HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 65 : (Season 2)



Sambungan yang sebelumnya. Selamat membaca.


***


Bisa dibilang, pemikiran Cello memang sudah dipaksa dewasa sebelum waktunya. Di saat anak-anak lain masih memikirkan hal-hal kecil sebatas hobi dan kegemaran, Cello sudah dilatih memikirkan masa depannya sendiri oleh keadaan hidup.


Bagaimana nanti ia menjalani hidup bersama adik satu-satunya. Bagaimana ia membahagiakan orang-orang yang telah menyayanginya selama ini.


Pemikiran seperti ini wajar terjadi karena Cello adalah anak yatim piatu. Di mana ia sendiri merasa tak pantas untuk bergantung hidup pada siapa pun. Ia merasa harus belajar lebih demi masa depannya sendiri. Seperti layaknya tulang punggung yang nantinya harus bisa melindungi apa pun yang dikasihinya, begitulah jalan pikiran Cello saat membuka mata melihat dunia.


Selain mendapat kasih sayang Farhan dan Lisa selama ini, tuan haris juga berperan cukup tegas dalam perkembangan tumbuh kembang dua cucu kembarnya. Beliau tidak mau calon anak laki-laki penerus Reyno satu-satunya sampai berakhir menjadi anak yang manja atau tak layak memimpin perusahaan. Meskipun tidak menggunakan unsur paksaan, tapi pembicaraan kakeknya saat bersama Cello sering menjurus pada perusahaan yang nantinya akan menjadi tanggung jawab Cello di masa akan datang.


Dia sudah dituntut untuk kuat sejak kecil secara tidak sengaja.


Masih dalam keadaan termenung luar biasa, Cilla menatapi foto kedua orang tuanya yang sedang tersenyum seakan tengah menghibur dirinya.


Itu adalah foto terakhir Jennie dan Reyno saat berlibur ke Korea. Sekaligus momen di mana mereka meregang nyawa.


Ia memang hobi memandang foto kedua orang tuanya sebelum tidur. Apalagi di saat galau seperti ini.


"Aku kangen mamah sama papah. Kalo mereka masih ada, pasti kakak gak perlu repot-repot belajar ke Amerika. Ada papah yang bisa bantu ngurus perusahaan. Granpa ngga bakalan nyuruh-nyuruh kakak ke sana."


Cello yang sudah duduk di ranjang dan bersiap untuk tidur menoleh ke sebelah. "Jangan ngomong gitu! Nanti mereka ngga tenang kalo kita ngga bahagia di dunia."


"Emang gak bahagia, anak mana yang bahagia ditinggal pergi orang tuanya?" ketus Cilla si pandai bicara.


"Jangan ngomong gitu! Kasiah mamah dan papah!"


"Aku pergi bukan disuruh Granpa, emang akunya yang mau ke sana! Udah dibilang aku pengin jadi orang kuat, biar bisa ngelindungin kamu!"


Cilla terdiam beberapa saat. Omongan Cello berhasil membuat dirinya terenyuh. Namun, untuk pergi ke Amerika masih menjadi pertimbangan berat yang belum bisa diputuskan olehnya.


"Kalo ayah Hanhan gak setuju gimana? Apa kakak mau maksa ke sana juga, ayah 'kan kalo marah galak," kompor Cilla lagi.


"Kata Grandpa ayah Hanhan juga pernah menjalani hidup yang keras sejak kecil. Aku juga takut ayah gak setuju, tapi bunda Lisa pasti mau bantu! Aku tau kalo ayah takutnya sama bunda. Makannya tadi aku ngomong ke bunda dulu!"


"Bunda juga nggak mau kakak pergi, 'kan?" sanggahnya.


"Emang engga mau! Tapi aku harus tetep pergi!" Cello menjuntaikan kakinya ke lantai. Ia berjalan dan ikut menjatuhkan tubuhnya di samping sang adik yang sudah memasang wajah sedih kembali.


"Dengerin aku, sebagai adik yang baik, pokonya kamu harus dukung aku! Aku nggak mau hidup kamu sampe terlantar kalau udah besar nanti. Mamah dan papah akan kecewa kalo tau kakaknya lemah dan gak bisa jagain adeknya. Meskipun bunda Lisa dan ayah Hanhan selalu baik ke kita, tapi aku ngga mau kita ngerepotin mereka terus, kita harus mandiri, ngelindungin diri sendiri. Itu kata Grandpa!"


Lagi-lagi ucapan tuan Haris menjadi pemicu semangat Cello yang berkobar.


Cilla memajukan bibirnya, manyun. Hidupnya kali ini terasa berat. Ia benar-benar tidak bisa memutuskan sama sekali. Apa jadi hidupnya tanpa Farhan dan Lisa, apa jadi hidupnya tanpa teman-teman yang selama ini selalu mendukungnya. Ah, entahlah!


"Tapi aku lebih suka kalo kita tinggal sama ayah dan bunda. Mereka baik, dan gak ada yang lebih baik dari mereka."


"Ya udah, sekarang puas-puasin dulu sama ayah dan bunda. Kenaikan kelasnya masih lama, Adek pikirin dulu kata-kata aku sampe paham!" Cello lekas membawa tubuhnya ke tempat tidur miliknya kembali. "Lagian gak cuma kita yang di Amerika, semua cucu Granpa juga, nanti Gibran pasti disuruh sekolah ke Amerika sama orang tuanya, bareng sama kita juga! Mungkin setelah tamat SMP kalo gak SMA."


***


Segini dulu. Selanjutnya part horor 51+ 🤣. Jangan lupa komen dan hadiahnya, atuh. Mbak mbak Teteh!