
Suara 'ah' terdengar jelas saat Farhan baru saja memasuki apartemen Lisa. Pria itu sengaja berjalan pelan menuju pintu kamar Lisa yang sedikit terbuka. Di mana semua lampu padam, suasana sepi, dan terlihat ada laptop menyala dengan suara-suara horor yang menusuki gendang telinga. Farhan menyerngit heran saat melihat Lisa sedang membuka situs berbahaya sambil ungkang-ungkang kaki. Sungguh, Lisa merukapan contoh buruk rusaknya generasi muda masa kini bagi seorang Farhan.
"Ehemm!" Farhan berdeham, lampu menyala cepat. Membuat Lisa spontan terlonjak dan berguling ke lantai.
"Auw!" Anak itu memekik sakit seraya memegangi pinggangnya yang terasa patah. Sial, tubuh kecil itu menghantam laci kecil yang ada di samping tempat tidurnya.
"Dasar bodoh, apa yang sedang kau lakukan?" Mata Farhan tertuju pada layar laptop yang menampilkan dua manusia tanpa busana. Buru-buru pria itu mematikan laptopnya. Lantas duduk di ranjang sambil memperhatikan Lisa yang masih meringis kesakitan di lantai. Tak berniat menolong sama sekali.
"Mengapa Anda tiba-tiba datang ke sini, Tuan? Mengagetkan saja," seru Lisa sambil memegangi pundaknya.
"Apa kau melarangku ke sini?" Farhan balik bertanya dengan nada emosi.
"Bukan begitu. Harusnya Anda menghubungiku dulu," ujar Lisa.
"Ah begitu, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Apa kau sedang main solo karena aku tidak ada? Isk," decak Farhan seraya menggelengkan kepala. Pura-pura merinding ngeri.
"Bukan begitu, Tuan," seru Lisa sambil menahan malu. Ia sungguh lupa dengan adegan aye-aye yang baru saja ia tonton di situs gelap itu. "Itu tidak seperti yang Anda bayangkan."
"Lalu aku harus membayangkan yang seperti apa? Hemm, pantas saja tadi siang kau menanyakan seperti itu, ternyata kau sendiri adalah biangnya ratu solo."
Farhan menyipitkan matanya. Melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap Lisa dengan pandangan tidak percaya.
"Ya ampun, Tuan. Kau memfitnahku." Bola mata Lisa berputar sebal.
"Vidoe itu telah menjawab semuanya, untuk apa aku memfitnahmu?" Farhan bersorak penuh kemenangan.
Andai kau tahu fitnahmu sama kejamnya dari rekor muri durasi tiga menit.
Ingin rasanya Lisa melempar pernyataan seperti itu pada Farhan, namun ia tahan demi kelangsungan hidup aman dan tentram di atas bentala.
"Aku hanya sedang memeriksa video," ujar Lisa kesal.
"Berikan alasan yang masuk akal, baru kuterima," Farhan memandang remeh Lisa. Netra hitam pekatnya menyipit seolah memandang sesuatu yang menjijikkan di depannya.
Menggeser posisi duduknya, Lisa mengambil laptop di samping Farhan. Anak itu duduk di lantai sambil mencari-cari sesuatu yang ia selidiki.
"Apa Anda masih ingat ini?" Menunjukkan layar laptopnya pada Farhan.
Seketika mata pria itu membola. Wajahnya marah padang dengan aura menghitam di sekeliling tubuhnya. "Bagaimana bisa?"
Tangan Farhan mengepal kencang. Video itu adalah video insiden sang adik saat difitnah berbuat mesum di toilet sekolah. Mereka dikeluarkan dan dinikahkan secara paksa demi menutupi aib keluarga.
"Di situs umum memang sudah tidak ada video mereka, tapi aku mengecek lima situs gelap dan mendapati video mereka masih diperedarkan. Bisakah Anda menghampus beberapa video Jennie dan Reyno? Aku sungguh geram melihat fitnah mereka."
Lisa menggemeretakkan giginya sambil meninju kasur.
"Menghapus video yang sudah terlanjur viral memang susah, mereka yang masih menyimpan video kopiannya dapat mengunggah ulang kapan saja." Farhan menutup layar laptopnya kembali. Terlalu sakit melihat kesalahpahaman itu. Sulit untuk diceritakan, mereka berdua adalah korban dari para oknum yang ingin menjatuhkan reputasi Revical Grup. Andai tidak ada oknum jahat itu, video Reyno dan Jennie tidak akan seviral itu sampai tersebar luaskan dengan durasi cepat. Angga itu adalah resiko buruk anak seorang pebisnis.
