
Tiga bulan berlalu, semuanya tampak berjalan dengan normal dan bahkah lebih istimewa dari hari-hari sebelumnya. Hubungan Farhan dan Rico juga terbilang cukup baik walau keduanya harus bertemu secara sembunyi-sembunyi lantaran mereka takut hubungan akrabnya dilihat dua anggota grup perusahaan. Beruntungnya, mereka berdua dapat menerima dan tidak ada yang merasa keberatan akan hal ini.
Pagi ini, hari yang cerah menghampiri sebagian penduduk bumi di bagian pulau Jawa. Di dalam kamar utama kebanggaan, Lisa terbaring lemah dengan sang suami yang setia duduk menunggunya di bibir tempat tidur. Karena sebuah fakta mengejutnya baru saja terjadi saat wanita itu sedang mengantar si kembar sekolah sampai pintu gerbang depan. Tepat mobil supir melaju keluar dari pelataran rumah, tubuh Lisa mendadak ambruk dan tak sadar diri. Hal itu memicu kepanikan yang luar biasa. Farhan sudah kalap dan heboh melihat kejadian yang baru pertama dialami. Ia tahu persis betapa kuatnya seorang Lisa, pingsan adalah hal yang belum pernah terjadi dalam hidup wanita itu, tapi hari ini kenapa? Farhan sudah nyaris gila sambil mengacak-acak rambunya beberapa kali.
Dokter khusus pun segera didatangkan untuk memeriksa keadaan sang istri. Senyumnya terulas manis saat ia baru saja selesai memeriksa keadan Lisa. "Sepertinya nona hanya kelelahan, Tuan." Dia tertunduk malu-malu.
"Kelelahan yang seperti apa?" Kening Farhan sudah mengernyit. Kesal bukan main mendengar peta kode ambigu yang diucapkan oleh sang dokter cantik.
"Em, begini Tuan, menurut perkiraan denyut nadi dan beberapa gejala yang saya lihat, sepertinya nona Lisa tengah berbadan dua."
Mata Farhan membola sempurna seketika. "K-kau bilang apa tadi?" Dia nyaris kehilangan kata-katanya. Udara di sekeliling pria itu seolah hilang bersamaan dengan pikiran yang setengah terbang.
"Nona sedang hamil muda, Tuan," ulang dokter itu sejelas-jelasnya.
"Kau yakin itu?" tanya Farhan dengan wajah gugup tak karuan. Bahagia bukan main andai itu jadi kenyataan.
"Menurut ciri-cirinya seperti itu, Tuan. Tapi saya akan meninggalkan alat tes kehamilan untuk memastikan. Nona bisa memakainya kalau sudah sadar nanti. Jika hasilnya positif garis dua, segeralah bawa Nona Lisa ke dokter kandungan untuk diperiksakan."
Farhan mengangguk, paham. Lantas mengecup sisi wajah pucat sang istri yang masih terbaling lemah. Sementara dokter cantik itu mulai mengemasi tas kerjanya, lalu menaruh beberapa obat di atas nakas. "Ini adalah obat pereda mual, pusing, dan beberapa vitamin untuk memulihkan kesehatan Nona. Pastikan diminum ya, Tuan. Oh ya, bolehkah saya tahu kapan dan sampai kapan Anda melakukan hubungan suami istri?"
Farhan tampak terkejut mendengar hal itu. Tatapannya yang datar dan minim ekspresi membuat sang dokter merasa tercekik. Sedikit gemetar bibirnya, dia mencoba memperbaiki kosakata pada bicaranya yang kurap pas, "Maaf, saya hanya ingin memastikan saja, Tuan," ujar dokter itu agak takut.
"Setiap Selasa dan Kamis. Biasanya dari jam sembilang malam. Untuk waktunya kami tidak pernah menentukannya, tapi seringnya sampai pagi," urai Farhan datar.
Mulut dokter yang masih single itu membentuk huruf O, lalu menunduk dalam-dalam. Menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sedang travelling membayangkan adegan dua manusia yang durasinya selalu berkepanjangan. Kira-kira mereka ngapain saja? Hihi. Dia tertawa geli mendengar suara hatinya.
Hmmm, tapi memang begitulah hubungan rutin Lisa dan Farhan selama ini. Karena faktor sibuk dan pekerjaan yang menggunung, Lisa membatasi hubungan dengan menerapkan peraturan dua hari dalam seminggu. Dengan catatan, Farhan boleh melakukan sepuas-puasnya. Bahkan Rico ataupun Alex sangat hafal karena Farhan dan Lisa selalu tiba di kantor jam 9 pagi jika habis berhubungan.
