HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Sebelum Pamit Pulang



Beruntung ada Rico yang datang membantu membereskan kekacauan yang disebabkan oleh tiga manusia gila itu. Jadi, Lisa dan Shea bisa sedikit tenang walau ada rasa kesal yang masih berkecamuk di dalam benak mereka. Setelah menaruh Bryan dan Felix di tempat yang aman, Rico pergi membawa Farhan duluan ke apartemennya agar lebih aman dan tidak membuat si kembar bingung melihat keadaan ayahnya.


Sementara itu, Lisa akan membawa si kembar pulang dengan mobil yang kemarin Farhan bawa. Dua bocah itu tidak ada yang tahu Farhan mabuk karena terlalu asik bermain dengan baby El di ruangan bayi.


"Lis, maafkan sikapku yang tadi ya ... aku terlalu emosi, jadi tak sadar saat menyiram Bryan tadi. Suamimu ikut basah gara-gara aku." Shea menggenggam tangan Lisa. Merasa tidak enak dengan kelakuannya sendiri.


"Tidak masalah. Wajar kamu marah, mungkin kamu jarang melihat Bryan mabuk. Kalau aku tidak kaget lagi, karena sudah sering melihat suamiku minum dengan patner bisnisnya ... ya, walau baru pertama kali ini aku melihat dia sampai mabuk parah."


Mendengar kata mabuk parah membuat Shea murka kembali. Ia meremas tangannya dengan dada yang bergemuruh hebat. "Semua ini tidak akan terjadi kalau tidak ada Felix ... anak itu benar-benar menyebalkan," decak Shea jengkel.


Tiba-tiba, sebuah teriakan terdengar dari arah kamar bayi. Lisa dan Shea langsung berlari menuju kamar itu.


"Ada apa?" tanya Shea dengan mimik khawatir. Matanya langsung tertuju pada baby El yang ternyata masih aman di gendongan baby sitter.


"Ini Bu, si kembar ...." Baby sitter itu menatap Shea dan Lisa secara bergantian. Tidak enak mau menjelaskan duduk perkaranya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Lisa sedikit menghardik. Kamar bayi itu sangat acak-acakkan. Setara dengan taman belakang yang dipakai untuk pesta tiga sejojo tadi malam.


"Dia jahat, Bunda!" rengek Cello yang langsung mengadu pada Lisa. Cilla juga ikut merengek-rengek dengan air mata buaya khas anak kecil bermanja.


"Ngapain bawa ginian? Kalian mau apa?" Ditatapnya satu-persatu wajah polos itu. Cilla sedang memegang koper mainan milik El, sementara Cello membawa ransel besar yang tadinya berisi bola-bola mainan El.


"Cilla mau bauwa puyang dede ityuuh. Tapi tak bolee sama bibi sihil yang jahaat. Bunda ... ayo bawa si dedeknya pulang."


"Iya, nenek sihir itu jahat Bunda, padahal dedeknya mau main sama Ello dan Adek, tapi tidak boleh." Cello ikut menimpali.


"Ya ampun! Kalian ini. Memangnya dedek El boneka mau di bawa pulang? Cilla dan Ello kalau dibawa pulang orang asing mau tidak?" geram Lisa kesal.


Dua anak itu hanya menggeleng tanpa berani berbicara sepatah kata pun.


Shea yang melihatnya terkekeh geli, lalu mengambil baby El yang sedang digendong pengasuhnya. "Mereka lucu sekali Lisa, yang satu sudah lancar bicara ... tapi yang satu masih sedikit cedal, ya? Kenapa bisa begitu?" tanya Shea keheranan.


"Iya, yang perempuan memang belum lancar bicara, tapi dia sangat pandai menyerang orang dewasa."


Mendengar kata 'menyerang' rasanya Shea tidak bisa menyalahkan karena memang kadang anak-anak seperti itu. Tinggal peran orang tua yang mengarahkan mereka seperti apa.


Shea berjongkok agar bisa menjangkau wajah si kembar. "Adik bayi belum bisa ikut kalian, karena dia masih minum susu dari mommy-nya." Dengan lembut Shea menjelaskan pada dua anak kembar itu.


"Tapina Cilla mau main syaama dede ityuuh." Cilla menunjuk baby El dengan muka melas. Membuat Shea kasihan melihat ekspresi wajah anakan piranha yang sedang bersandiwara sedih itu.


"Boleh main, tapi di sini. Jadi kalian bisa ke rumah dedek El kalau libur sekolah." Shea menawarkan alternatif terbaik agar mereka mau mengerti. Namun, sepertinya usaha Shea sia-sia percuma. Cilla langsung menatap Shea dengan penuh rasa kesal.


"Tante jahat!" teriak Cilla ngambek-ngambek. Anak perempuan itu memang sangat sensitif.


"Cilla ngga boleh begitu sama tantenya," tangkas Lisa agak malu pada Shea.


"Bunda dan taante jahat. Jeyas-jeyas si dedek mau ikyuut Cilla. Tapina gak diboyehin syama tantena. Cilla gak syuka syama tante yang tukang boong."


