HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 68 : (Season 2)



Sesuai janjinya tadi malam. Pagi ini Farhan benar-benar mendatangi kantor cabang di mana tuan Haris masih sesekali datang untuk membantu di sana. Meskipun sudah dilarang keras oleh William, pria tua itu masih saja memaksakan diri untuk bekerja. Semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Reyno, sekarang diambil alih oleh sekretarisnya, dan kadang sesekali dibantu oleh tuan Haris sendiri. Sementara kantor pusat, sekarang dikelola oleh William sebagai anak pertama.


Farhan melangkah dengan wajah bersemu datar. Semua karyawan yang melihat kedatangan pria itu tertunduk memberi salam. Hampir tidak ada satu pun karyawan yang tak mengenal nama Farhan di gedung itu. Sosok yang berperan penting dalam perkembangan pesat Revical Grup beberapa tahun ini.


"Selamat siang, Tuan Farhan!" Pria itu langsung disambut baik oleh sekretaris wanita tuan Haris yang sudah menjemputnya di lobi ruangan lantai 9. Tempat di mana tuan Haris biasa menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja.


"Siang, papi ada akan?" tanya pria itu.


"Tuan Haris sedang di dalam, mari saya antar, Tuan." Sekretaris itu menunduk sopan dengan tangan mempersilakan.


Farhan melangkah di antara beberapa karyawan yang tengah sibuk berjibaku mengerjakan tugasnya di meja masing-masing.


Pintu ruang kerja Tuan Haris diketuk pelan. Farhan menunggu di luar selagi sekretaris wanita itu masuk untuk meminta izin. Tak lama kemudian dia keluar dan mempersilakan Farhan masuk ke dalam. Pria itu sempat menarik napas banyak-banyak sebelum mendorong kenop pintu.


Tuan Haris langsung mendongak begitu Farhan datang.


"Ada apa Han? Tumben sekali anak yang satu ini datang ke kantor papi tanpa membuat janji," ujar pria paruh baya itu dari tempat duduknya.


Farhan membawa langkah kakinya untuk duduk di depan tuan Haris. Pria tua yang selalu memaksa Farhan untuk memanggilnya papi itu menaruh pulpen dan menatap Farhan yang baru mulai terduduk.


"Papi apa kabar? Jangan sering-sering masuk ke kantor. Menjaga kesehatan Anda adalah hal yang utama! Urusan pekerjaan biarlah menjadi tugas orang yang sudah menjadi kepercayaan," omel Farhan saat itu juga.


Tuan Haris tersenyum ramah. "Papi bosan di rumah terus, Han! Toh hanya pekerjaan ringan yang diambil untuk menghilangkan suntuk. Tapi kamu tenang saja, sebentar lagi papi akan istirahat total dari pekerjaan ini."


"Maksudnya bagaimana?" tanya Farhan bingung.


Tuan haris malah terkekeh. "Tidak usah sok bingung. Papi yakin kedatanganmu ke sini untuk membicarakan masalah Cello, bukan? Sebentara lagi papi dan mami akan tinggal di Amerika untuk menemani Cello belajar."


Mendengar itu Farhan memasang wajah  terperangah. Tentu saja ia langsung tidak setuju dengan usulan tuan Haris demi istrinya Lisa yang terus merengek-rengek sejak semalam.


"Biasanya setelah lulus SMA. Kasihan sekali kalau masih SD sudah harus pergi. Farhan cuma khawatir mereka akan sakit-sakitan jika tinggal terpisah. Cilla pasti juga tidak mau berpisah dengan kakaknya," tutur Farhan dengan tatapan memohon penuh agar tuan Haris menghentikan niatnya.


"Cello bilang akan mengatasi itu. Mungkin dia akan mengajak adiknya juga." Tuan Haris semakin terkekeh bangga sekali. "Anak yang satu itu memang beda Han, jauh sekali dengan William dan Reyno. Saat aku bilang ingin menyekolahkannya ke Amerika setelah lulus SMA, dia langsung antusias ingin sekolah ke sana sekarang juga. Apa boleh buat, kita yang tua harus mendukung penuh."


Tampak harapan penuh tertoreh di pelupuk mata tuan Haris saat bicara.


Farhan semakin mendesahkan napasnya, bimbang. Ia sudah berjanji pada Lisa untuk meminta tuan Haris membatalkan rencananya, tapai kalau kemauan kekeh itu berasal dari Cello sendiri, Farhan pun tak bisa berbuat apa-apa.


"Farhan kurang setuju sebenarnya," ucap pria itu dengan bahasa yang dibuat selembut mungkin.


"Malika," jawab Farhan cepat.


"Iya anak itulah, papi lupa namanya! Dia lucu sekali kalau sudah cerita tentang Malika. Mami Dina langsung panik dan memanggil psikolog anak saat itu juga."


"Psikolognya bilang apa?" tanya Farhan penasaran.


"Psikolog bilang ada kemungkinan ini faktor menjadi anak yatim piatu di usia dini. Cello sangat menyukai sesuatu yang berbau dewasa. Ingin cepat dewasa, mengikuti gaya orang dewasa, termasuk menyukai gadis yang  lebih dewasa darinya karena menganggap hal itu lebih menantang."


"Apa itu termasuk berbahaya?" tanya Farhan lagi. "Jujur Farhan belum pernah kepikiran konsultasi dengan psikolog anak."


"Tidak berbahaya, katanya hal itu wajar terjadi mengingat Cello atau pun Cilla merindukan sosok orang dewasa, alias orang tua kandungnya. Maka dari itu dia ingin cepat dewasa sebagai bentuk perlindungan dirinya."


"Ah, begitu!"


Farhan tertunduk. Ia tahu bahwa sekeras apa pun ia mencoba menjadi orang tua yang baik, tetap tidak akan mampu menggantikan peranan orang tua kandung. Apalagi sosok Reyno dan Jennie yang nyaris sempurna di mata semuanya.


"Jangan berkecil hati ya, Han! Kamu sudah berusaha yang terbaik selama ini. Menjadi ayah tunggal di saat masih perjaka tidaklah mudah. Kami semua bangga padamu." Tuan Haris menepuk lengan Farhan, lembut. Membuat pria yang wajahnya murung itu sedikit menarik garis bibirnya.


Dia tersenyum.


Sekarang masalah tuan Haris sudah selesai. Yang ia bisa lakukan terakhir kali hanyalah membujuk Cello agar menghentikan rencanya. Maka ia bisa hidup tentram mendekap dua bocah kesayangannya itu.


Setelah makan siang bersama di kantor tuan Haris, Farhan pun bergegas ke kantornya sendiri untuk mengambil beberapa berkas pekerjaan. Sengaja ia lakukan agar Alex sekretarisnya tidak perlu repot-repot mampir ke rumahnya sepulang kerja.


Drtrrt ... Drrttt ...


Ponsel di kantung Farhan bergetar. Sebuah pesan yang tertera di layar ponselnya membuat pria itu membola murka.


[Kabari aku kalau kamu sudah menjadi janda Lis, aku masih setia menunggumu di sini.]


***


Jangan lupakan komen dan likenya dong pemirsa ...


Nanti aku up lagi. Udah mau tamat, nanti kalian gak akan nyangka tamatnya akan seprti itu. Heppy ending kok. Tapi ada kejutannya. 🥰