HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 15 : (Season2)



"Ayah ... Ayah ...!"


Malika baru saja sampai di rumah. Dengan napas tersengal-sengal, ia langsung berteriak-teriak mencari keberadaan sang ayah yang entah berada di mana. Dari arah dapur, ibunya datang berlari menghampiri anak itu.


"Loh ... loh ... ada apa ini?" tanya ibu pada anak bungsunya. Tak biasanya Malika bersikap seperti orang kesetanan seperti ini.


"Ayah mana, Bu?" Malika mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Kenapa nyariin ayah? Tadi ayah sakit pinggang, jadi ngga bisa jemput kamu ke sekolah."


"Ikh bukan itu!"


"Terus apa? Marah gara-gara pulang naik bus sekolah?"


"Ayahh!" teriak anak itu. Lantas berlari ke halaman samping saat melihat ayahnya sedang ngopi dan duduk-duduk santai di atas dipan kayu jati kebanggaannya.


"Ya ampun, anak perawan pulang bukannya salim dulu malah ngamuk-ngamuk!" Ibu Malika menggelengkan kepala dengan kelakuan anaknya yang nyelonong pergi begitu saja.


Malika tak peduli dengan ucapan ibunya, ia segera membuka pintu kaca dan mendorongnya ke samping untuk menemui ayahnya. "Yah ... Ayah ngomong apa sih sama anak itu? Kenapa anak itu jadi gangguin aku terus-terusan begini?" tanya Malika seraya berjalan menuju ayahnya.


"Anak yang mana ini? Ayah bingung, dateng-dateng langsung marah sama ayah. Sini duduk dulu!" Pak Farik membawa putrinya ke atas pangkuan. Meskipun sudah cukup besar, namun Malika memang terbiasa dimanja oleh kedua orang tuanya. Dan hal itulah yang membuat 3 anak laki-laki pak Farik membenci keberadaan Malika.


"Ituloh, ada anak kelas dua yang ngasih aku cincin." Malika mengeluarkan sekotak cincin yang diberikan Cello tadi. Membuat pak Farik membelalak kaget saat melihat kotak imut berwarna merah muda tersebut. "Kata dia ayah pernah cerita kalo orang tuanya pengin aku sama dia nikah. Terus sekarang dia jadi maksa-maksa dan kasih cincin ini ke aku."


"Siapa sih?" Pak Farik sempat linglung sesaat. "Oh! Jangan-jangan Ello ya?"


"Iya itulah, aku agak lupa namanya," ucap Malika seraya menggerutu sebal. "Dia itu maksa banget mau nikah sama aku kalo udah gede. Katanya biar orang tuanya di surga bahagia."


"Ck." Pak Farik mengulas senyum geli. Kemudian mengelus rambut sang putri dengan penuh kasih sayang. "Dulu ayahnya dia memang suka sekali sama kamu. Katanya kamu lucu dan imut. Dia juga pernah bilang kalau pengin anak ayah berjodoh sama salah satu anaknya dia. Dan kamu satu-satunya target yang tepat memang."


Malika sontak mendongak kesal. "Ayah! Tapi aku 'kan masih kecil. Aku juga gak suka sama anak nyebelin itu."


Pak Farik tertawa seraya menjumput bibir mungil putrinya. "Ayah ataupun orang tua Cello juga gak nyuruh kamu menikah sama dia Nak. Ayah hanya cerita tentang sepenggal kisah persahabatan kami di masa lalu pada Cello. Itu cuma harapan, soal besarnya mau menikah atau tidak, itu semua ayah serahkan pada kalian berdua."


"Tapi anak itu udah bilang kalau mulai hari ini aku dan dia tunangan," sungut Malika dengan nada protes dan penuh penekanan.


"Tunangan?" Pak Farik mengusap pelipis Malika yang mengeluarkan keringat cukup banyak. "Jadi cincin- cincin yang banyak itu ceritanya cincin tunangan kalian?"


