HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Tutorial Dari Bryan



"Bolehkan saya bernyata sesuatu?"


Lisa menatap Farhan malu-malu. Sebenarnya ia tidak enak menanyakan hal itu, namun rasa penasaran wanita itu terlalu besar. Lisa tidak kuat jika tidak menanyakan itu pada suaminya.


"Mau tanya apa?" Farhan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos bagian atas Lisa yang tersingkap. Ia takut jika tidak bisa mengontrol diri dan menerkam tubuh ringkih itu secara membabi buta. Secara Lisa bagaikan medan magnet, yang membuat burung onta Farhan selalu ingin main tembak-tembakan setiap waktu.


"Semalam, kenapa Anda bisa seperkasa itu?"


"Uhuk!" Farhan terbatuk seraya mengerjap gugup. Membuat Lisa salah tingkah satu tali uang dengan pria itu.


Ya Tuhan, aku malu. Lisa langsung membenamkan wajahnya di antara dada bidang Farhan. Merasakan detak jantung pria itu di balik kaos putih polos yang Farhan kenakan.


"I-itu karena ...." Farhan menggantung pembicaraannya. Demi apapun, baru kali ini Lisa melihat pria itu bingung harus menjawab apa.


"Aku hanya penasaran. Bukankah suami istri harus saling jujur?" tanya Lisa hati-hati. Agar pria itu tidak berkecil hati.


"Aku jawab, tapi sebelum itu ... kau harus mengganti panggilanmu. Aku tidak nyaman dengan panggilan: Tuan," ucap Farhan.


"Begitu ya, padahal aku suka panggilan itu. Sudah terbiasa."


"Kau boleh memanggilku seperti itu jika di luar rumah." Farhan berkata lagi. Lisa mengangguk paham seraya berkata,


"Baiklah ... aku juga ingin di panggil aku-kamu. Aku kurang suka Anda memanggilku dengan sebuat 'kau'. Terlalu galak untuk didengar," ujar Lisa.


"Baiklah. Aku kamu!" Farhan mengulangi keinginan Lisa. Pertanda ia juga setuju.


"Terus kamu mau panggil aku apa?" tanya Lisa penasaran.


Seketika Farhan bingung. Ia juga belum tahu ingin memanggil Lisa dengan sebutan apa. Tidak ada bayangan-bayakan nama yang nyaman untuk bibirnya.


"Aku panggil Lisa saja. Sesuai namamu." Akhirnya Farhan memutuskan memanggil nama, sangat jauh dari kata romantis. Meskipun tercengang, Lisa harus tahu diri bahwa Farhan adalah jelmaan si batu bernapas. Wajar jika tidak ada manis-manisnya sama sekali. Lisa harus lebih bersabar sambil perlahan merubahnya menjadi BU-CIN akut.


"Tapi aku tidak bisa memanggilmu Farhan. Tidak sopan karena umur kita sangat jauh berbeda," ucap Lisa, di mana Farhan merasa seperti terkena sundulan mutlak yang menusuk hingga ke ulu hati.


"Ya sudah, asal jangan memanggilku tuan," ujar Farhan kesal. Jujur saja, saat Lisa mencapai pelepasan dan meneriaki nama 'tuan Farhan' berkali-kali, rasanya sangat tidak enak untuk di dengar oleh telinga Farhan. Mereke suami istri, bukan tuan rumah dan pembantu yang sedang melakukan hubungan gelap.


"Bagaimana jika aku panggil ayah? Itu sangat romantis, seperti kebanyakan suami istri lainnya."


"Jangan!" tolak Farhan cepat.


"Kenapa?"


"Tidak apa, aku hanya kurang suka. Ganti yang lain saja," kilah Farhan.


Ingatannya kembali pada kejadian di mall kemarin siang. Cukup sekali itu saja, Farhan tidak mau dianggap ayah kandung Lisa oleh ibu-ibu ribet yang ia jumpa di lain waktu nanti. Apalagi wajah Lisa masih imut dan terlihat seperti anak ABG, pasti akan ada banyak orang yang percaya bahwa mereka ayah dan anak.


"Bagaimana jika kupanggil kamu Mas Al? Sesuai dengan nama kecilmu, Alan."


Farhan terdiam kaku tanpa ekspresi. Membuat Lisa sedikit takut pria itu kenapa lagi.


"Maksudnya panggil mas Al kalau sedang berdua saja. Kalau di depan bunda aku panggil Mas Farhan yang budiman," kelakar Lisa jenaka.


"Aku tidak pernah dipanggil dengan sebutan nama asli, tapi jika kamu menyukainya silahkan saja."


Lisa mengulas senyum simpul. Ada rona kebahagiaan di wajahnya. Ia menganggap ini adalah garis start BU-CIN yang sebentar lagi akan di mulai.


