
Klik!
Pintu terbuka, Farhan masuk dengan terburu-buru. "Bagaimana keadaanmu?"
Matanya Farhan tertuju pada Rico, di mana pria itu langsung paham apa isi pikiran bossnya. Ia tahu, pasti sesuatu yang terjadi dengan perushaannya.
"Keadaan saya baik-baik saja, Tuan," ucap Rico menghilangkan kekhawatiran Farhan. Lisa yang melihatnya kesal sendiri, padahal mereka baru saja berdebat. "Apakah ada masalah dengan perusahaan?" tanya Rico peka.
"Lebih dari itu, bagaimana keadaanmu? Apa masih bisa ditinggalkan?"
"Saya bisa menjaga diri dengan baik, Tuan," jawab Rico.
"Bagus kalau keadaanmu baik-baik saja. Aku dan Lisa harus segera pergi ke Singapur untuk melakukan kunjungan dadakan. Ada proyek yang mengalami beberapa kendala. Kau pulang dan istirahatlah, aku sudah menyuruh manager personalia untuk meng-handle semua urusan kantor hari ini. Supir yang sudah menunggumu di bawah, " ujar Farhan pada Rico.
"Baik, Tuan," jawab Rico tak mau banyak komentar. Ia tahu, membantah hanya akan membuat pria itu semakin marah. Walau sebenarnya Farhan sangat membutuhkan perfoma Rico untuk terjun ke lapangan langsung.
Farhan menoleh pada Lisa yang masih terbengong-bengong seperti burung bangau. "Kamu, cepat kemasi barang-barangmu sekarang juga!"
"Iya, Tuan! Saya hanya tinggal mengambil tas saja." Lisa menjawab sigap, ia langsung mengambil tas di meja kerja Rico. Memakainya dan bersiap pergi.
"E-ticketnya sudah kukirim ke e-mailmu. Kita akan berangkat dengan penerbangan terpisah yang perbedaan waktunya sekitar setengah jam. Aku berangkat lebih dulu, nanti kutunggu kamu di bandara," ujar Farhan dengan langkah tergesa-gesa. Tas kerja sudah ia tenteng di tangannya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk segera berangkat.
Lisa menahan Farhan. "Loh, kok gitu?" Wanita merengut kecewa. "Apa kamu ngga sudi duduk bersebelahan sama bawahan kayak aku?" Pikiran Lisa langsung terjun bebas ke hal-hal negatif. Efek masih marah dengan kejadian yang tadi. Amarah wanita itu langsung meninggi seketika.
Bagaimana bisa wanita berpikir negatif seperti itu? Jangan duduk bersama, tidur saja sudah sering mereka lakukan setiap malam.
Dengan sabar, Farhan menggenggam tangan Lisa, lembut. "Ini adalah penerbangan udara kita untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Aku sengaja memilih penerbangan terpisah. Jujur saja, kecelakaan pesawat yang menimpa adikku beberapa bulan lalu masih menjadi luka dan trauma yang mendalam untukku sendiri. Mungkin memilih penerbangan berbeda akan menjadi kebiasaanku denganmu nantinya."
"Kenapa begitu!" Lisa menunggu jawaban Farhan yang lebih jelas lagi.
"Karena aku tidak ingin mengalami kejadian yang sama dengan adik-adikku. Jadi penerbangan terpisah adalah jalan alternatif yang aku pilih. Jika suatu hari terjadi kecelakaan pesawat ataupun pesawat yang kita tumpangi jatuh, kita tidak meninggal secara bersamaan. Setidaknya, masih ada salah satu di antara kita yang mampu meneruskan hidup untuk menjaga anak-anak."
Tercengan. Seketika itu juga Lisa merasa tertampar. Ia tidak menyangka bahwa Farhan setrauma itu dengan kecelakaan pesawat yang menimpa adiknya.
Rasanya pasti sakit sekali menjadi keluarga korban yang ditinggalkan. Mungkin mereka akan takut menaiki pesawat karena kejadian buruk yang menimpa keluarganya. Meskipun kecelakaan pesawat jarang terjadi, tapi semua penumpang yang memilih perjalanan udara adalah mereka yang berani menggantungkan hidup dan matinya. Berserah diri pada takdir Tuhan Yang Maha Kuasa.
Duka mendalam yang di alami Farhan mungkin tak akan pernah pudar, ia akan selalu mengingat kepedihan yang dirasakannya beberapa bulan lalu. Mungkin juga, para keluarga korban yang satu pesawat dengan Reyno dan Jennie merasakan hal yang sama.
Selain ditinggal pergi, mereka juga tidak dapat mengunjungi makam atau tempat peristirahatan terakhir keluarganya. Semua jasadnya hancur menjadi potongan-potongan tubuh kecil. Tenggelam di dasar samudra bersama dinginnya perairan laut di musing dingin.
***
Uhuy jangan lupa vote ya, biar ceritanya bisa naik ke rank 20. makasih banyak semua, buat yang mau vote poin.