HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Sifat Aneh



Bagaimana aku bisa tenang melepasmu, jika keadaanmu saja seperti ini, Tuan. Kupikir menikah akan membawa perubahan, ternyata kau masih sama saja seperti dulu.


Rico menghela berat, ingatannya kembali pada masa pertemuan pertamanya dengan Farhan. Si bocah kecil berumur delapan belas tahun yang ia bimbing beberapa tahun silam. Dari awal Rico bertemu dengan Farhan, pria itu memang sudah terlihat arogan dari sananya. Farhan lebih banyak diam, ambisius, dan yang paling menyakitkan adalah kebaikannya yang terkadang sering membawa kesalahpahaman.


Pernah saat itu Rico berusaha memenangkan sebuah tender mati-matian, namun Farhan membatalkan kontraknya secara sepihak setelah tender itu berhasil Rico dapatkan. Seolah ia sedang menjatuhkan harapan dan usaha Rico yang begitu antusias mendapatkan tender tersebut.


Sama seperti Lisa, saat itu Rico juga marah dan kecewa, nyaris bepaling dan pergi dari pihak Farhan. Sementara Farhan sendiri tidak mau menjelaskan apapun atas kesalahpahaman yang terjadi. Membuat Rico larut dalam rasa sakit hati karena usanya dipatahkan begitu saja.


Sampai suatu hari Rico mendapatkan fakta mengejutkan, bahwa perusahaan yang tendernya pernah ia menangkan ternyata bermasalah. Di mana klien baru yang mendapatkan tender itu dirugikan atas kasus pemalsuan bahan produksi.


Detik itu juga, Rico menjatuhkan lututnya lemas. Hatinya sesak dan kecewa pada diri sendiri. Andaikan Farhan tidak membatalkan kontrak, mungkin Rico akan mendekam dipenjara karena terjerat kasus merugikan dana perusahaan. Padahal ia sudah berburuk sangka pada Farhan dengan berbagai ungkapan, di mana Farhan tidak menjelaskan ataupun membela diri ketika membatalkan kontrak bermasalah itu.


Saat ditanya kenapa Farhan tidak menjelaskan, pria itu hanya menjawab,


'Kau harus lebih peka terhadap lingkungan. Jangan selalu menggunakan hati sebagai pacuan jika hidupmu tidak ingin dipermainkan oleh orang lain.'


Kalimat itu terus melekat di telinga Rico sampai detik ini. Dari segi itu, Rico mulai belajar untuk memahami kejanggalan lingkungkan sekitar. Lebih teliti dari sebelumnya.


Rico juga mulai paham karakter baru Farhan yang sedikit aneh. Pria itu selalu berbuat baik dari jalur belakang, di mana kebaikannya kerap kali mengundang kesalahpahaman bagi orang awam.


Lebih tepatnya, logika Rico harus beroperasi keras untuk dapat memahami tindak-tanduk seorang Farhan. Dunia ini terlalu naif, kita tidak bisa hidup jika hanya menggunakan hati dalam melawan aneka ragam kekejaman manusia.


***


Rico membuka pintu apartemen Lisa hati-hati. Untung pasword rumahnya masih belum diganti. Jadi bisa masuk untuk melihat apakah anak itu ada di apartemen.


Mengedarkan pandanganya, ternyata benar yang Rico duga. Wanita itu ngambek dan pulang ke apartemennya sejak tadi siang. Sementara Farhan tak ada niat mengejar ataupun mengklarifikasi kesalahpahaman. Pria itu memilih diam, membiarkan Lisa marah dan berpikiran negatif kepadanya.


"Lisa ... Lisa ...." Rico berjongkok sambil menepuk bahu anak itu. Ia sedang tidur di sofa dalam keadaan teve menyala.


"Pa-Pak, Rico!" Lisa mengerjap, segera tersentak dari tidurnya yang nyaris seperti beruang hibernasi. "Bapak ngapain ke sini?"


Alir Rico naik sebelah. "Nyariin kamu, lah."


Pria itu bangun dari posisi jongkoknya, lalu duduk di sofa single yang tak jauh dari tempat Lisa tiduran.


"Pak Rico ke sini disuruh siapa? Pasti si Alan bin sialan yang nyuruh ya? Bilang saja, aku gak mau pulang. Aku masih males ketemu sama dia," sungut Lisa sebelum Rico menjelaskan apapun.


Rico menyilangkan kakinya, sedikit terkekeh geli. "Jangan kepedan, tuan Farhan tidak akan mau mencarimu," tangkas Rico.


Lisa merengut, merasa malu sendiri dengan ucapannya barusan. Dengan arogan dan sombongnya ia berkata,


"Tentu saja dia tidak mau, orang sok berkuasa dan semena-mena seperti dia tidak akan mau merendahkan harga dirinya hanya untuk menjemput istri tidak penting sepertiku."


