HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 86 : Han Sayang (Season 2)



Banyak kegembiraan tak mudah berlalu begitu saja, tak terasa waktu lima tahun ke depan sudah mereka lalui dengan berbagai drama-drama kehidupan di mana keluarga Farhan dan Lisa kini sedang berada dalam titik kehangatan.


Maka, izinkanlah Farhan dan Lisa memperkenalkan buah hati terbaik mereka. Anak kandung pertama dan terakhir yang menjadi kebanggaan semua.


Namanya Hansa, sebuah huruf-huruf sederhana penggabungan dari nama Lisa dan Farhan.


Anak kecil berusia lima tahun itu biasa dipanggil Han sayang. Wajahnya sangat menggemaskan hingga membuat siapa saja tersenyum gembira saat melihatnya.


Meskipun terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus, dia adalah anak periang dengan sejuta keistimewaan yang menurut Farhan adalah suatu kebanggan.


"Ayah ... Ayah! Lihat Ayah!" Cello berteriak heboh di luar sana. Lisa yang mendengar itu langsung tergopoh-gopoh menuju halaman rumah. Semuanya memakai mantel bulu karena New York sebentar lagi akan memasuki musim dingin.


"Apa? Ada apa?" Dua bola mata Lisa langsung membeliak tak percaya begitu melihat pemandangan yang terjadi di depan mata.


"Ya Tuhan!" Dia berlari mengepangkan dua tangannya menyambut Han yang tengah berjalan selangkah demi selangkah. Lisa buru-buru membawa anak itu ke dalam dekapan sebelum lutut Han terjatuh mencium tanah.


"Sejak kapan dia begini?" tanya Lisa dengan degup jantung kencang menahan rasa bahagianya.


"Sejak ketemu akulah Bun. Aku bilang juga apa? Kalau Han di bawah ke sini pasti langsung bisa jalan. Terbukti 'kan?" Marcello tergelak.


Lisa mencibir seraya menatap bocah yang kini sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama itu. Tetapi jauh di lubuk hatinya, Lisa sangat bersyukur atas kehadiran si kembar yang menjadi pelengkap hidupnya selama ini.


Membuat ia jauh lebih tegar dalam menghadapi segala cobaan apa pun yang menimpa keluarga mereka.


"Ayah mana, Bun?" Cello bertanya saat Lisa tengah sibuk meneliti setiap inci tubuh Han.


"Jalan-jalan sama Cilla!" jawab Lisa tanpa menoleh. "Ini adekmu beneran sudah bisa jalan? Kamu apain, Ell?"


Lisa masih setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Karena Han terlahir istimewa sejak lahir, segala kembang tumbuhnya menjadi sebuah anugrah yang dinanti-nanti.


Anak yang mengalami keterbelakangan autis itu sudah menginjak usia lima tahun. Tetapi selama lima tahun Han hanya mampu berbicara sedikit sambil merangkak-rangkak karena belum mampu berjalan.


Awalnya Lisa dan Farhan tidak pernah menyadari hal itu. Saat usia Han menginjak dua tahun lebih, Lisa baru mulai bertanya-tanya kenapa Han beda dengan yang lain terumata soal tumbuh kembang.


Akhirnya Lisa dan Farhan membulatkan tekad membawa Han ke rumah sakit untuk berkonsultasi.


Mereka banyak melakukan konsultasi ini itu sambil menjelaskan beberapa kekurangan Han selama ini. Setelah memastikan gejala yang terjadi dokter menyatakan Han terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus atau biasa disebut autisme.


Lisa sudah bisa membayangkan bagaimana kehidpan Han ketika sudah dewasa nanti.


Pastinya anak itu akan dianggap berbeda layaknya monster yang patut dijauhi. Demi apa pun Lisa tidak kuat melihat nasib anaknya untuk ke depan. Farhan pun berpemikiran sama dengan Lisa, dia kasihan melihat anak terkasihnya harus mengalami pertumbuhan yang berbeda dengan yang lain.


Sepasang suami itu sangat terpuruk saat mengetahui anak satu-satunya mengida autisme.


Autisme adalah kelainan perkembangan saraf yang menyebabkan gangguan perilaku dan interaksi sosial. Gejala penyakit ini lebih sering terdeteksi pada masa kanak-kanak, tetapi juga dapat ditemukan ketika dewasa.


Gejala yang dapat dialami oleh penderita autisme antara lain: Gangguan komunikasi dan interaksi sosial, seperti lebih senang menyendiri, enggan berbicara dengan orang lain, dan sering mengulang kata yang sama. Gangguan perilaku, seperti melakukan gerakan yang sama secara berulang, misalnya selalu berjalan dengan berjinjit. Gangguan lain, seperti gangguan kognitif yang menghambat belajar, gangguan mood, atau reaksi emosional, dan kejang.


Meski pun autisme tidak dapat disembuhkan. Tetapi ada satu hal yang harus kita pahami.


Mereka bukan monster!


Mereka tidak gila!


Mereka sama dengan kita yang sedang memperjuangkan hak hidupnya di lingkungan masyarakat.


Jangan dijauhi! Mereka sangat membutuhkan penanganan khusus dari pihak terdekat agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik di kemudian hari.


Siapa lagi kalau bukan kita keluarganya yang mengasihi?


Maka di tengah-tengah keterpurukan Farhan dan Lisa, si kembar yang kala itu tidak terlalu paham dengan persoalan Han berusaha meraih tangan Han.


Mereka membuka ruang dan hati orang-orang di sekitarnya untuk lebih peduli dibandingkan menyalahkan takdir.


Apa pun yang terjadi dengan Han, keduanya tetap menyayangi Han sepenuhi hati hingga merubah pandangan Lisa dan Farhan seketika.


Mereka berdua sadar;


Han layak dipertahankan. Han juga layak diperjuangkan.


***


🥺🥺🥺