"Deal ya, Mas Al," goda Lisa sambil menyengir kuda. Memamerkan gigi kelincinya dan terlihat imut sekali.


Wanita itu memeluk Farhan gemas. Menggigit-gigit kecil punggung Farhan sampai pria itu menggeliat geli.


"Tapi aku suka melihatmu kegelian."


"Dasar bocah nakal!" Farhan menjauhkan kepala Lisa dari punggungnya. Ia belum terbiasa bercengkrama di atas ranjang. Agak aneh untuk orang yang tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti Farhan.


"Eh, tunggu dulu. Kamu sudah janji mau memberitahuku soal semalam 'kan? Sekarang kasih tahu aku apa rahasia yang kamu dapatkan. Karena aku tahu Mas Al tidak mungkin sepandai itu."


Farhan mendesah pasrah sebelum menjawab. Ia memalingkan wajahnya, malu.


"Aku bertanya pada Bryan bagaimana caranya memuaskan wanita."


Ya?


Sejenak Lisa terpaku malu. Pipinya bersemu merah mendengar perkataan Farhan. Ia menyesal telah menjadi orang kepo.


"Bryan mengirimkan semua koleksinya kepadaku. Dan aku mempelajarinya kemarin."


Sebenarnya itu hanyalah keisengan Farhan untuk jaga-jaga jika Lisa mengajaknya melakukan persenggamaan. Melihat aneka baju tidur seksi yang Lisa beli siang kemarin membuat pria itu berpikiran ngeres dan bertanya tentang tutorial sex pada sahabat karibnya—Bryan. Karena hanya Bryanlah satu-satunya kandidat yang cocok, mengingat pria itu pernah menjadi rajanya wanita di masa muda.


Terbukti, 200 video dengan aneka ragam gaya dan durasi terkirim ke e-mail Farhan. Ada banyak hal-hal yang menjijikan di dalam video tersebut yang membuat Farhan tidak yakin apakah Bryan benar-benar menonton semua koleksinya. Bahkan, percintaan dengan robot dan hewan pun tak luput melengkapi koleksi video jahat Bryan. Entah anak itu mendapat koleksi video dari mana, Farhan hanya membuka sepuluh video yang keseluruhan tutorial dan penjelasan rinci mengenai persenggamaan. Termasuk bagian-bagian sensitif di seluruh tubuh wanita yang tidak pernah ia dapatkan di pelajaran sekolah.


Dari situ, Farhan mendapatkan berbagai trik memuaskan wanita tanpa harus memikirkan berapa banyak durasi yang ia mampu pertahankan.


Terlepas dari itu, Farhan tidak peduli dengan Bryan yang mengejeknya di luar sana. Mungkin saja dia langsung menggelar acara gibah dadakan dengan Felix. Farhan tidak peduli hancur harga dirinya di depan teman, asal harga dirinya terselamatkan di mata sang istri.


Tersenyum geli, Lisa menahan tawanya agar tidak mengejek Farhan. Namun pada akhirnya wanita itu mengejek juga.


"Oh, akhirnya matamu sudah tidak suci lagi, Tuan! Bisakah kau mengirim filenya kepadaku?" harap Lisa senang.


"Sembarangan!"


Farhan menjentik dahi Lisa keras-keras sampai wanita itu mengaduh dan mengusap dahinya beberapa kali. "Jangan aneh-aneh!"


"Aku juga ingin belajar memuaskan suami," aku Lisa blak-blakan.


"Tidak perlu, aku sudah puas!" tukas Farhan jutek. Membuat bibir Lisa maju lima sentimeter karena sikapnya.


Memang benar yang dikatakan Farhan. Ia sudah cukup puas sekalipun Lisa tak melakukan apa-apa. Terbukti burung ontanya muntah diare sebelum diajak naik komidi putar. Sudah sangat jelas, bahwa Lisa bagaikan candu yang memabukkan dedek gemes milik Farhan.


"Hari ini kita mau ngapain?" tanya Lisa mengalihkan perhatian. Cukup sudah membahas masalah ranjang. Takutnya ada kegiatan berkepanjangan yang membahayakan keselamatan pabrik bayi Lisa yang masih ingin mengikuti prosedur cuti bersama.


"Apa kamu lupa? Aku ingin memeriksakan diri ke klinik mister Tong Jay," ucap Farhan mengingatkan.


"Eh, apa tidak ingin belajar mandiri saja denganku?" tanya Lisa memastikan sekali lagi.


"Tidak. Aku penasaran dengan ketidakmampuanku. Mungkin saja ada yang salah."


"Baiklah, aku akan mandi, setelah sarapan kita ke sana."


***


Jangan lupa kacihh vote yang banak ya... biar otakku encer mikirnya.


Eh,


Sudah baca My Baby CEO yang baru belum?🥰