Dan, penjelasan rinci itu sukses membuat otak si dokter semakin travelling ke mana-mana. Hari ini 'kan Rabu, berarti semalam .... Aaauw! Hentikan pikiran kotorku. Begitulah dokter Nadya saat bermonolog dengan pikirannya sendiri.
Setelah mengumpulkan keberanian yang cukup. Akhirnya dokter itu mulai bicara, "Begini Tuan, sebenarnya melakukan hubungan berlebihan sampai pagi adalah hal yang tidak baik untuk seorang ibu hamil. Efek sampingnya akan membuat nona kelelahan dan jatuh pingsan seperti tadi. Mulai hari ini, cobalah untuk mengurangi durasi berhubungan demi nona dan buah hatinya. Jangan terlalu diporsir."
"Hmmm. Baiklah, terima kasih sarannya." Farhan mengangguk paham. Tidak ada rasa malu sedikit pun yang tercetak di wajahnya. Tapi entah kenapa, dokter Nadya sangat malu dan gugup berbicara dengan Farhan. Entah karena ia single, atau mungkin karena lawan bicaranya adalah hot daddy seperti Farhan.
***
Malam harinya, Farhan dan Lisa melakukan tes kehamilan via test pack yang diberikan dokter Nadya tadi siang. Sesuai dengan dugaan dokter Nadya, hasilnya menunjukkan postif—dengan satu garis merah tebal, dan satu lagi berwarna merah muda tipis.
"Aku hamil, Mas!" teriak Lisa girang. Akhirnya penantian yang mereka harapkan selama ini terwujud.
"Kamu serius?" Farhan merebut benda pipih yang dipegang Lisa dengan tangan gemetaran dan mata membola sempurna menatapi hasil test pack itu. Lalu memeluk tubuh sang istri penuh haru biru. "Terima kasih banyak, Lisa," ujar pria itu. Tidak ada kata romantis lain yang Farhan ucapkan untuk mewakili perasaannya, selayaknya ucapan terima kasih saat membeli telur di warung, mungkin gaya bicara Farhan terdengar seperti itu.
"Em, Mas!" Lisa yang merasa agak kesal langsung melepas pelukkan Farhan. Mengundang tatapan bingung yang menghiasi bingkai wajah bodoh Farhan kini.
"Kamu kenapa?" tanya pria itu.
Bukannya menjawab, Lisa malah memalingkan wajahnya lesu. Kemudian membawa telapak kaki kecilnya hingga terduduk di atas ranjang. "Gak apa, aku mau tidur duluan, Mas, capek," ujar wanita itu menjawab sekenanya.
Farhan yang merasa janggal langsung ikut bergabung duduk di atas ranjang. Ia mendekap tubuh wanita itu dalam-dalam. Membiarkan Lisa mengatur perasaannya sesaat agar lebih tenang. Kata bunda, ibu hamil itu memiliki emosional yang kurang stabil. Mungkin Lisa sedang merasakan hal itu. Sama seperti adiknya Jennie, dulu dia juga sering mendadak bersikap aneh-aneh begini.
Lisa menggelengkan kepalanya samar-samar. "Justru aku menantikannya," jawan itu, pelan.
"Lalu kenapa sikapmu jadi begitu padaku?" Ia masih mendekap Lisa. Tangan kekarnya mengelus punggung sang istri pelan-pelan sampai tiba-tiba Lisa semakin kesal dan mendorong tubuh Farhan agak kasar.
"Kamu paham gak sih, Mas, kenapa seperti ini?" Nada bicara Lisa meninggi tiba-tiba. Matanya penuh binar dan nyaris menumpahkan cairan bening dari pelupuknya. "Aku sudah berusaha setiap hari merebut hatimu tahu, menjadi ibu yang baik untuk si kembar, bahkan sampai sekarang aku hamil anakmu! Tapi kenapa kamu belum bisa mengatakan cinta yang aku tunggu-tunggu?"
Dua tangan Lisa terkepal. Dipukul-pukulnya dada Farhan dengan kepala tertunduk dan air mata yang mulai menganak sungai.
"Apa maksudmu?" tanya Farhan.
"Aku butuh kejelasan, Mas! Aku muak menjalani cinta tanpa kepastian seperti ini. Cinta sendiri itu menyakitkan," ujar Lisa dengan teriakkan frustrasi. Bibirnya bergetar-getar, dadanya teramat sesak seolah kehilangan pasokan udara secara mendadak. Namun, ada selaksa lega yang melesat cepat karena pada akhirnya ia bisa meluapkan semua perasaannya pada Farhan.
Pria itu melayangkan tatapan yang tak beda jauh. Sama-sama terlihat frustrasi. "Apa semua yang aku lakukan untukmu masih belum bisa menggambarkan perasaanku yang sesungguhnya, Lisa? Tidak bisakah kamu melihat perasaanku dari sisi itu?"
