HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kisahku 2



Tangan Lisa digenggam semakin erat, Farhan nampak berat saat hendak menceritakan kisah kelamnya di masa lalu. Sebuah cerita di mana Farhan tumbuh hingga menimbulkan dampak pribadi yang aneh seperti sekarang.


"Masa kecil adalah masa-masa terberatku dan ketujuh anak panti lainnya. Di mana kami hampir setiap hari merasakan lapar karena panti asuhan kumuh itu nyaris bangkrut."


Bibir Farhan nampak bergetar saat ceritanya di mulai. Lisa memilih untuk diam walaupun awalan cerita Farhan sangat ngilu untuk di dengar. Tidak beda jauh dengan nasib Lisa sendiri yang ditinggal kedua orang tuanya sejak kecil.


"Dari ke tujuh anak panti yang seumuran denganku, hanya aku seorang yang tidak pernah diadopsi," ujarnya lagi.


Lisa terperangah. Padahal Farhan tampan dan termasuk goo looking.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Lisa penasaran.


"Karena aku berbeda, tidak ceria seperti anak panti lainnya. Di saat mereka menunjukkan bakatnya sebagai anak-anak, aku lebih memilih duduk dipojokan dan menyendiri. Namun, otakku terus berpikir agar aku dan anak lainnya tidak kelaparan lagi."


Mulut Lisa membentuk huruf O. Ia baru ingat bahwa Farhan adalah batu bernapas yang irit berbicara.


"Terus?"


"Saat umurku sepuluh tahun, semua anak panti sudah diadopsi semua kecuali aku. Di mana tak lama kemudian datang 5 anak panti yang umurnya lebih kecil dariku. Saat itulah kisah kelam kami di mulai." Farhan menghela pelan. Sedikit melirik Lisa yang tampak antusias dengan ceritanya tanpa mengerjap.


"Ibu panti terpaksa melimpahkan tugas yang berat untukku karena asistennya kabur membawa semua uang donasi. Setiap hari, aku selalu bangun jam tiga pagi untuk membantu ibu membuat kue jajanan pasar. Lalu untuk menambah pemasukan aku juga berjualan koran sambil membawa dua adik yang usianya seumuran dengan si kembar."


Lisa nampak terkejut dengan bibir mengerucut. "Kamu mengajak mereka berjualan?"


"Tidak! Aku menyuruh mereka menungguku di taman selagi aku berjualan koran di lampu merah. Setiap 1 jam sekali aku menengok keadaan mereka."


Farhan memutar memorinya. Mengingat masa kelam yang pahit itu. Terkena debu, kepanasan, dan yang lebih parah lagi di saat hujan mengguyur bumi. Ia harus mencari tempat bernaung untuk menyelamatkan koran-korannya agar tidak basah. Masa kelam itu terrlalu pedih jika diingat-ingat.


Lisa mulai bertanya lagi. "Lalu ibu pantimu kemana?"


"Beliau berjualan kue di pasar, sambil membawa tiga anak panti lainnya. Kami berdua harus bisa membagi waktu demi bisa makan setiap hari," kata Farhan—miris.


"Apa tidak ada orang dermawan yang membantu? Mengapa sekejam itu?"


Farhan menggeleng.


"Semenjak asisten panti membawa kabur uang donasi, semua para donator yang biasa membantu marah dan tidak mau memberi donasi lagi. Sebagian penduduk kaya yang tinggal di dekat panti juga mulai membenci panti asuhan itu. Apalagi jika melihat keadaan kami yang miris, semuanya seolah menyingkir, dan mengira bahwa kemiskinan yang menimpa kami adalah sebuah pencintraan untuk mendapatkan lebih banyak donasi."


Lisa menutup mulutnya tidak percaya. Ia merasa prihatin dengan manusia berpemikiran seperti itu.


"Bagaimana bisa mereka sejahat itu? Di mana otak mereka sampai mengira kalian melakukan pencitraan," sungut Lisa yang mulai terpancing suasana. Ia sampai memukul bantal saking kesalnya.


"Karena suami dari ibu panti mengida penyakit struk, orang-orang mengira bahwa hasil donasi dipakai pribadi untuk pengobatan beliau. Padahal, hingga hembusan napas ayah panti sama sekali tidak pernah dibawa ke rumah sakit. Hanya mengkonsumsi obat apotik ala kadarnya karena kebutuhan kami banyak, sementara penghasilan kami sangat terbatas."


"Jahat!.Rasanya aku ingin memukul kepala bodoh mereka yang berpikiran tidak jelas," sungut Lisa sekali lagi.


"Semua itu sudah berlalu, kamu cukup dengarkan saja." Farhan mencubit hidung Lisa gemas.


Wanita itu mengangguk walau hatinya masih dongkol. "Iya maaf, tapi aku kesal tahu! Terus bagaimana lagi kisah kalian?" Lisa mengeratkan pelukannya pada Farhan. Pria itu menyambutnya dengan pelukan yang sama eratnya.


