HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Darah dan Luka



Suara keras yang tadi itu benar-benar suara tembakkan, bukan suara balonku ada lima yang meletus satu seperti lagu.


Lisa segera berlari saat satpam dan beberapa bodyguard masuk ke ruangan Farhan. Dadanya naik turun, matanya membelalak sempurna ke arah lantai yang menjadi sumber masalah kehidupan.


"Astaga!" Memekik kuat, Lisa kemudian menutup mulutnya tidak percaya. Air matanya semakin jatuh tatkala melihat Rico tergeletak bersimpah darah. Ia tidak tahu bagian tubuh mana yang terluka. Tapi darah Rico yang lumayan banyak berceceran di lantai membuat tubuh Lisa gemetaran takut.


"Pak Rico kenapa?" isak wanita itu, di sisi lain sudah ada suaminya yang sedang diamankan oleh beberapa bodyguard. Lisa lebih memilih menghampiri Rico, karena keadaan pria itu jauh lebih memprihatikan daripada suaminya yang nampak sehat walafiat.


"Aku tidak apa-apa, ba-bantu tenangkan tuan Farhan untukku," balas Rico terbata-bata. Ia lepaskan senyum terbaiknya. Pria itu menggeram sakit saat seseorang berusaha membalut luka di tubuhnya. Matanya terpejam dengan sejuta nikmat luka yang menggerogoti sekujur syaraf.


"Kenapa bisa sampai seperti ini ya, Tuhan? Apa mas Farhan yang melakukannya?" tanya Lisa yang keheranan sendiri. Mengingat betapa sayangnya pria itu terhadap Rico, rasanya tidak mungkin jika Farhan sampai berani melesatkan peluru ke bagian tubuh Rico. Jika iya, apa masalahnya?


Dibandingkan luka menyerang tubuh kekar itu, batin Rico jauh lebih menderita. Entah karena hal apa, yang jelas Lisa dapat melihat jejak kepedihan dari cairan bening yang keluar dari pelupuk mata Rico saat ini.


"Aku baik-baik saja. Bantu aku tenangkan tuan Farhan." Pria itu berujar penuh penekanan selagi orang-orang melakukan pertolongan pertama atas luka tembak yang melubangi tubuhnya.


Ada binar khawatir di wajah Rico. Pria itu terus menatap Farhan sayu dengan jarak lima meter.


"Ce--cepat hampiri suamimu, dia butuh dimengerti." Setelah mengatakan kalimat ambigu, mata Rico mulai terpejam layu. Ia sudah tidak dapat menahan kesadarannya lagi karena tubuhnya terlalu banyak mengeluarkan cairan darah.


"Pak Rico, bertahanlah!" teriak Lisa ketakutan.


Banyak kalimat yang ingin Lisa tanyakan. Namun, ia tahu bahwa Rico sudah tak berdaya lagi menahan beban luka di tubuhnya. Lisa hanya mampu berdoa sebanyak-banyaknya agar nyawa pria itu dapat diselamatkan.


Petugas medis yang mulai berdatangan langsung melakukan tindakkan dan membawa Rico ke rumah sakit secepatnya.


Setelah memastikan semuanya aman, alias tidak ada alat yang membahayakan di samping Farhan, Lisa meberanikan diri mendekati suaminya. Ia harus menanyakan duduk perkara yang terjadi di antara Farhan dan Rico barusan agar semuanya menjadi jelas.


"Pergi kau!" Bentakkan Farhan membuat Lisa terperanjat ngeri. Namun, langkahnya untuk mendekati Farhan tak sedikit pun goyah. Ia tahu betul bahwa tempramen suaminya sedang dalam mode buruk. Apalagi Farhan memiliki riwayat penyakit mental.


Lisa memilih duduk di samping Farhan. Wanita itu menunduk, mencoba menyembunyikan wajah takutnya sambil meremas lutut.


"Apa kau berpikir aku telah membunuh Rico?" Pertanyaan Farhan melayang garang.


Logika. Satu kata itu tersematkan di benak Lisa. Ia tidak boleh gegabah dan langsung menuduh Farhan atas kejadian ini. "Kamu tidak mungkin sejahat itu, Mas." Memilih jawaban terbaiknya.


"Kata siapa?" elak Farhan dengan nada putus asa yang tersembunyi di balik binar mata.


Sesuai permintaan Rico untuk terakhir kali, Lisa bicara dengan hati-hati, "Tenangkan dulu pikiranmu, Mas! Aku yakin pak Rico baik-baik saja."


"Aku lebih berharap dia mati saja!" telak Farhan keji.


Sebenarnya ada apa sih?


***


Kata Lisa:


Coba tanya ama pembaca ada apa.