemudi di samping Lisa. Dia nampak fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Tanpa menjelaskan kepentingan atau tujuannya mau ke mana. Jika Farhan berani menyuruh Lisa menjadi ojek payung lagi seperti kemarin—maka Farhan akan lebih repot karena harus menggotong gadis pingsan. Biar tahu rasa, pikir Lisa kesal.


Ah, ingin sekali rasanya Lisa menjelaskan bahwa modal tampan dan kaya saja tidak cukup. Farhan harus menjadi pria hangat agar ia dapat bertemu dengan cinta sejatinya. Karena menurut yang Lisa tangkap dari sifat Farhan, pria itu tidak memiliki cinta atau semacamnya. Terbukti ia melamar Lisa tanpa ada getar-getar rasa dahulu. Seperti makan indomi tanpa bumbu. Adapun sisi tertarik Farhan pada gadis itu bukan karena suka, tapi karena butuh.


Ya, antara cinta dan butuh memang beda tipis. Cinta lebih cenderung rela berkorban, melakukan segala hal untuk orang yang kita cintai. Sedangkan butuh, seperti kebutuhan sehari-hari, mungkin Farhan ingin Lisa ada di sampingnya karena membutuhkan kinerja gadis itu. Untuk mengurus dirinya dan sikembar.


Bukan Lisa tidak mau mengurus si kembar dan Farhan, tapi untuk apa sebuah rumah tangga dibangun tanpa ada rasa cinta?


Ck. Istri adalah pendamping suami, bukan pembantu. Maka dari itu Lisa akan terus menolak Farhan. Sekalipun ia memiliki sedikit rasa.


Percayalah, korban perasaan jauh lebih berat dari apapun.


***


"Aku lapar!" pekik Lisa dengan suara kasar. Ia juga memegangi perutnya agar si peka itu sadar.


"Sebentar lagi, aku akan menjemput si kembar ke sekolah terlebih dahulu. Nanti kita makan bersama di kantor." Mobil Farhan dilajukan agak cepat, ini sudah lewat dari jam pulang sekolah mereka. Takutnya dua bocah itu nangis karena Farhan sudah janji akan menjemputnya.


"Bilang dong, kalau mau jemput si kembar. Jadi saya tidak perlu sewot-sewot begini, kan?" Lisa memajukan bibirnya lima centi.


"Lupa," jawab Farhan enteng.


Sesampainya di depan sekolah, Lisa dan Farhan mendapati Cilla sedang menangis. Ada ibu guru yang panik sambil memegangi ponselnya. Farhan segera berlari diikuti Lisa yang juga ikut berlari di belakangnya.


"Maafkan kami, Pak. Tadi Ello berlari-lari di halaman taman. Saya sudah melaranganya, tapi anak itu tidak mau. Alhasil, ia jatuh tersungkur. Dahinya terkena batu runcing dan sedang dibawa ke rumah sakit. Saya juga sudah menghubungi Bapak, tapi yang mengangkat asisten Bapak."


"Bagaimana bisa?" Farhan bertanya dengan nada membentak.


"Maaf, Pak! Kami sudah berusaha mengejar dan melarangnya sebisa mungkin. Tapi memang Ello memiliki perubahan yang cukup drastis semenjak orang tu—"


"Cukup! Tidak perlu dijelaskan." Farhan bergegas membawa Cilla tanpa mengucapkan sepatah katapun. Meninggalkan sang guru yang merasa bersalah karena kecelakaan kecil itu.


"Hubungi Rico, tanya di mana Ello di rawat."


"Baik, Tuan."


Farhan meletakan Cilla di kursi penumpang. Lisa juga ikut duduk di belakang menemani gadis kecil itu. Mobil melaju cepat dengan berbagai pikiran negatif Farhan. Jujur saja, ia merasa tertekan merawat dua bocah itu. Hampir semua orang menjelaskan bahwa si kembar berubah semenjak ditinggal oleh orang tuanya. Terutama Cello yang bandelnya meningkat dua kali lipat.


Awalnya Farhan memutuskan merawat si kembar karena ia merasa bisa. Ia mampu memberikan apapun, termasuk perhatian dan kasih sayang. Namun melihat perubahan si kembar membuat nyalinya menciut, kedua bocah itu semakin liar sampai pengasuhnya pun tak tahan dengan kenakalan mereka.


Sejauh ini Farhan sudah bekerja keras, membaca dongeng untuk mereka, memandikan mereka, menyuapi mereka, menidurkan mereka, dan masih banyak kegiatan lainnya. Semua Farhan lakukan untuk dua bocah itu. Mungkin tidak ada yang tahu betapa susahnya Farhan harus belajar menjadi ibu sekaligus ayah bagi mereka. Apalagi ia juga harus bekerja mengurus anak perusahaan Revical Grup.


Membaca berbagai tutorial merawat anak sudah ia lakukan. Farhan sudah merasa benar dalam segala hal. Tapi jika melihat kelakukan dua bocah itu yang semakin liar, ia menjadi ragu.


Apakah ia pantas menjadi ayah si kembar? Jika tidak! Siapa yang harus merawat mereka?


***


Jangan galak-galak ya gengs, kalo pada komen di novel penulis manapun, kasian temenku pada ngeluh, sejauh ini kalian baik dilapakku.


Jangan lupa bagi-bagi poin ya biar ranknya naik hehehe, gak usah kasih koin.. karena koin harus beli. Kasian kalian..🥰.


Entar aku up lagi.