HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 36 : ( Season 2)



Perang dingin antara Lisa dan Farhan mulai terjadi selepas acara double date ala-ala itu. Pendingin di dalam mobil yang menyala penuh tak membuat hati keduanya tentram bersahaja. Istri yang kata Zian sedang hamil di luar nalar, memilih untuk membiarkan suaminya ngambek begitu saja tanpa merayu seperti biasa.


Sementara si suami yang ikut-ikutan marah di luar nalar juga tak mau mengerti kalau istrinya sedang ngidam berat. Yang ada di bayangan otak Farhan bukanlah kecemburuannya pada Zian. Ia justru lebih memikirkan mantan Lisa yang entah sekarang berada di mana.


Otak buntu Farhan terus menafsirkan bahwa Lisa sedang merindukan mantan kekasihnya. Berharap bisa melihat dan dimanja-manja oleh pria itu. Maka dari itu Lisa melampiaskan semua rasa rindunya pada Zian si manusia replikaan yang mirip dengan sang mantan.


Ah sial, kenapa aku jadi krisis logika begini?


Farhan melirik Lisa yang mulai terlelap di sampingnya. Ia segera menurunkan kecepatan mobilnya agar tidur Lisa tidak terganggu. Meski marah, sifat perhatian diam-diamnya pada Lisa tidak pernah luntur.


Otak pria itu kembali berkelana tidak karuan. Apa jangan-jangan Lisa bosan? Secara Farhan memang tipe pria datar yang patut dicap membosankan. Apalagi jika mengingat umur mereka terpaut sembilan tahun. Jelas Farhan merasa minder jika dibandingkan dengan mantan pacar istrinya yang masih berwajah muda dan memiliki jiwa milenial tinggi.


Apa aku harus membunuh semua mantannya agar jiwaku tenang? Tidak ... tidak. Pikiran gila dari mana ini?


Farhan mencoba fokus mengemudi agar pikiran iblisnya segera keluar. Hari sudah mulai sore saat Farhan melirik langit yang menjingga melalui kaca spion.


Sesampainya di rumah, Lisa segera mencari dua ondol-ondol kembar untuk mengajaknya makan martabak cokelat kesukaan mereka. Sementara Farhan memilih masuk ke dalam kamar untuk mandi.


Awalnya mereka berdua terlihat akur saat makan martabak bersama, namun beberapa saat kemudian semuanya menjadi kacau saat mulut lemes Cilla mulai berceloteh.


"Bund, Kak El lagi galau tuh!" celetuk Cilla. Di mana ucapannya langsung mencuri perhatian Lisa dan segera melirik pria kecil tersebut.


"Kenapa emang?"


"Sekarang kita udah gak temenan lagi sama Malika, Bun. Dia sendiri yang ngga mau tememan. Kayaknya si Malika malu mau minta maaf ke kita, soalnya sempet marah-marah dan nuduh ayah Hanhan yang nyelakain ayahnya. Gara-gara kejadian itu, kakak udah gak pernah deketin Malika lagi."


"Adek!" Gertakkan Cello tak membuat adiknya berhenti bicara.


"Lagian Cilla juga ngga suka sama anak sombong begitu!" tukas Cilla terus melanjutkan. Tanpa peduli pada kakaknya yang sudah cemberut masam sedari tadi. "Sok kecakepan dia itu, Bun!"


"Ya udah gak usah dibahas di depan Bunda! Ngapain sih?" teriak Cello tidak terima.


"Kok kakak jadi belain si Kecap! Kamu naksir sama dia? Pacaran aja sana!" sinisnya.


"Siapa yang naksir? Anak kecil ngga boleh pacaran!" tegas Cello tak mau kalah.


"Sudah ... sudah!" Lisa yang melihatnya mulai pusing.