Tertawa miris dalam hati, Lisa melengos kesal. Agak sakit mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya, tapi semua itu benar.


"Justru itu yang ingin aku bicarakan denganmu, Nona Lisa yang cantik. Ada hal yang harus aku beritahu padamu."


"Tentang apa?" ketusnya malas. Lisa mengambil ikat rambut di pergelangan tangan, lalu mengikat surai panjang itu asal-asalan.


"Tentang suamimu lah!" Rico balas menatap Lisa jutek. Ia juga bisa jutek meskipun gendernya seorang pria.


"Baiklah."


Rico membenarkan posisi duduknya agak tegap agar lebih nyaman untuk bercerita.


"Aku hanya ingin memberitahu, bahwa tuan Farhan sama sekali tidak bermaksud lancang mengakuisisi perusahaan pamanmu. Dua tahun yang lalu, perusahaan itu nyaris bangkrut dan terancam gulung tikar. Tuan Farhan terpaksa membeli perusahaan yang sudah tidak ada harganya itu agar kamu tidak sakit hati. Jika perusahaan itu lenyap, aku yakin kamu lebih sakit hati dari sekarang." Wajah Rico nampak serius. Ia menatap Lisa yang tangannya sudah bergetar tidak percaya.


"Ja-jangan bohong. Katakan ini hanya lelucon," risik Lisa tidak percaya. Darahnya berdesir panas saking terkejutnya.


"Aku serius. Apa wajahku terlihat berbohong, Lisa?"


Lisa menatap Rico tanpa kata. Menandakan bahwa ia percaya pada ucapan Rico. "Aku bingung."


"Jika aku tidak tahu yang sebenarnya, untuk apa aku capek-capek mampir ke sini setelah pulang kerja."


Obrolan kembali berlanjut.


"Perusahaan pamanmu itu sudah setara dengan sampah. Tuan Farhan mati-matian membangun semuanya dari enol kembali. Beliau menghabiskan uang pribadinya bermilyar-milyar hanya untuk menstabilkan perusahaan itu," ujar Rico dengan helaan napas berat.


Lisa menganga lebar. Untungnya tidak ada nyamuk nakal yang masuk ke dalam mulut.


"Tapi kenapa dia tidak membicarakan semua itu? Malah membuatku salahpaham seperti ini," protes Lisa kesal.


Rico menghela berat. Kalau untuk yang satu itu sangat sulit untuk dijabarkan menggunakan lisan. Rico juga tidak tahu.


"Begitulah tuan Farhan. Satu pesanku untukmu, jangan selalu marah setiap kali tuan Farhan melakukan sesuatu yang mengganjal di otakmu. Selidiki dulu dengan lebih rinci."


Lisa menggeleng keheranan. "Aku gak habis pikir," ucap Lisa. "Apa dia tidak ingin terlihat baik di mata orang? Apa jangan-jangan dia mengida penyakit obsesi ingin dibenci seperti ini?"


"Masalah itu tanyakan saja dengan suamimu. Aku hanya memberi tahumu apa yang sebenarnya terjadi. Karena aku tahu isi otakmu tak akan mampu menjamah kemisteriusan tuan Farhan. Jika suatu saat hal ini terjadi lagi, coba gunakan IQ dan logikamu," ucap Rico membersamai berdirinya.


"Kalau begitu ayo kuantar pulang. Minta maaflah pada tuan Farhan, kalau bisa berterima kasih juga."


Lisa mengangguk setuju meski pikirannya kalut tidak karuan.


"Aku masih shock Pak Rico, ini di luar nalar otak manusia."


"Lama-lama kamu akan terbiasa, dulu aku juga sama sepertimu, pernah salah paham dengan tuan Farhan. Sama sepertimu, aku juga membenci dia sampai terkuaknya Fakta kebaikan tuan Farhan. Dia hanya bilang padaku, agar lebih peka dan meningkatkan logika."


Membedakan yang benar dan salah butuh logika. Karena hati sering kalinya berpihak pada yang salah. Begitulah simbol dan maksud dari sikap Farhan.


"Tapi kalau baik diumpetin itu aneh loh, Pak!" Protes Lisa masih kesal. "Mas Farhanku memang harus sekali-kali diajak bikin konten tik-tok biar hidupnya gak aneh-aneh banget," kelakar Lisa jenaka.


"Sejauh ini hanya Katy yang bisa mengerti maksud-maksud dari segala tindak tanduk tuan Farhan. Sudah kubilang, butuh IQ tinggi untuk menjamah maksud dari apapun yang beliau lakukan. Ingat saranku, hadapi suamimu dengan kepala dingin jika kamu tidak ingin hubunganmu renggang. Ayo kita pulang," ajak Rico sambil berdeham serak. Tenggorokannya agak kering karena tidak diberi minum sedari tadi.


***


Jadi begitulah watak aneh Farhan. Apa kalian pernah liat kayak gini di kehidupan nyata?