"Terlalu banyak lika-liku, hidup kami masih saja susah hingga umurku 17 tahun dan diadopsi oleh tuan Haris. Saat itu aku dan ibu panti memiliki usaha warung sembako, tapi sayangnya lahan kami adalah hasil sengketa. Tempat di mana tuan Haris hendak hendak membangun gedung barunya."


"Lalu kalian bertemu di sana?"


"Tidak!" jawab Farhan datar.


"Iksh!" Lisa memukul dada Farhan geram. "Kenapa ceritamu hanya setengah-setengah, sih? Cepat ceritakan yang benar." Dia menggeram sebal dan nyaris menggigit Farhan saking kesalnya.


"Akhirnya kamu bertemu orang baik. Bagaimana dengan prestasi. Apa kamu selalu masuk lima besar?"


"Aku selalu menduduki peringkat pertama dari SD hingga SMA," jawab Farhan bangga.


"Woah keren. Jadi tuan Haris mengadopsimu karena prestasimu?"


"Ya, tapi semua itu belum berakhir. Ketika aku lulus SMA, aku mulai kuliah dan bergabung dengan perusahaan Revical Grup. Di situlah penderitaanku selanjutnya di mulai. Aku di didik keras tanpa mengenal kasih sayang. Lebih parah dari kehidupanku di panti, hingga aku merasa ingin kabur dan berhenti menjadi anak angkat tuan Haris."


"Sekejam apa memangnya tuan Haris itu?" Lisa jadi penasaran sendiri.


"Beliau tidak kejam, tapi aturan yang ketat membuatku nyaris gila. Terlalu banyak target yang harus kucapai. Aku harus belajar kejam untuk menyingkirkan pesaing-pesaing lain di dunia bisnis. Intinya, tuan Haris mengajariku bahwa kekuasaan adalah hal yang harus diutamakan jika aku tidak ingin dilecehkan orang lain lagi."


"Jadi pribadi kejammu tumbuh dari sana?"


Farhan mengangguk. Membenarkan pertanyaan Lisa barusan. Ingatannya kembali pada masa itu, di mana ia berkata pada tuan Haris, bahwa ia ingin dipandang selayaknya manusia dan tidak dihina oleh orang lain. Dan tuan Haris mewujudkannya, dengan jabatan dan prestasi Farhan di dunia bisnis.


"Saat kecil aku selalu diajari bagaimana caranya bertahan hidup agar bisa makan, dan menjelang dewasa aku diajari bagaimana caranya bertahan hidup dilingkungan bisnis yang penuh dengan persaingan," ucap Farhan.


"Aku paham. Sepertinya hidupmu lurus dan datar. Tidak ada cinta ya?"


"Aku tidak mengerti tentang wanita apalagi cinta," jawab Farhan apa adanya.


Lisa termenung sejenak. Ternyata inilah jawaban di balik kejamnya seorang Farhan Budiman. Dia hidup tanpa mengenal cinta ataupun keluarga. Dan itu terjadi semenjak ia kecil.


"Terima kasih karena telah menceritakan semuanya, sekarang aku sudah tahu bagaimana caranya merubahmu. Meskipun itu sulit, aku akan mengajarimu mengenal cinta dan kasih sayang."


Senyum Lisa melengkung manis. Di mana Farhan tanpa sadar membalas senyum itu sambil berkata,


"Terima kasih."


"Sama-sama, tapi aku masih sebal dengan ayah Hermawan. Bolehkan aku membencinya?"


"Jangan!"


"Tapi gara-gara ayah Hermawan, kamu tumbuh menjadi anak monster seperti ini." Lisa merangkum wajah Farhan—prihatin. Manik matanya merambang dan masih tidak terima pada kenyataan yang dilalui oleh suaminya.


"Reyno pernah berkata, jika ia berada di posisi ayah Hermawan, kemungkinan ia juga akan melakukan hal yang sama. Membunuh ayah kandungku yang telah melecehkan kekasihnya. Meskipun aku masih sedikit membenci ayah Hermawan, tapi aku berusaha untuk melepaskan semua dendam itu. Aku ingin memafkan, karena jika aku tidak dibuang, mungkin aku tidak akan mencapai titik kesuksesan seperti ini."


Begitulah Farhan mengambil hikmah di balik masa kelamnya. Lisa mengangguk paham lalu membenarkan.


"Iya juga sih, tidak ada laki-laki manapun yang bisa terima melihatkan orang yang dicintainya sampi dilecehkan oleh orang lain. Kalau begitu aku tidak jadi benci ayah," ujar Lisa merubah pikirannya.


"Dasar plin-plan," ejek Farhan.


Pria itu mengambil remot dan mematikan lampu kamar. Lalu tersenyum dalam cahaya remang-remang. Entah mengapa, ia merasa lega sehabis bercerita pada istrinya. Seperti gunung yang membebaninya selama ini telah terlepas.


Ada sensasi hangat yang menyeruak di dalam dada. Apakah itu yang di namakan kasih sayang?


***


Update lagi tengah malam. Tapi jangan di tunggu ya, takut gak kekejar. Jangan lupa semangatin aku dengan like komentar dan vote dukungan agar otakku encer. Txyu


"