
Di dalam kamar, mungkin Farhan sudah tidur lelap bersama gadis kecil kesayangannya. Ini adalah kesempatan emas untuk Lisa agar lebih leluasa dan tenang mengawasi mereka berdua. Wanita itu pun cekikikan tak jelas sambil terus menutupi mulutnya. Melihat setiap tingkah Cello dan Malika dengan perasaan bahagia.
Andai orang tahu, Lisa sudah seperti maling yang sedari tadi sembunyi-sembunyi di ruang sempit agar tidak dilihat oleh Malika dan Cello.
Ngomong-ngomong dua bocah itu sudah pindah tempat lagi. Mereka pindah ke meja makan lantaran pelayan datang membawakan krim sup pesanan Cello.
Mereka pun makan dengan anteng dan lahap sambil sesekali mengobrol akrab. Sementara Lisa masih terus memperhatikan keduanya. Tadi ia sempat hendak ditegur oleh salah satu pelayan, namun buru-buru Lisa melotot dengan telunjuk tertempel di mulut. Wajahnya penuh ancaman agar jangan sampai menyapanya.
Kelakuan nona muda yang satu ini memang aneh. Untuk apa mengintip kegiatan anak-anak? Paling juga mereka membicarakan mainan dan sekolah. Begitula isi pikiran si pelayan sambil berlalu dan pura-pura tak melihat Lisa tentunya.
Kegiatan makan krim sup selesai. Keduanya menikmati hidangan kedua yaitu puding susu coklat kegemaran anak-anak. Mereka makan sambil sesekali bercanda dan menggoda satu sama lain. Hal yang wajar dilakukan anak kecil seusia mereka.
Malika menyingkirkan piring puding yang tinggal sisa sedikit ke samping. "Aku udah kenyang banget. Gak abis gak papa 'kan?"
"Buat aku aja! Sayang kalau dibuang." Tanpa diduga Cello mengambil piring bekas Malika tanpa rasa jijik. Lantas menyendok puding yang tinggal sesuap itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Manisnya, batin Lisa sambil berdecak kagum dengan dua tangan tertaut menutupi area wajah. Sayangnya Malika anak-anak. Jadi ekspresinya biasa saja. Justru Lisa yang tanpa sadar sudah merona malu melihat kelakuan mereka berdua.
Jangan berpikir macam-macam. Mereka hanyalah anak-anak. Begitulah Lisa bermonoloh dengan otak terkutuk yang mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
Tak mau kelewatan suatu adegan pun, wanita itu kembali fokus memasang telinga agar dapat mendengar segala ucapan Cello dan Malika. Ia sudah berpindah di tiang satu lagi yang lebih dekat dengan mereka berdua.
"Aku mau tanya?" Malika memajukan bibirnya dua centi. Meneliti setiap mata polos Cello dengan seksama. Sesekali ia menggesekkan kedua tangan yang disembunyikan di bawah meja.
"Tanya apa?" ucap Cello seraya menumpuk dua piring di depannya. Menyingkirkan ke samping agar diambil oleh pelayan nanti.
"Kamu ada alasan lain gak selain pengin nikah sama aku karena orang tua kamu?" tanya anak itu penasaran.
"Alasan ya?" Cello tampak berpikir sejenak sambil memandang ke langit-langit ruangan. Kemudian menatap Malika lagi dengan sungguh-sunguh. "Sebenarnya aku ada sepuluh alasan lain." Begitu riangnya Cello berbicara seperti pejabat korupsi yang lolos dari penyelidikan badan KPK.
"Kok banyak banget, sih?" Terkejut, Malika sedikit mengerutkan dahi mendengar hal itu. Pun Lisa yang mengintip di balik tiang sudah gemetar-gemetar cemas mendengar mulut laknat Cello berbicara dengan lancar tanpa saringan. Kira-kira alasan apa ya?
"Emang apa aja alasannya?" Pertanyaan Malika mewakili rasa pesaran Lisa yang sudah memasang pendengarannya lebar-lebar. Keringat di sekitar dahinya sudah mengembun dan menetes perlahan.
Aku udah gak sabar, jerit Lisa dalam hati sambil gigit jari.
"Beneran kamu mau tau alasannya, nih?" Cello seperti sengaja menarik ulur bicaranya. Gaya itu sangat menyebalkan. Persis seperti Farhan kalau lagi kumat.
Malika mengangguk-angguk saja. Menunggu Cello berbicara.
Anak itu menyeringai sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Alasannya adalah ... pertama aku menyukaimu, kedua aku menyukaimu, ketiga aku menyukaimu, keempat aku menyukaimu, kelima aku menyukaimu. Enam ... tujuh ... delapan ... sembilan sampai sepuluh, aku menyukaimu, KECAP!"
