HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 82 : (Season 2)



"Selamat malam Tuan Farhan, lama tidak berjumpa!" Skala menyapa dengan uluran lengan yang refleks menyambar tangan Farhan.


Senyumnya mengembang penuh arti seperti orang yang sengaja datang ke sini untuk mengejek. Entahlah, Farhan melihatnya seperti itu.


"Selamat malam juga Tuan Skala Prawira. Lagi-lagi Anda yang datang, sepertinya tuan Prawira begitu sibuk sampai segalanya harus diwakili cucunya?" Tak mau kalah, Farhan membalas ucapan pria itu dengan kenyinyiran paripurna.


Sudah tidak aneh lagi kalau melihat mereka melakukan perang hot-hot pop seperti ini. Dari awal pertemuan, dua makhluk yang otaknya sama-sama keras itu memang tidak pernah bisa akur. Hubungan mereka selalu tarik ulur penuh kepura-puraan apalagi saat di hadapan publik seperti ini.


Bianca menggamit lengan Skala yang tangannya sudah di masukkan ke saku celana. Tak lupa ia menyapa Farhan dan Lisa yang sepertinya tengah hamil juga. Namun, Bianca hanya sekedar mengira-ngira tanpa bermaksud bertanya karena tidak begitu akrab dengan Lisa.


"Ngomong-ngomong konsep pesta Anda kali ini bertema apa ya? Jujur saya sangat kagum sekaligus penasaran, saya lihat ada hiburan dangdut dan atraksi sulap di luar," ucap pria itu sedikit mengejek pada nada bicaranya.


Karena Farhan tidak tahu apa-apa soal pesta, kali ini Lisa yang menjawab, "Tema acara kita kali ini adalah berbagi, jadi selain memfasilitasi hiburan untuk masyarakat umum, kami juga akan mengadakan penggalangan dana untuk dibagikan kepada sepuluh ribu anak yatim piatu, kegiatannya akan berlangsung di puncak akhir acara nanti, silakan Tuan Skala dan Nona Bianca mengikutinya jika berkenan.”


“Oh begitu, mulia sekali tuan rumah yang menggelar acara ini!” Skala manggut-manggut dengan mata melirik ke arah Farhan. Nada suaranya berubah pelan. “Semoga saja acara ini murni penggalangan dana, bukan bisnis yang berkedok berbagi seperti orang kaya yang hobi berbagi untuk ajang pencitraan.”


Ada masalah hidup apa tuan Skala ini. Laki kok nyinyir sekali. Lisa mulai melihat gelagat farhan hendak mengamuk langsung menarik lengan suaminya.


Jangan sampai! Amit-amit jangan sampai dua manusia itu bertengkar di tempat seramai ini.


“Ah, untuk yang satu itu Tuan Skala tidak usah khawatir. Saya pastikan uang dari hasil penggalangan dana nanti jatuh ke tangan yang semestinya. Kebetulan sekali suami saya selalu rutin menyisikan sebagian hartanya untuk anak yatim piatu dan yang membutuhkan setiap bulannya, maka dari itu di acara kali ini ia ingin mengajak semuanya untuk berbagi kepada kaum yang membutuhkan,” pamer Lisa.


“Hahaha!” Skala tertawa renyah. “Saya sangat yakin bahwa tuan Farhan yang budiman seperti namanya ini tidak akan melakukan hal seperti itu. Iya 'kan, Sayang?” Sambil menoleh ke arah Bianca yang sedari tadi mengutuki pria itu dalam hati.


Bodo amat pria itu marah, pikir Skala. Yang penting hatinya kali ini puas dan senang.


"Sudah kubilang apa!" Kali ini Lisa menjadi sasaran empuk atas kemarahan Farhan. "Aku sudah bilang pada William bahwa acara penggalangan dana itu jangan sampai digabung dengan acara resmi kita. Kamu lihat akibatnya bukan, orang-orang jadi berpikiran negatif tentangku. Mereka akan berpikir aku memanfaatkan hasil penggalangan dana untuk kepentingan pribadi."


Farhan benar-benar kesal sekarang. Skala adalah satu-satunya orang yang berani menyerangnya dengan ucapan telak. Meskipun hanya Skala yang berani mengatakan hal itu, bukan berarti yang lain tidak memiliki pemikiran yang sama dengan pria itu.


Ide menggabungkan dua acara resmi dan umum seperti ini adalah usulan William. Pria itu ingin menghemat waktu sekaligus biaya. Sayangnya ia tak memikirkan resiko sama sekali.


Farhan berusaha menolak karena sudah tahu akan jadi seperti apa akhirnya, tapi Lisa bersikeras membolehkan karena dia pikir acaranya akan bertambah ramai jika dibarengi dengan penggalangan dana untuk orang kurang mampu.


Wanita itu langsung memasang wajah tidak enak. "Maaf Mas, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Biarkan saja mereka berpikiran negatif tentang kita, tapi yang terpenting apa yang kita lakukan tidak melenceng dari niat utama kita sendiri. Manusia 'kan memang seperti itu, apa pun yang kita lakukan, baik buruk atau salah tidak akan mempengaruhi segalanya. Mereka yang membenci kita akan tetap membenci meskipun kita sudah melakukan seribu kebaikan sekali pun." Satu pelajaran hidup keluar dari mulut Lisa selancar air terjun dari sungai Tugela.


"Manusia bukan diciptakan seperti Setan dan Malaikat, wajar jika hidupnya berada di antara kebenaran dan kesalahan."


Jurus kedua keluar dari mulut Lisa yang dipakai untuk membela diri sendiri. Farhan langsung kicep bersama dengan amarah yang perlahan memadam.


Ketika Farhan salah, apakah mereka pikir tindakkannya sudah benar? Tidak sama sekali! Jadi abaikanlah! Hakikatnya, manusia memang terlahir dengan dua unsur itu. Unsur benar dan unsur salah, yang membuat Tuhan menyerukan sebuah penegasan bahwa kita adalah seorang khalifah dari Bumi.


Spesial for Nasya Mahila, tetap semangat ya.... nulisnya....


***


Part berikutnya 21+ Antara Skala dan Bianca. Yang masih belum cukup umur menghindar dulu ya.


Ada yang kangen gak sih? Gengs. Komen donk. Hehehe.