"Iya ... bohong itu dosa loh," imbuh Cello dengan gaya menakut-nakuti seperti orang dewasa.


"Lisa ... bagaimana caranya membujuk mereka?" Shea langsung pasrah saat menghadapi anak kecil yang sudah mulai bisa menjawab itu. Ia belum terlalu berpengalaman menghadapi logika anak kecil yang seperti ini.


"Aku juga bingung, Se. Masalahnya mata mereka tidak dapat dibohongi. El juga ingin sekali bermain dengan mereka bukan?" balas Lisa kebingungan.


"Bagaimana ya?" Otak Shea terus berputar-putar mencari solusi. Bukannya mendapat apa yang ia cari, pikiran Shea malah membayangkan saat El besar nanti. Apa El akan sepeti anak kecil di hadapannya ini? Mengingat jika dirinya juga tidak mau kalah jika berdebat dengan Bryan.


"Aha!" Wajah Sea berubah sumringah seperti mendapat undian sepeda di dalam bungkus permen karet.


"Begini loh, Sayang-Sayang tante. Duduk dulu yuk, nanti tante ceritain." Shea mengambil posisi duduk. Di mana si kembar ikut duduk dan memperhatikan ibu muda beranak satu itu hendak bercerita. Lisa masih berdiri. Memperhatikan sehebat apa wanita itu dalam meluluhkan hati anak piranha yang belum bisa jinak.


"Sebenarnya dedek El mau main sama kalian. Tapi karena dia belum bisa jalan-jalan. Jadi harus digendong terus."


Cilla langsung menyergah. "Cilla bisyaa gendong kuk Tante ... di lumah Cilla uga banyak susyu dan mainan," bantah anak itu tidak mau kalah.


"Betul ... betul ... betul," imbuh Cello juga.


Shea tersenyum geli melihat kegigihan mereka berdua. "Tante juga tahu kalian bisa gendong, tapi tante sayang banget sama El. Tante bisa nangis kalau El dibawa pergi sama kalian," ucap Shea, ia sengaja memasang wajah sedih agar kedua bocah itu kasihan padahanya. Namun, akal mereka seolah tak pernah putus. Ada saja jawaban mereka yany membuat hati Shea tergelitik, geli.


"Kalau begitu Ello pinjam deh, nanti balikin lagi kalau dedeknya udah bosen main ama kita."


"Iya benel, pinjam juga tidak papaa. Nantie kitaa bayikin agie ke Tantenaah." Cilla mengangguk setuju. Berharap Shea mau meminjamkan bayi gembil kesayangannya.


"Tidak bisa Sayang. Tante tidak mungkin meminjamkan dedek El pada kalian berdua. Tapi kalau kalian serius mau dedek ... kalian bisa kok, bikin dedek sendiri."


Bola mata Lisa membola seketika. Wanita itu mendadak kesal mendengar ucapan Shea yang tidak biasa. Shea mengedipkan matanya. Memberikan kode perminta maaf dengan raut terpaksa. Terpaksa memberi tahu hal ini demi kepentingan bersama.


"Gimana calanaa buat dedek syepelti itu, Tanteh? Kita uga mau tahu calanaa ...." Mata Cilla tak berkedip sambil tangannya bertaut di depan muka. Menunggu jawaban Shea dengan tidak sabaran.


"Iyups, Ello mau buat tiga, untuk Ello dua, untuk adik satu," ucap Cello antusias. Wajah mereka berdua mendadak senang. Hanya Lisa yang mendengkus kesal mendengar edukasi Shea.


"Suruh ayah kalian mengajak bunda bulan madu. Kalau kalian tidak tahu, bulan madu itu semacam jalan-jalan berdua saja. Lalu membuat bayi bersama."


Maaf Lis, aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa untuk memberikan edukasi yang baik dan mudah dipahami oleh mereka, batin Shea yang merasa tidak enak.


"Jadi yang buat harus ayah Hanhan sama Bunda Lisa ya, Tante?" tanya Cello karena masih belum paham.


"Iya, harus orang dewasa yang sudah menikah. Baru bisa membuat dedek bayi. Tapi ingat, dedek bayinya tidak akan langsung jadi. Butuh proses panjang. Cello dan Cilla harus berdoa terus kepada Tuhan, agar ayah dan bunda berhasil membuat bayi yang lucu seperti El."


"Yeeeee .... Yeee ... yeee ... " Anak manusia setengah piranha itu berteriak senang. Mereka merasa paham mendapat edukasi yang diberikan Shea walau terkesan agak barbar.


Kedua bocah itu cukup pintar, maka dari itu Shea harus lebih pintar lagi memberikan arahan yang masuk akal dan mudah diterima oleh anak kecil.


Abaikan Lisa yang mulutnya cemburut seperti minta diikat dengan karet sayur. Sehabis ini, Shea yakin mereka berdua akan segera bulan madu atas rengekan dua anak piranha.


...***...