Lisa menunduk sambil meremas piamanya. "Jujur aku bingung, Mas. Baik cinta mau pun sayang, itu tidak ada gunanya jika tanpa dibuktikan dengan pengakuan. Aku sangat butuh kata itu untuk sebuah kepastian. Bagaimana Aku bisa tahu kamu mencintaiku atau tidak? Kalau kamu saja belum pernah menyatakan cintamu sama sekali padaku."
Lisa memberanikan diri mendongak, lantascmenatap Farhan dengan dada naik turun. Pandangannya menukik tanpa teralihkan sedikit pun.
"Sepertinya kita mengalami selisih paham, Lis. Aku memang bukan tipe pria romantis yang bisa mengungkapkan kata cinta dengan mudahnya. Maafkan aku untuk hal ini, seharusnya aku mengatakan itu daripada berharap kamu menyadari perasaanku dengan sendiri. Aku terlalu berekspektasi tinggi terhadap logika yang tertanam diotakmu. Maafkan aku yang tidak berani mengatakannya dengan terus terang sampai membuat kamu berpikir seperti itu." Menghentikan bicaranya sejenak, Farhan menarik napas dalam-dalam.
"Aku mencintamu, Monalisa."
Hening seketika. Keduanya hanya saling memandang setelah kata itu keluar dari bibir Farhan. Sebuah kalimat keramat yang baru bisa terdengar setelah Lisa nyaris menyerah dan putus asa.
Farhan membalas tatapan Lisa dengan mata teduh. Lalu kembali memeluk tubuh wanita yang hatinya sedang rapuh itu seerat mungkin. "Maaf, aku memang tidak paham tentang persoalan cinta. Tapi menurut logika yang aku tangkap, cinta seorang pria tidak bisa diukur hanya menggunakan kata-kata seperti wanita. Kami para pria wajib membuktikan cinta kami melalui perbuatan, dan bagaimana caranya kami berkorban untuk orang yang kami anggap penting. Itu sebabnya aku selalu berusaha melakukan apapun demi kesenanganmu."
Mata membola itu tak dapat menutupi keterkejutannya, Lisa seperti mendengar kalimat terindah yang belum pernah ia jumpai di mana pun.
Jadi ini? Kalimat terbaik yang lebih indah dari sekedar kata: Aku cinta kamu. Sesuatu yang tak tidak bisa didengar, tapi bisa dirasakan. Dan dengan bodohnya Lisa sibuk menunggu pengakuan yang keluar dari mulut Farhan daripada melihat pengorbanan yang Farhan lakukan.
"Cinta bukan hanya sekedar kata, tapi dia juga butuh logika." Farhan menaruh dagunya di pundak Lisa. Gemali sayup terdengar napas beratnya yang memburu. "Maafkan aku karena terlambat mengatakan ini. Semua yang kukatakan barusan adalah hasil dari logika cinta yang aku perdalam selama hidup berdampingan denganmu. Dari hal itu aku mencari bukti bahwa sebenarnya aku sangat mencintaimu, aku membutuhkanmu, aku rela melakukan apapun hanya untukmu. Bahkan, jika harus menukarkan kebahagiaanku hanya untukmu, aku rela."
"Maafkan aku, Mas." Lisa membenamkan kepalanya dalam-dalam. Isak tangisnya sampai tak terdengar saking kuatnya. "Aku bodoh karena tidak paham tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Aku bodoh karena sibuk menunggu kata i love u, sampai aku lupa bahwa hidup ini tidak hanya tentang kata itu."
"Kamu tidak salah, pengakuan cinta memang penting untuk seorang wanita. Ini adalah salahku yang selalu penakut dalam mengungkapkan rangkaian manis itu. Aku tidak mau dijuluki pria kurang ajar yang hobi mempermainkan perasaan wanita jika sampai aku salah menafsirkan sesuatu. Karena aku tahu kaum wanita lebih mengutamakan perasaan. Itu sebabnya aku tidak ingin kamu terlalu berpegang pada prinsip perasaan. Karena banyak pria jahat di luar sana, yang sengaja menyerang perasaan wanita demi mencapai tujuannya."
Cinta adalah kata yang manis.
Namun, bisakah manusia tidak hanya sekedar berkata? Tapi menjalankan peranan penting yang terkandung dalam makna lima huruf itu. Cinta butuh logika. Maka carilah pasangan hidup yang mampu membuktikan cinta dengan logikanya, bukan sekedar kata.
~FARHAN BUDIMAN~
END
***
silahkan lanjut scroll ke bawah ya. Langsung ke part season dua...