Sontak Lisa yang mendengarnya nyaris mati lemas kehabisan napas. Dadanya serasa sesak sampai ia kesulitan mengatur laju oksigen yang masuk ke dalam rongga paru-parunya. Jantungnya mulai terpacu hebat. Tidak menyangka bahwa Cello sefasih itu dalam mengutaran isi hatinya.
Ya Tuhan. Apa anak jaman sekarang seajaib ini? Dari mana Cello mempelajari gombalan sialan itu?
Lisa masih terus memegangi dada.
Sementara Malika yang sedang mencerna ucapan Cello dibuat terpaku sejenak. Lalu tersadar dan langsung menggetok kepala anak itu. "Itu satu alasan! Cuma kamu ngomongnya sepuluh kali!" celetuk Malika kesal.
"Oh gitu ya?" Cello mengusap bagian kepala bekas getokan Malika. Anak itu tersenyum kikuk. Memamerkan deretan gigi putihnya yang tampak bersih dan rapi.
"Enggak serius juga sih! Sebenernya aku ngarang! Hahaha!"
Ia terbahak-bahak. Lagi pula anak kecil seperti Cello mana paham tentang suka-sukaan.
"Nyebelin!"
Malika memalingkan wajahnya kesal. Sudah ia tebak bahwa Cello hanya sedang bergurau ria.
Bagaimana dengan Lisa? Wanita itu mendadak geram. Jika ia yang jadi Malika, pasti Lisa sudah baper luar biasa. Sayangnya Malika masih kecil. Jadi ia tampak biasa ketika mendapati Cello PHP.
Dahlah, aku bisa gila kalau terus menguntit mereka seperti ini!
Pada akhirnya Lisa memilih kembali ke kamar. Ia mendapati Farhan keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pingganya.
Lisa segera memeluk Farhan dari belakang. Menciumi punggung basah pria itu seraya menghirup aroma maskulin yang menguar pekat dari tubuhnya.
Kenapa wanita ini? Batin Farhan. Kemudian melirik Cilla di atas ranjang takut anak itu bangun. Padaha tadi Lisa sendiri yang ngoceh-ngoceh saat Farhan menciumnya, sekarang malah dia yang bertingkah aneh.
"Aku mau tanya sesuatu!" bisik Lisa pelan, ia ingin bertanya pada Farhan seperti Malika yang bertanya pada Cello di meja makan tadi. Lisa penasaran apakah Farhan bisa sehebat anaknya piranha itu.
"tanya apa?" Farhan menautkan satu alisnya. Masih diam tak bergerak dengan posisi yang sama seperti tadi.
"Selain menganggapku beban hidup yang berharga di hatimu, apa ada alasan lain yang mendasari perasaanmu?"
"Alasan?" Farhan mengernyit, tidak paham dengan arah bicara Lisa. Entah ia harus menyebut ini jebakan maut atau ajakan romantis ala wanita.
"Iya. Aku mau tau alasan lain kamu mencintaiku," ucapnya lagi. Penuh dengan nada penekanan
Sambil menghela pelan Farhan berkata, "Mungkin karena aku dan kamu sudah ditakdirkan berjodoh. Dan aku merasa kamu adalah seleraku," jawab Farhan logis tapi jauh dari kata romantis.
Kenapa aku tidak terkesan sama sekali si? Wajah Lisa ditekuk masam. Farhan memutar tubuh dan mendapati anak itu sedang cemburut ke arahnya.
"Kenapa mukamu begitu, aku sudah berkata jujur!" tegas Farhan. "Apa yang salah dengan ucapanku?"
"Tidak ada yang salah! Hanya saja aku ingin mendengar sesuatu yang romantis darimu!" Memilih menyerah, Lisa sudah berbalik arah dan hendak pergi meninggalkan Farhan. Namun pria itu menarik pergelangan tangan Lisa hingga mereka bertukar posisi.
Kini Farhan yang memeluk Lisa dari belakang. Embusan napas pria itu melekat hangat di antara ceruk leher Lisa. Wanita itu agak sedikit menggeliat kegelian. "Pertanyaanmu sungguh aneh, Lisa. Jelas kamu sudah kuanggap seperti oksigen yang selalu kubutuhkan setiap waktu. Jauh darimu saja aku merasa sesak dan gelisah. Bukankan itu sudah cukup jelas bahwa aku mencintaimu tanpa alasan. Tapi penuh dengan pembuktian," lirih Farhan. Kemudian mengecup pipi merona Lisa dengan kasih sayang.
"Benarkah?"
Hati Lisa berubah seketika. Serasa melayang-layang sampai ke surga di dalam pelukan sang arjuna.
Farhan mengangguk pelan sambil berdeham. Namun batinnya tak bisa berkilah kalau sebenarnya dia sedang kesal.
Benar apanya? Jika bukan karena ingin menyenangkan perasaaanya, tentu saja aku tidak akan mengucapkan kalimat garing membosankan seperti ini.
***
Yang baca kasih bunga dan kopi dong. Jangan pelit-pelit. 😁😁