Suara mereka berdua makin ramai memenuhi seluruh ruang keluarga sampai seruan Lisa tak dihiraukan lagi. Boneka Cilla sudah melayang ke luar jendela akibat dilempar oleh Cello. Sebagai bentuk balasan mainan Cello dibanting adiknya.


Plak!


Satu tabokkan Cello di muka adiknya cukup membuat Cilla menghentikan aksinya.


"Huaaaaaa!"


Suara tangisan gadis kecil itu menggema keras sekali. Lisa segera membenamkan kepala anak itu kepelukannya agar tidak didegar Farhan. Ia mengusap-usap pipi merah gadis itu dengan hati-hati. "Makannya jangan mulai duluan! Sudah tau kakak kamu laki-laki!" teriak Lisa ikut terbawa emosi.


Kepala Lisa jadi makin pening. Beginilah kegiatannya selama berada di rumah bersama si kembar. Meskipun mereka sering dipuji dan terlihat manis di depan umum, namun keduanya tak beda dengan anak kecil lainnya. Suka berdebat. Suka bercanda. Suka bertengkar, dan bahkan bisa saling memukul.


"Minta maaf sama adek!" teriak Lisa pada bocah yang tengah mengusap-usap mainannya yang dibanting tadi.


"Kan adek yang duluan mukul, Bun."


"Tapi semuanya salah! Kalian harus minta maaf!" Lisa mencoba mendamaikan keduanya. "Sebentar lagi ayah keluar. Kalau ayah sampai tahu kalian habis bertengkar, bunda ngga tau hukuman apa yang akan kalian terima."


Mendengar itu keduanya saling mengulurkan tangan meski dalam hati enggan. "Dah!" ketus Cello kaku.


"Biii!" Lisa berteriak. Dua baby sitter mereka datang dari arah dapur. Saat anak-anak bersama Lisa, mereka memang sengaja diistirahatkan. Baby sitter mereka baru akan kembali mengawasi kalau tidak ada Lisa ataupun Farhan yang menemani kegiatan mereka.


"Awasin mereka berdua! Suruh belajar dan jangan ada yang boleh mainan tablet hari ini!"


"Bundaaaa!" Mereka berteriak kompak. Kedua bola mata si kembar berbinar menolak ketegasan Lisa.


"Kalau ayah yang hukum akan lebih parah dari ini. Kalian mau?"


Mereka menggeleng pasrah. Keduanya masuk ke kamar masing-masing diikuti oleh baby sitter mereka. Lebih baik tidak main tablet selama sehari dari pada sebulan. Dibandingkan Farhan yang selalu keras, Lisa masih memiliki batas toleransi dalam menghukum dua ondol-ondol tersebut. Jika Lisa sudah pasrah dan menyerahkan semuanya pada Farhan, maka habislah mereka berdua. Pria itu tidak pernah tanggung-tanggung jika menghukum kedua anak didikannya. Farhan akan melarang Cilla bermain gadget dua minggu, sementara Cello mendapat hukuman dua kali lipat dari adiknya.


Ini adalah bentuk hukuman yang setimpal bagi Farhan. Namun sangat mengerikan di mata Cello yang notabene masih berpemikiran bocah. Itu sebabnya ia selalu pikir dua kali saat hendak melakukan kesalahan. Hal ini Farhan terapkan agar Cello mengerti bahwa kodratnya adalah seorang pria yang akan memikul banyak beban dan tanggung jawab suatu hari nanti.


Lima hal yang selalu Farhan tekankan pada anak laki-lakinya adalah; Menjaga sopan santun, menjaga emosinya dengan baik, belajar berani dan bertanggung jawab, dan tentunya harus saling mengasihi sesama.


***


Kasih edukasi dikit. Ini buat yang punya anak cowok boleh dicontoh ya. Boleh diterapkan. Ketimbang menuntut anak supaya pintar dan mendapat nilai bagus di sekolah, anak cowok lebih baik di perkuat didikkannya dalam norma-norma tersebut.


up lagi kalo komennya udah 300.