"IYA!" Nada membentak beraroma manja keluar dari bibir gadis kecil itu. "Pokonya Malika gak mau tunangan sama anak itu. Ayah harus bilang ke dia, kalau Malika gak mau sama anak kelas dua itu."


"Wah, kasian dong Ello-nya. Belum apa-apa udah ditolak sama anak ayah yang paling cantik ini." Sambil mencubit gemas pipi Malika dua kali. Lalu mengecup puncak kepalanya sampai agak basah.


"Ush ... ush ..." Pria paruh baya itu mendekap tubuh kecil Malika. Kali ini sambil mengusap-usap punggung anak itu agar lebih tenang.


"Yang namanya anak cowo memang wajib berusaha, jadi biarkan saja. Dan kamu gak boleh langsung nolak begitu. Nanti kuwalat loh! Dulu ibu juga seperti kamu. Ibu bilang gak mau nikah sama ayah karena ayah jelek dan bau semen. Tapi nyatanya kita nikah sampai lahir kalian berempat."


"Terus Malika harus gimana dong?" protes anak itu kebingungan.


"Malika 'kan sudah besar Nak. Dan umur Ello masih dua tahun di bawah kamu. Jadi kamu harus bisa jadi kakak kelas yang baik buat dia. Nasihatin Ello kalau kalian masih kecil. Tidak boleh memikirkan tunangan apalagi pernikahan. Bisa, 'kan?"


"Malika udah bilang begitu. Tapi Ello tetep gak mau ngerti dibilangin."


Pak Farik tertawa kembali melihat ekspresi anaknya yang terus-terusan kesal. "Pasti bilangnya sambil marah-marah, ya?"


"Ya habis dia nyebelin banget. Gimana Lika gak marah?" Malika menunduk sambil meremas rok sekolahnya.


"Besok kamu bilang lagi ke anak itu. Tapi jangan pake marah. Pasti anak itu bakalan ngerti."


Malika terdiam. Enggan menjawab ucapan ayahnya. Pak Farik pun berkata lagi,


"Ello dan adiknya adalah anak yatim piatu, Lika. Kalau bisa Malika harus bersikap baik pada mereka. Semenyebalkan apa pun jangan sampai menjahati anak yatim piatu."


Lagi-lagi gadis kecil itu hanya diam sambil terus mendengarkan.


"Apalagi orang tua mereka adalah cahaya yang Tuhan hadirkan untuk hidup kita. Tanpa jasa mereka, Malika mungkin tidak akan bisa hidup seenak ini. Bisa sekolah di kota, makan makanan enak, tinggal di rumah yang ada kolam renangnya, bahkan ayah punya pekerjaan bagus yang bisa menjamin hidup sekeluarga. Malika harus paham kalau kita sangat berhutang budi pada keluarga Cello," tutur pak Farik.


Ia tersenyum menatapi wajah polos anaknya. Sejak Reyno dan Jennie meninggal. Bengkel dan kolam ikan peninggalan Reyno memang menjadi tanggung jawab pak Farik. Rumah yang dulu ditempati Reyno sekeluarga juga diserahkan pada pak Farik oleh tuan Haris. Sangat diakui pria paruh baya itu mendapat banyak hikmah dibalik peristiwa meninggalkan Reyno dan Jennie. Namun tetap saja, hidup pak Farik terasa kurang sejak tidak ada sosok Reyno yang sudah dianggap sebagai sahabatnya.


Pak Farik meraih cangkir kopi di atas meja. Menyesapnya perlahan dan meletakkan gelasnya kembali ke tempat semula. "Malika ngerti, 'kan?"


"Iya. Besok Malika akan bersikap baik pada anak itu."


"Bagus! Selain keluarga kita berhutang banyak budi, dia juga anak yatim piatu yang wajib kita perlakukan dengan baik. Pokonya jangan galak-galak, takutnya nanti Malika jadi berubah suka sama Ello."


"Ikh! Ayah apaaan sih?"


***


Jangan lupa kasih hadiah poin.🤭