HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Permata Hati



Aktifitas hari ini sungguh melelahkan, mereka harus bolak-balik Jakarta Singapur dalam waktu satu hari. Lisa merengek agar kembali besok lagi saja, namun Farhan menolak karena besoknya harus menghadiri rapat bersama anggota direksi. Membicarakan masalah keterlambatan pembangunan di Singapur yang tidak sesuai dengan jadwal yang mereka tentukan. Alhasil, mereka pulang walau badan sudah letih parah. Sesampainya mereka di rumah, Lisa langsung ambruk dan terkapar, sementara Farhan pergi ke ruang kerja untuk menyelesaikan materi presentasinya besok.


Mata hari sudah pamit undur diri, artinya tiba waktunya istirahat untuk para manusia pejuang rupiah yang aktif di siang hari. Lisa sudah berguling di atas kasur, menonton drama kesukaannya sebelum tidur, ternyata sudah sampai episode delapan. Hikmat, ia menyimak adegan demi adegan di layar ponselnya. Tak lupa menggunakan headset agar suaranya tidak di dengar oleh Farhan yang sedang bekerja di ruang samping.


Wanita itu terus gulang-guling tidak jelas, senyum-senyum gila, sambil hatinya berharap ada adegan ciuman romantis yang paling dinantinya.


Ceklek ....


Suara pintu terbuka, buru-buru Lisa mematikan ponsel dan menaruhnya di bawah bantal agar Farhan tidak curiga. Hatinya berat, sungguh berat sampai dadanya sesak menahan rasa penasaran tinggi.


Kenapa kamu selalu muncul di saat akan ada adegan ciuman drama kesukaanku, sih? Apa ini yang dinamakan kutukan dari seorang suami?


Farhan belum pernah marah masalah hobi Lisa nonton drama, hanya saja Lisa tidak suka kalau ada yang memergoki di saat daya halunya sedang tinggi-tingginya.


"Belum tidur?" Farhan melirik jam yang jarum panjangnya sudah menuju ke angka sebelas. Nyaris larut malam.


"Belum dong, aku 'kan nungguin suami aku,"bohong Lisa dengan gigi terpamer ala kuda nyengir. "Ayok tidur, Sayang." Mengedipkan mata nakal, lalu menepuk ranjang di sebelahnya.


Farhan mendekat, ikut naik ke atas ranjang, namun masih duduk bersandar.


"Oh ya, kamu sudah tanya keadaan Rico belum?" tanya Lisa penasaran. Sejak pergi tadi siang, aku belum mendengar kabarnya lagi." Obrolan wajib sebelum tidur, yaitu berbicara kepo di mana Lisa menjadi pemandu utamanya. Farhan jadi penjawab seperti biasa, yang tentunya si batu bernapas itu hanya menjawab yang menurutnya penting. Jika tidak penting, ia akan besemedi atau pura-pura tuli.


"Aku tidak tahu. Berdoalah agar dia baik-baik saja, karena aku akan menumbalkanmu jika Rico sampai kenapa-kenapa." Pria itu berbicara tanpa ada unsur bercanda, terdengar ngeri dan membuat bulu kuduk merinding seketika.


"Jahat sekali, aku istrimu apa bukan, sih?"


"Meskipun statunya istriku, tetap tidak dapat menutupi kesalahanmu juga. Rico yang meminta langsung padaku agar kamu merawatnya jika cideranya sampai parah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Mengedikan bahu, Farhan berada di tengah, tidak mau membela siapapun karena dua-duanya adalah sosok berharga baginya.


"Menyebalkan, bagaimana kalau nanti Rico jadi jatuh cinta padaku? Banyak loh, kariyawan yang membangun skandal percintaan dengan istri bossnya?" Alis Lisa dinaikan satu, berharap Farhan cemburu mendengar pancingan mautnya.


"Rico tidak seperti itu. Aku tahu persis seperti apa dia," sanggah Farhan percaya seratus persen. Bahkan ekspresinya setenang air kolam yang tak ada ikannya.


Lisa membantah omongan Farhan. Alisnya menukik tajam pertanda kesal. "Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja.Tidak menutup kemungkinan, Rico juga bisa cinta padaku suatu hari nanti."


Cih! Aku rasa kalian memiliki perasaan satu sama lain. Mata Lisa berputar sebal, kesal sendiri kalau sudah membahas kesetiaan Rico pada suaminya.


"Memangnya kamu tahu? Arti penting dirimu di hati Rico, Sayang. Paling juga dia baik karena honor besar yang kamu kasih tiap bulannya."


Farhan menarik lengan Lisa hingga wajah anak itu membentur dadanya. "Kenapa kamu bawel sekali, sih?"


Wajah itu sudah tenggelam di dada Farhan. Membuat si pemilik wajah merona malu karena perlakuan suaminya.


"Habisnya tingkamu seperti pacar wanitanya Rico saja." Lisa mendongak, masih belum mau berhenti membahas nama Rico yang mungkin sudah tidur nyenyak di kasurnya.


"Rico bilang aku lebih spesial dari sekedar pacar." Dia langsur pamer dengan bangganya. Hingga dada kekar itu membusung sombong di hadapan Lisa.


Hahaha. Lisa tertawa dalam hati. Apakah aku harus memasukan Rico ke dalam daftar pelakor? Aku jadi cemas sendiri, takut dua manusia itu memiliki kelainan.


"Kenapa kamu bisa sebangga itu, Suamiku? Aku yakin, suatu hari nanti Rico pasti akan meninggalkanmu." Gumam-gumam lirih Lisa terdengar sampai ke telinga Farhan. Pria itu langsung murka mendengarnya.


"Itu tidak mungkin terjadi, Rico bilang aku adalah permata hatinya." Kilatan-kilatan tidak senang saling menyambar di mata Farhan. Membuat Lisa merinding sendiri melihatnya.


"Sini kau!" Tubuh kecil itu diangkat sebelum sempat kabur. Pita piyama ditarik hingga lepas. Terpampanglah punggung cantik nan mulus yang langsung menggetarkan gagang gayung di bawah sana. On fire.


"Ya, Farhan! Kau mau apa?" Lisa meronta-ronta dalam pangkuan suaminya. Mencoba melepaskan tangan Farhan yang mencengkeram kedua punggungnya.


"Malam ini aku lelah, tolong jangan makan aku dulu. Besok malam saja, biar bisa lima ronde sekaligus." Lisa memelas, sambil tangannya terus meronta-ronta minta ampunan. Gaya semut menyembah gajah ia lakukan.


"Ampunilah hamba, Tuan Farhan yang budiman." Gaya berganti, Lisa menaikan kedua tangannya seperti belalang sembah.


***


Masih pagi gengs, tahan dulu ya .... Nanti lanjut lagi kalau ranknya udah naik ke 20 🤣🤣. Wkwkw. Sekarang kalian main-main dulu kemana gitchu.