Saat itu, Revical grup nyaris bangkrut karena saham terus anjlok. Baru bisa naik perlahan saat Reyno dan Jennie menikah.
"Tolong bantu hapus ya, Tuan. Aku tidak ingin mereka memfitnah sahabatku yang sudah tenang di alam sana." Apa lagi caption di video itu sangat memalukan. 'Dua anak SMA bercinta di dalam toilet'. Sungguh Lisa mual sekali melihat judul gila macam itu.
"Aku akan suruh Rico mengurus besok, terima kasih atas infonya. Andai kau tidak hobi main solo, aku tidak akan tahu bahwa video itu masih beredar di situs tersembunyi."
Farhan bangkit dari duduknya. "Aku mau mandi, silahkan teruskan kegiatanmu. Tidak usah sungkan, aku mengizinkan."
"Aku sudah bilang, aku tidak melihat yang seperti itu."
"Lalu yang tadi apa?"
"Terlanjur kepencet, dan aku penasaran," jawab Lisa apa adanya. "Lagian, aku sedang menstruasi loh, Tuan."
Wanita itu masih berharap Farhan percaya bahwa ia tidak seburuk yang ada dipikiran Farhan.
"Terserahmu sajalah, lebih baik kau pergi ke meja makan. Aku membawakan makanan untukmu."
"Benarkah?"
Lisa sangat antusias. Apapun yang berhubungan dengan makanan selalu membuat gadis itu bahagia.
"Pergil dan lihatlah." Farhan berjalan ke arah kamar mandi. Berniat mendinginkan tubuhnya yang panas karena berdebat dengan Lisa.
Setengah jam berlalu, Farhan keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk. Pria itu berjalan ke meja makan untuk melihat Lisa sedang apa. Dan, alangkah marah ya Farhan saat melihat makanan yang ia bawa masih utuh. Lisa tak menyentuh dan sibuk bermain ponsel.
"Apa kau tidak bisa menghargai niat baikku sedikit pun?" bentak Farhan kesal.
"Aku tidak suka martabak telur, Tuan," lirih Lisa ketakutan.
"Kau tahu berapa lama aku membeli makanan itu? Semua aku lakukan demi kamu." Farhan semakin kesal.
Oh, sungguh Lisa ingin menangis saja. Ia sama sekali tidak suka martabak telur. Bagaimana ini?
"Dua jam waktuku hilang begitu saja hanya untuk membelikan oleh-oleh untukmu!" Farhan melengos kesal.
"Saya tidak minta, Tuan."
"Beraninya kau membalas kebaikanku dengan cara seperti itu?"
Astaga! Lisa sudah tidak tahu lagi harus bicara apa pada pria itu. Selalu saja marah saat kemauannya tidak dituruti.
"Baiklah, aku makan!" Akhirnya Lisa mengunyah martabak itu dengan susah payah.
"Lain kali jangan belikan aku martabak telur, aku kurang suka." Lisa masih terus mengunyah makanan itu.
"Hentikan!" Farhan menyambar martabak di tangan Lisa. "Tidak usah di makan."
"Eh, tidak apa-apa, aku masih kuat memakan ini." Lisa meraih kotak martabak yang sudah disingkirkan Farhan, namun pria itu menggebrak meja sampai Lisa terlonjak kaget.
"Aku bilang tidak usah ya, tidak usah!" bentak Farhan kesal.
"Ayo kita tidur saja. Aku ngantuk," ucap Pria itu seraya bangkit dari duduknya. "Martabak itu adalah rekomendasi dari bunda, bunda yang menyuruhku membelikannya untuk karena rasanya tidak enak."
Sudah di tebak, Farhan tidak akan sepeka itu memberikan oleh-oleh untuk Lisa. Pasti ada sesuatu yang mengganjal. Benar saja, kebaikan pria itu adalah perintah dari bunda.
Farhan menghela napas kasar sambil berjalan ke kamar. Ternyata niat baik tidak selalu mendapat respon baik. Perjuangannya mengantri martabak selama dua jam di balas dengan ekspresi wajah Lisa yang ingin muntah.
***
Makasih banyak buat yang mau kasih poin atau koin ya, yang gak mau ngasih juga aku ucapin makasih karena udah mau baca. Pokonya makasih buat dukungan kalian. Bikin haru😢